Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

May 2013

*Hunusan Pedang ES


· *       Hunusan Pedang ES ( edisi Dy , ah kau -_- )
Pada pertengahan cerita,  sebentar aku menghela nafas dulu “Huuhh “ .

Aku sudah mengira bahwa jeda yang aku buat ternyata bukan sembarang jeda, ternyata Jeda yang sengaja aku buat dengan Dy, adalah sebuah kepersiapan mental untukku,   Dan semua berubah saat negara api menyerangmenerima semua kenyataan yang sudah jauh-jauh hari sudah aku rencanakan , bagaimana cara menyikapi urusan perasaan ini.

Cerita nya begini, seorang kakak yang baik hati sebut saja namanya Putri , entah dengan kemampuan telepati apa, akhirnya dia mengetahui radar yang sedang berputar hebat di jantungku, setelah berbincang cukup banyak Ka Putri mmberi tahu tentang Dy yang sebenarnya. Dan jauh sebelum dia bercerita sepenuhnya, hatiku sebenarnya sudah bisa menebak , dan menurut apa yang dia tuturkan . Aku menarik satu kesimpulan. Bahwa dia memang modus pada semua wanita. Pada matematika modus adalah bilangan atau data yang sering muncul, ternyata di dunia nyata kemosudan adalah perkataan atau gombalan yang sering di ucapakan lak-laki pada setiap wanita.

Oke saya mulai terlihat sedikit memanas, bukan sakit d sekujur badan wahai pembaca, tetapi di sudut terjauh di hatiku, sudut paling gelap. Oke, saya hiperbolik sekali sepertinya.

Anak laki-laki yang baik, tidak akan pernah meneriaki wanita apalagi sampai membuat dia menangis.

Pengalaman ini, merupakan hunusan pedang es buatku, dimana setelah kejadian ini . Hatiku benar-benar akan aku gembok, aku lempar jauh-jauh kuncinya. Aku akan jahat pada ikhwan, lebih jahat dari biasanya.

Camkan ini baik-baik wahai ikhwan pemodus, semempesonanya kau, seperhatiannya engkau. Kalau aku bisa mengendalikan harapan, maka jurus apapun yang kau keluarkan tidak akan mempan, dan aku tidak akan jadi korban PHP mu

Oke, saya memutuskan melupakan, melepaskan, ( sambil latihan tendangan T )

Yang kau lupa ( cerpen edisi masa depan )


0, sorot matanya mulai meredup mendengar perkataan Hasna barusan, seperti apa yang tiba-tiba menusuk batinnya.

“ Kau lupa.. “ Hasna berkata lagi, tatapan yang tadi menunduk mulai menatap tajam wajah pria di depannya.

Danar masih terdiam, dia mengalihkan pandangan . Danar sadar Hasna melihatnya dengan sorotan yang tajam.

“ Yang kau lupa, bahwa kau terus memperbaiki diri , menunggu kepastian tersebut. Yang kau lupa, bahwa aku tumbuh semakin cantik dan dewasa, yang kau lupa bahwa aku mencintaimu selama ini “ Hasna berkata tegas, mata nya mulai memerah. Perasaanya benar-benar berkecamuk.

“ KAU LUPA, BAHWA KAU MEMBERIKU HARAPAN LEBIH. PERASAANKU , SEMAKIN AKU INJAK TUNASNYA TUMBUH SEMAKIN HEBAT, DAN AKU BERKAL-KALI MEMANGKAS HARAPAN ITU, SEMAKIN AKU PANGKAS DAUNNYA TUMBUH  LEBAT TAMPA AMPUN !!!!” Hasna berteriak dengan parau.

Danar tersentak sedemikian hebat, hatinya bergetar . Mata nya mulai ikut memanas, wanita di depannya berteriak melawan suara hujan di luar sana.

Hujan ikut meramikan perseteruan hebat malam itu, suasana semakin memanas dan hati Hasna semakin dingin.

Danar menggigit bibir, gamang berkata apa lagi. Dia sempurna menyalahkan sikapnya selama bertahun-tahun.

Hasna menatap Danar dengan tatapan kosong, mengumpulkan kekuatan untuk berkata lebih jauh lagi.

