*Ayah (rindu yang tak dapat di terjemahkan )


Saya akhirnya menuliskan tentang ini, sesuatu perasaan yang benar-benar membeku , sulit untuk dibahas, bahkan mendengar nama saja membuat hati seperti tak berada di tempatnya. Kosong, kehampaan pasa sisi lain hidupku, sesuatu yang seharusnya ada di tempatnya tapi hanya sisa-sisa yang aku temui. Tulisan ini tidak bermaksud mendurhakai seseorang yang harus kita patuhi, bukan itu maksud saya. Hanya saja…. sesuatu hal memang aku rasakan. Membeku, kehampaan selama bertahun-tahun.


Saya tidak tahu apa namanya kehilangan jenis ini, tidak pernah berhasil menerjemahkan rasa kehilangan yang satu ini. Saya telah kehilangan separuh darah saya, maksud saya seseorang yang harusnya saya panggil “ Ayah “ bicara tentang Ayah, pasti sangat menyenangkan. Tapi saya tidak tahu, bagaimana Ayah saya, Duhai, mendengar suaranya saja tidak,apalagi membuat Kopi untuknya. Tidak, saya tidak pernah merasakan itu. Usia saya sekarang 15 tahun , selama itu saya tidak pernah memanggil nyata sosok Ayah saya. Saya benar-benar tidak tahu saya kehilangan pada sisi mananya. Mama bilang Ayah saya meninggal dunia saat saya masih kecil sekali.


Proses mencari siapa darah saya adalah, sesuatu yang saya tidak pernah lakukan kalau orang diluar sana sibuk melakukan hal itu, mencari Ayah mereka, saya tidak. Hanya makam yang mungkin akan saya dapati. Sungguh, tahu makam Ayah saja tidak. Saya tidak pernah menginjakan kaki di makam Ayah. Selama ini saya tidak pernah berusaha mencari apapun tentang Ayah. Saya tidak bisa menerjemahkan kerinduan yang satu ini, saat seserang yang seharusnya ada di hidupmu, lantas dengan alasan apapun dia pergi. Apalagi jika Allah yang memanggil. Kau bahkan bisa jadi mati rasa , saat sesuatu yang harusnya berhubungan denganmu, memory itu diputuskan dan semua syaraf yang seharusnya berubungan dengan objek cinta  yang seharusnya di terjemahkan dengan baik. Maka saya seperti amnesia, tidak tahu apa-apa tapi merasakan sesuatu hal yang aneh di hati, aneh sekali sesuatu yang tidak pernah bisa di jelaskan.


Beberapa waktu, saya pernah mengenang tentang Ayah, dulu sekali saat saya tidak mengerti tentang ketidakberesan dalam hidup saya. Pembohongan yang amat meyakitkan. Saya hanya mengenang sebentar sebab sisanya hanya penuh dengan kehampaan. Tidak mengerti, saya tidak tahu potongan apa yang hilang dari hidup saya. Saya hanya menatap lemat-lamat jalanan kota, menyasikan cinta Ayah kepada anak-anaknya.


Saya punya Ayah, hanya saja saya menjadi beku terlalu pengecut  untuk mengungkapkan rasa mencintai nya.

Selama bertahun-tahun kemudian, alam bawah sadar saya berujar, Ayah berutang kata “maaf” kepada saya. Maaf untuk perjalanan waktu penuh kesulitan yang saya lampaui sendiri, ketika pada rentang waktu itu saya sangat ingin mengadu kepadanya.
Belakangan, saya mulai berpikir, tidak perlu lagi kata “maaf” itu. Dipikir-pikir, sekelabu apa pun masa lalu, hal itu membawa hikmah di masa kini. Mungkin, jika saya tidak mengalami masa pesakitan sewaktu SD dan  SMP, saya tidak akan menjadi pribadi yang keras tekad . Barangkali, jika tidak memerah mata karena tak tega melihat semua pengorbanan Mama, saya akan menuruti keinginan , seseorang untuk  meneruskan pendidikan di tempat yang saya suka bahkan sampai ke luar negeri. Jika saya mengiyakan tawaran seseorang itu ke saya belum tentu hidup saya masih penuh warna seperti ini.
Kalau saya tidak pernah menjadi gadis bermata sendu dan penulis diary, kesukaan saya terhadap dunia kepenulisan mungkin tidak akan pernah terasah. Jika itu terjadi, mungkin saya tidak akan pernah menjadi penulis. Jika saya tidak pernah menjadi penulis, mungkin saya tidak pernah menyusun tulisan ini
Jadi, untuk kemudian menghadirkan rasa cinta itu, tak perlu lagilah kata “maaf”, ternyata.  Terlebih sekarang, ketika orang tua saya tidak ada. Saya yakin, pada dasar hati yang jauh, ayah memang sebagaimana seorang ayah seharusnya. Mencintai anak-anaknya dengan caranya sendiri.

Tidak ada yang salah dari masa lalu selama itu membentuk kedewasaan seseorang. Saya mulai meyakini itu. Saya tidak lagi menyalahkan siapa-siapa.  Meskipun begitu, saya tidak melakukannya hanya karena argumentasi “bagaimanapun juga dia ayahmu,, darah dagingmu.”
Bukan. Bukan karena itu.
Ini lebih dikarenakan perenungan bahwa setiap peristiwa yang tampak buruk di mata manusia barangkali itu yang terbaik bagi dirinya.
 Seperti itu Tuhan berkata.

* Dibuat dengan kejujuran dan perasaan gamang sepanjang malam. * sebagian kata-kata di ambil dari abang Tasaro yang kuranng lebih bernasib sama.