Surat
Ketika aku menulis surat ini, dari jendela, aku melihat langit penuh awan. Itu adalah jenis awan berwarna putih, tipis, dan merata di semua sisi langit. Keberadaan awan itu menjadikan langit kelihatan sebagai suatu bidang yang mempunyai batas. Sebuah ruang yang terpagari oelh sesuatu. Langit yang seperti itu membuat aku merasa aku adalah seorang penderita claustrophobia. Selama ini kalau aku membutuhkan penghiburan maka aku akan memandang langit. Sesuatu yang begitu luas selalu mampu meredam kegundahan hatiku.

Tentu saja di suatu tempat pasti ada sudut atau ruang yang menjadi batas dari langit, tetapi karena aku tidak mengetahui di mana letak sudut atau ruang itu-bahkan daam renungan paling mendalam dak khayalan paling liar sekalpun aku tidak mampu memikirkan di mana letaknya-maka sekali waktu aku berfikir mungkin luasnya hanya berada sedikit di bawah tidak terbatas. Sekali waktu juga aku berfikir berangkali langit diciptakan begitu luas agar bisa meredam semua hal yang berada di bawah naungannya. Langit yang seperti ini, tertutup awan , sungguh membuatku gelisah , sebab apa yang tidak bisa kita redam harus selalu kita tanggung.

Danar..

Apakah yang bisa akan dilakukan orang ketika dia tidak bisa menghilangakn seseorang dari benaknya sekejap matapun ? Mungkin sebagian orang akan memilih untuk meminta pertanggungjawaban dari orang tersebut, dengan menyatakan misalnya. Bukankah pengakuan adalah cara paling mudah untuk memindahkan beban ? Sebagian mungkin akan memilih untuk diam daja dan menikmatinya. Bukankah tidak ada cara yang lebih khidmat dari diam ? Sebagian yang lain mungkin akan diam-diam menelan obat tidur supaya dapat beristirahat dengan tenang. Bukankah di dunia ini tidak ada orang yang tidak istirahat ? Entah aku termasuk pada golongan yang mana tetapi pada akhirnya aku memilih menulis surat ini. Dengan begitu  mungkin pada akselerasi antara normal dan tidak normal dan tidak normalnya fokus pada pikiranku aku telah memindahkan beban padamu namun mungkin juga aku menyebabkan beban-beban yang berdatangan.

Danar..

Pada apa yang tidak pernah menjadi nyata, apa yang selalu menjadi nyata, apa yang selalu menjadi bagian terlupa dan mekanisme pembentukan kenangan dan apa yang ada bagi satu orang tetapi di saat bersamaan tidak ada bagi orang lain, apakah semua itu akan disebut omong kosong ? Kalau iya betapa sejarah hidupku selalu bergulir dari satu omong kosong ke omong kosong lain. Dengan mengatakan ini mungkin aku telah membuatmu berfikir bahwa hidupku menyedihkan. Tidak, Hidupku sama sekali tidak menyedihkan. Tidak. Hidupku sama sekali tidak menyedihkan. Kurasa aku bisa mendapatkan semua hal yang aku inginkan kalau aku menginginkannya. Masalahknya kini aku tidak lagi meninginkan apa-apa. Aku menyadari bahwa tidak ingin apa-apa ternyata adalah keganjilan dalam kehidupan ini.