“ Kau tahu, setiap malam aku menikam perasaanku, berkali-kali aku berusaha menjaga perasaanku , berkali-kali aku menyakinkan diriku untuk tidak berharap padamu. “ Hasna mulai melembutkan suaranya, menghela nafas panjang dan berkata

“ Sempurna , semua nya berjalan menyakitkan selama 6 tahun, semua perasaanku yang tersimpan rapi, akan berakhir malam ini “

Hasna meneteskan dua bulir air mata, percuma dia tahan seperti apa. Air mata itu tetap terjatuh. Danar memundukan kepala nya, dia merasakan sakit yang tiba-tiba menjalar di sudut hatinya.

“ Wanita yang silih berganti datang dikehidupanmu, memberikan dirimu sebuah kepuasaan. Bahwa kau fikir kau bisa menaklukan segalanya ? Kau mungkin benar, mereka semua luluh padamu. Tapi mereka tidak pernah menaruh harapan padamu. “

“TIDAK PERNAH MENARUH HARAPAN PADAMU “ Hasna berkata degan lantang.

Danar masih mematung, semua memory nya bekerja keras menerjemahkan apa yang terjadi selama ini Hatinya ikut menangis.

 Hujan di luar sana, masih turun dengan deras. Hasna terdiam mematung lama sekali, Danar pun juga begitu.

“ 6 novel yang aku terbitkan, apa kau tidak berfikir novel-novel itu selalu terbit setiap kali kau ulang tahun “ Hasna berkata dan tersenyum sinis.

“ kau tidak pernah membacanya , Tidak pernah !!! “

Danar benar-benar sempurna tertusuk pedang Es, selama ini dia memang belum pernah membaca novel-novel yang Hasna terbitkan. Dan dirinya baru sadar novel itu selalu terbit menjelang hari ulang tahunya, novel-novel itu merupakan hadiah setiap hari ulang tahunnya.

Tubuh Danar mendadak kaku, lidahnya kelu tidak tahu harus berkata apa lagi. Dia sempurna merasa bersalah.

Hasna jatuh bersimpuh, menangis terisak, menangis sejadi-jadinya. Malam itu, semua kesabarannya selama 6 tahun retak dan hancur dalam satu tepukan tangan.

“ Maaf, maaf, maaf, maaf, maaf.maaf maaf untuk semuanya ‘’ Danar mulai bersuara, suaranya melemah, kemudian ikut bersimpuh di hadapan Hasna yang telah menangis lebih dulu. Hasna menatap wajah pria di depan nya. Hatinya tidak tergamambarkan lagi bagaimana perasaanya, lelah yang sudah menjalar di hatinya.

“ Aku akan pergi jauh dari kehidupanmu, jauh meninggalkan 6 tahun yang sia-sia dengan bayang-bayangmu. Untuk 6 tahun yang tak pernah engkau hargai, untuk semua pengorbanan diriku yang tak pernah engkau sadari, biarlah aku dekap perasaanku ini, biarlah Allah yang akan membolak-balikan hatiku “ Hasna menghapus air matanya, lalu bangkit dan memasuki mobil, meninggalkan Danar yang masih termenung di sana.

Hasna mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, menerobos hujan yang turun lebat malam itu, air matanya terus tumpah.

