Eh itu kayaknya judul yang catatan bang tere liye deh ? ih ngapain sih Liana copy paste gitu ? Tenang-tenang hadirin sebangsa setanah air, sekampung, se rt/rw. Oke -oke saya memang sedang gatal ingin membahas masalah kehilangan ini.
Mendengar namanya saja , ah coba kita cek status-status galau karena “kehilangan ” apapun bentuknya , kita tahu yang namannya kehilangan pasti “menyesakkan”.
berapa kali kita kehilangan ?

sejak kecil kita kehilangan : mainan, sepeda, anting-anting lucu, gelang, boneka super unyu-unyu, robot super canggih, mobil-mobilan dan banyak lagi. Bahkan dalam beberapa kasus yang amat menyedihkan , kita kehilangan orang yang kita sayang……
saya ulang…..

kita kehilangan orang-orang yang kita sayang.
kehilangan teman-teman TK
kehilangan teman-teman SD
kehilangan teman-teman SMP, SMA  , UNIVERSITAS
kehilangan tetangga-tetangga baik kita
kehilangan guru-guru Hebat kita
kehilangan tukang sayur yang biasa leawat, kehilangan Bos baik kita, kehilangan teman-teman nakal kita, kehilangan musuh kita…….
Ah panjang kalau di sebutkan, kalian tetntu paham sudah beberapa kali kalian kehilangan ? ada yang kehilangan orang tua, pekerjaan, mobil, hp, laptop, uang apa saja dehhhhh yang penting “sesuatu” yang biasa kita jumpai, sesuatu yang menurut kita harusnya ada di tempatnya, harusnnya ada di “sini”

sekarang entah kemana, pergi… meninggalkan kita.

sudah berpuluh-puluh kali kita kehilangan, tapi ada kehilangan yang paling menyesakan yaitu

kehilangan atas rasa “kehilangan” itu sendiri.

Tidak mengerti? Sama sy juga awalnya tidak mengerti kalimat aneh (meski bijak ini); membuat sy mikirr lamaa… padahal sejatinya, banyaaak sekali orang yg tidak tahu, tidak sadar, kalau dia sebenarnya telah: kehilangan perasaan “kehilangan” tersebut… tidak peduli; merasa semua baik2 saja… 

Kita kehilangan momen2 indah bersama keluarga; kasih-sayang kepada orang-tua; kedekatan… sibuk dgn hidup, rutinitas, dan teman2 baru yg boleh jd itu tidak hakiki… kehilangan saat2 menyenangkan saat bicara dgn ayah, ibu, adik, kakak… bercengkerama… kita sesungguh kehilangan, tp tidak tahu kalau kita telah kehilangan perasaan “kehilangan” tersebut… 

Kita kehilangan menikmati setiap detik nikmat hidup yg diberikan… setiap tarikan nafas… berdirilah di busway, atau bus2… ketika pagi tiba, tataplah deretan gedung2 tinggi…. apakah akan kita biarkan rutinitas menikam waktu, membiarkan kita tdk peduli ternyata betapa indahnya siluet dinding2 beton berlapis kaca… menatap aktivitas pengamen.. tukang asongan… kondektur yg membunyikan kerenceng uang logam di tangannya… tersenyum kepada orang di sebelah kita… kita tahu persis semua itu luar-biasa.. tp kita membiarkannya hilang.. kita kehilangan perasaan “kehilangan”… 

Dan di atas segalanya… ya Allah.. jangan sampai hamba tidak menyadari kalau hamba telah kehilangan perasaan kehilangan atas kasih-sayangMu… ber-barel2 nikmat dariMu… kesempatan untuk membaca firman2Mu… menunaikan ibadah vertikal kepadaMu.. menyadari sejatinya kehidupan ini dgn merasakan segenap kasih-sayangMu… 

Ya Allah, sejatinya kami kehilangan itu semua… tp yg lebih menyedihkan lagi.. kami sungguh tidak merasa kalau kami telah kehilangan perasaan “kehilangan” hal2 tersebut… dan celakanya, kami kadang justru bangga “kehilangan” pemahaman, prinsip hidup, kerudung yg selama ini sudah kami pakai/laksanakan hanya demi urusan dunia..

*selamat merenung (catatan ini di kutip dari bang Darwis, tapi bagian atas saya yang nulis,point intinya bang Darwis.