# Bidadari itu dekat sekali.

# Bidadari itu dekat sekali.
Tulisan ini aku perembahkan untuk orang yang aku cintai, Mama.
Ma, aku mungkin tidak tahu bagaimana perasaan terdalam dan yang paling dalam di hatimu, tapi aku baru tahu dasarnya saja sudah membuat tubuh ini gemetar teringat akan jasa-jasamu.
Mah, aku tahu sekali barangkali kau adalah orang yang paling lelah di rumah, maaf ya ma, kalau aku belum bisa bantu banyak. Maaf ya mah, kalau nilai alam ku masih jelek.
Mah, terimakasih ya sudah memilihkan nama yang bagus untukku, nama ini indah sekali mah. Mah, aku tahu aku tidak lahir di rahimmu, tapi aku yakin sekali aku tumbuh di hatimu.
Mah, aku barangkali termasuk salah satu jutaan anak yang kehilangan kemampuan verbal untuk menyatakan kasih sayang atau sekedar berterimakasih padamu, tapi tak apa Mah, sebab aku rasa cinta adalah perbuatan yang nyata.
Mah, maaf ya semakin dewasa ternyata aku semakin menyedihkan saja, tapi entah mengapa melihat wajah mu, mendengar degup-degup jantung ketegaraanmu aku seakan-akan merasa tak dekat dengan kematian. Mah, kemarin aku ke dokter, uang hasil kerjaku dari pagi aku gunakan untuk periksa. Dan dokter bilang, penyakitku ini belum ada obatnya Mah. Aku merasa sedih sekali, tapi tak apa Mah, itu bukan pertama kalinya aku dengar, aku mungkin sudah kebal dengan kata-kata itu.
Mah, doakan aku ya Mah, aku mau berusaha jadi wanita yang baik yang bisa mama andalkan, aku mau terus tumbuh di hati mama. Sampai kapanpun.
Terimakasih ya Mah, masakanmu juga nomor satu di Hati.

*Tidak ada yang tidak bisa ( Edisi, termasuk kau dan dia )




*Tidak ada yang tidak bisa ( Edisi, termasuk kau dan dia )

Diam saja, pura-pura tidak mendengar apapun barusan. Berkat pertanyaan bodoh ku, munculah kalimat yang entah kenapa, sejujurnya mendengar nya biasa saja, tidak membuat sesak di hati. Alhamdulilah tidak, hanya saja. Saat macetnya jalanan, aku jadi berfikir lebih keras lagi. Bicara hati lagi kan, tulisan ini bicara tentang perasaan lagi. Ah, sudahlah tak mengapa. Tulisan-tulisan ini barangkali menjadi sesuatu yang bernilai kelak nanti, tak apa. Hanya dengan tulisan ini aku menyampaikan sesuatu yang tidak pernah bisa aku sampaikan lewat lisan.
Dy, aku tidak tahu wanita itu siapa, yang jelas aku tahu dia datang lebih dahulu sebelum aku dan aku mengerti mengapa pada waktu itu kau menulis status seperti itu, itu ternyata untuk dia. Bukan untuk aku, mungkin hanya kondisinya saja yang memang pas, saat kita berkenalan.
Aku semakin tahu Dy, kau ternyata termasuk modus baik terhadap semua wanita. Barangkali itu memang sebuah hal yang biasa yang terdapat pada dirimu, hanya saja setiap wanita menerjemahkannya beda-beda. Aku terlalu menimbun harapan sepertinya, aku masuk ke jurang perasaan. Untung saja Dy, aku sadar sebelum aku Mati dan patah Hati di jurang itu

Dy, yang tidak boleh kau lupa, aku tumbuh seiring waktu, aku akan berusaha memiliki hati yang cantik, dan menjadi seseorang yang membahagiakan dan menyebarkan kebaikan. Aku semakin takut bicara tentang hati, lebih baik aku tulis saja di perahu kertas, dan aku kirim ke entah kemana….
Kau mungkin tidak memebacanya lagi Dy, tulisan ini tidak pernah berniat kau lihat sedikit saja. Tak apa, aku menulis hanya untuk memuasakan perasaanku

*Pada akhirnya (edisi Dy, jatuh hati )



*Pada akhirnya (edisi Dy, jatuh hati )
Jauh sebelum kami tiba-tiba menjadi berjarak begiini,  aku sudah merasakan bahwa dia spertinya menyukai seseorang diluar sana, entah siapa.
Aku tidak mengerti, jujur aku tidak sakit hati atau apalah. Hanya saja , sebuah argumen tiba-tiba melintas di fikiranku.
Seandainya kau tahu Dy,  bahwa ternyata menjadi wanita dan mencintai laki-laki itu terkadang membuat para wanita lebih baik memilih, menjadi seseorang yang dicintai dari pada mencintai.
Kau pahami saja, sedikit perasaaku, ah tapi tak perlu Dy, aku ini siapa?
Aku jadi lemah sekali, tenagaku jadi berkurang saat menuliskan semua ini untukmu. Bukankah, aku selalu menulis tentangmu, tapi aku adalah apa yang tak pernah kamu baca,
Dy, saat  pertama kali perasaanku bermekaran padamu, aku terus meyakinkan diriku, bahwa aku memasrahkan perasaanku ke pada Yang Maha Cinta, aku hanya seorang wanita Dy, perasaan hanyalah perasaan. Aku terus menunggu tampa jenuh, aku menunggu datangnya kepastian tersebut, apakah perasaan itu semakin pudar atau semakin menguat seiring berjalannya waktu.. aku selalu menunggu masa-masa itu.
Aku paham sekali, bahwa mencintai bukan berarti harus mengenggam, rasa-rasanya aku tak perlu harus  takut kehilanganmu . Tidak perlu, aku tahu ada bermilyar lak-laki di dunia ini. Kita tidak pernah tahu kemana hati kita akan berlabuh, jalan kita masih terbentang panjang, aku ingin menjaga kehormatan perasaanku.
Biarlah dy, kau pilih saja calon pendamping hidupmu bagaimana, kau temukan saja dimana hatimu akan berlabuh, tidak ada yang dapat memaska hatimu Dy, tidak juga aku. Aku tidak berhak atas apapun. . atas apapun apalagi ini tentang hati.
Aku lelah, berasumsi yang tidak-tidak, yang jelas simple saja Dy, aku akan terus memperbaiki diri sambil menunggu kepastian tersebut.

*Edisi sesak


Semua berubah saat negara api menyerang.
Bukan, itu hanya judul untk mengalihkan betapa saya saat ini sedang nelangsa sekali, fikiran saya sedang sesak di penuhi asumsi-asumsi aneh. Belakangan ini, jiwa melankolis saya muncul.
Biasanya ritual aneh ketika saya sedang dihimpit beban pikiran adalah minum panadol ekstra atau ke pegadaian yang katanya mengatasi masalah tampa masalah
Mendekatkan diri kepada Maha Cinta ( Allah ) , lebih dekat, lebih dekat lagi lewat dzikir yang paripurna. Terasa semakin sesak kalau teringat jangan-jangan saya datang ke Maha Cinta kalau ada maunya saja ? Ampuni hambamu ini, ampuni, ampuni hambamu ini Ya Rabb ku. Setelah saya mendeketkan diri ke Maha Cinta, saya lebih punya ritual aneh , ketika saya sesak dipenuhi beban pikiran, maka saya memutuskan untuk pergi. Ya pergi, entah kemana. Biasanya saya akan naik busway berkelana tidak jelas, dari Jakarta Timur sampai ke Jakarta Utara, terus balik lagi ke Jakarta Timur, begitu saja terus, dulu saya tidak pandai menyembunyikan wajah sendu saya, begitu saya sedih langsung terlihat sekali, entah habis menangis atau apalah.Tapi ketika memutuskan untuk mempraktekan tersenyum apapun masalahnya, sedikit banyak orang-orang mulai tidak tahu, saya sedang kenapa. Kecuali kalau saya habis menangis dan mata saya berubah menjadi sembab, Allah maha Besar sekali, dia menciptakan  mata saya di design jika sedikit menangis akan berubah sembab, dan otot-otot mata saya ketika memprosuksi air mata barangkali hanya beberapa tetes. Langsung sembab. Saya mudah sekali tersentuh dan menangis, bahkan mata saya sembab ketika menonton drama korea “ Endels Love “ . Setelah saya lulus SMP, saya berjanji untuk tidak mudah menangis lagi. Ya setidaknya, saya tidak secengeng dulu. Saya mulai mengerti betapa air mata saya begitu berharga jika hanya untuk ditangisi oleh hal-hal sempele ( dengan nada kesal ).
Apalagi menangis terkadang tidak membuat kita menemukan jalan, hohoho tapi pada sisi lain, air mata itu perlu. Perlu sekali, ajab sekali dia bisa membuat perasaan kita lega, kebanyakan orang bilang begitu, ketika dia selesai menangis. Saya banyak memendam masalah, saya hadapi dengan kecacatan saya, kalau saya sedang lelah, saya menangis untuk kembali mengumpulkan kekuatan.
Karena air mata dapat membuat kita ingat, bahwa sekali lagi kita ini makhluk lemah, butuh Maha Cinta , butuh Tuhan, butuh dan akan selalu butuh. Saat semua terasa sesak, kita bisa jadi lupa. Bahwa kita memiliki tempat pengaduan dan pengharapan terbaik. . . Terbaik.
Sampaikan, beban yang kita pikul lewat sujud malam, sampaikan rindu itu lewat doa saat pagi datang. Menangis dengan mengingat Tuhan kita.
Selamat menagis….

*Ransel Pertama Dy (betapa suci dan hening )


*Ransel Pertama Dy (betapa suci dan hening )

Pada awalnya aku sudah merasakan, betapa dia akan pergi  jauh, meninggalkan kebiasanya di sini, betapa dia akan pergi beberapa waktu dalam  waktu dekat ini. Aku semakin sesak melihat tanggal , melihat bulan. Aku seperti menunggu masa-masa dimana aku akan merasa kehilangan,  kehilangan sesuatu yang seharusnya aku lihat dan aku rasakan. Betapa aku sangat merasa sedih, ketika dia mulai pamit untuk menyampakan kabar kepergiannya. Aku sangat sedih, tapi tidak tahu bagaimana caranya berekspresi alhasil aku hanya tersenyum simpul, menutupkan segala kegudahan yang tiba-tiba saja melanda. Betapa aku menahan air mata yang entah kenapa tercipta setelah kau berkata demikian, betapa aku mengalahkan perasaanku.

Aku merasa kerinduan itu mulai merangkak mendekati diriku, aku seperti menunggu masa-masa tersiksa dengan kerinduan yang nanti benar-benar akan menjelma, semua senyummu , kacamatamu, suaramu. Aku jadi gamang sekali,

Aku berusaha merindukanmu lewat senyum,

Tadi aku menuliskan kegundahanku, melaporkannya ke Neptunus , aku membuat perahu kertas dan aku hanyutkan ke aliran air, aku masih seperti dulu percaya bahwa Neptunus akan membacanya, walaupun aku tahu apa yang sebenarnya terjadi pada perahu kertas ku, Aku pasrah , aku pasrah seperti perahu kertasku selama ini. Betapa kepergianmu adalah sesuatu kebaikan untuk dirimu, 

Aku merasa kau akan dekat sekali dengan laut, aku akan mengirimkan surat-suratku lewat perahu kertas, barangkali kau akan membacanya.  Jauh di dalam hatimu yang terdalam……..

*Kamu Lagi ?


*Kamu lagi ?


Lagi dan lagi tentang kamu ? Masih kamu ? Ya ya ya ini masih tentang kamu

Barangkali, kamu mirip nikotin yang menyebabkan aku menjadi pencandu. Haha jahat sekali aku berkata demikian,

Dan, malam ini rembulan tampak nya memang masih sama, Rembulan yang sama seperti berabad-abad yang lalu, tapi masalah penguat hati, aku merasa sudah berkali-kali berganti. Dan aku tidak tahu mengapa hati kali ini berlabuh di kamu, lucu sekali kalau mengingat semua tentangmu. Wajahmu, kacamatamu, senyummu, suara baikmu, tawamu. Lantas, mengapa aku jadi penghafal sejati seperti ini ?

Hari ini , aku merasa ada yang lain di fikiranku, tiba-tiba saja aku berfikir buruk tentang hatimu. Aku lantas memeriksa degup jantungku, apa masih normal ? Aku rasa begitu.

Tapi hatimu ? Aku tidak tahu Bang, aku tidak bisa membaca apapun yang berada di relung terdalam hatimu. Tidak, sampai masa itu tiba.

Kau pernah berkata amat lucu sekali, membuat jemariku bergetaran membalas pesanmu, kau bilang dia akan terharu tahu bagaimana setianya aku. Haha kita pada malam itu sedang berpura-pura tidak tahu apa-apa bukan ? Padahal, di hatimu kau tahu itu kamu, dan di hatiku aku tahu itu aku. Lantas, kita berpura-pura tidak tahu, pura-pura yang mengemaskan sekali.

Aku berfikir, bahwa ternyata aku tidak pandai menyimpan rahasia, kalau sudah begini aku pasti gagal menjadi adiknya Fatimah Az-Zahra. Tidak apa, barangkali kedepanya aku akan banyak diam , dan mengadukan kerinduanku lewat sujud malamku.

Terlalu sering berbicara dan mendengar juga tidak baik, karena hal itu suatu hari akan menyakitkan jika ternyata kau meutuskan pergi dan aku jadi seseorang yang ditingalkan. Haha bicaraku semakin hari semakin gila saja Bang.


Sudah ya, aku jadi lelah sekali menunggu kabar darimu, semoga Sang Maha Cinta selalu menjagamu…. aamiin





Djakarta 051413

*Jejak Bisu di Bandung


*Jejak Bisu di Bandung

Khimarku tertiup angin dari jendela kereta, aku menyipitkan mataku, lantas terdiam takzim. Barangkali, aku memang sedang memikirkan sesuatu. Pada waktu itu,beberapa bulan yang lalu, saya ingat sekali betapa gamang nya saya merapikan barang-barang menuju kota Bandung, saya, ayah,mama, kakak laki-lakiku dan kakak perempuanku. Kami semua berangkat ke kota Bandung.

Kota yang tadinya tak pernah mau aku jejaki, hari itu saya merasa terpaksa sekali, setiap hembusan nafas saya sekiranya mengambarkan betapa saya sangat gamang dan gelisah. Betapa saya merasakah luka yang terpendam terbuka lagi. Saya masih teramat sedih bila mengingat siapa saya sebenarnya, mengapa wajah saya terlihat tidak mirip dengan Mama, apalagi dengan Ayah.

Dan saya memang bukan anak yang lahir dari Rahim Mama, rahim wanita yang separuh hidupnya adalah mendidik dan menyayangiku, mungkin ini memang kenyataan yang harus saya relakan. Pada hari itu, kami ke Bandung untuk menemui seseorang yang melahirkanku. Tapi apa dia sebenarnya pantas di panggil Ibu ? Dulu, saat saya masih kecil, saya sempat berargumen bahwa yang pantas di panggil Ibu adalah orang yang melahirkan, membesarkan dan mendidik. Dia melahirkanku , itu tandanya dia memang harus aku panggil Ibu. Seharusnya, aku berani memanggil dia dengan lembut dan penuh cinta. Tapi sayang, aku tidak pernah memanggil apapun, tidak pernah mengeluarkan sepatah katapun. Tidak pernah.

Saat bertemu, tidak ada ekspersi berlebihan dari wajah Ibu, apalagi wajahku. Ya Allah, aku tiba-tiba menjadi kejam sekali, aku hanya menatap dengan tatapan kosong, tatapan polos bisa jadi itu amat menusuk dan menyakitkan di banding marahku.

Saya paham, barangkali Ibu kehilangan kemampuan Verbal nya saat bertemu dengan saya, apalagi saya. Sudah sejak lama saya kehilangan kemampuan verbal saya untuk mengungkapkan rasa apapun, karena sepertinya saya mati rasa. Saya tidak pernah merasakan sakit yang luar biasa seperti ini, mengedap dan berkerak selama bertahun-tahun.Saat saya dan keluarga ingin pamit pulang, Mama memintaku untuk berfoto dengan Ibu dan kedua kakak laki-laki kandungku. Saya menolak dengan keras, tapi Mama terus memaksa,seandainya bukan mama yang memnta , kalau saja malam itu rasa hormatku hilang. Saya pasti akan meninggalkan mereka semua, dan berlari memasuki mobil. Tapi tidak, saya memutuskan mengalah dan berfoto, tampa senyum dan ekspresi.

Apalah guna sebuah foto, tidak ada guna. Apa untuk sebuah kenangan ? saya tidak butuh itu semua, bukankah aku tidak ada pada hidup mereka ?

Bukan karena kehilangan Ayah dan Ibu serta siapa orangtuaku sebenarnya akan membuat hidupku lebih nestapa, sesuatu yang lebih meululuhlantahkan hatiku adalah, bahwa mereka tidak lagi melibatkan namaku dalam hidupnya, tidak mengucapkan apapun ketika Idul Fitri, tidak mengingat tanggal lahirmu, tidak tahu bagaimana menulis namamu dengan benar. .

Mataram, Mei 2013

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