*Pada akhirnya (edisi Dy, jatuh hati )
Jauh sebelum kami tiba-tiba menjadi berjarak begiini,  aku sudah merasakan bahwa dia spertinya menyukai seseorang diluar sana, entah siapa.
Aku tidak mengerti, jujur aku tidak sakit hati atau apalah. Hanya saja , sebuah argumen tiba-tiba melintas di fikiranku.
Seandainya kau tahu Dy,  bahwa ternyata menjadi wanita dan mencintai laki-laki itu terkadang membuat para wanita lebih baik memilih, menjadi seseorang yang dicintai dari pada mencintai.
Kau pahami saja, sedikit perasaaku, ah tapi tak perlu Dy, aku ini siapa?
Aku jadi lemah sekali, tenagaku jadi berkurang saat menuliskan semua ini untukmu. Bukankah, aku selalu menulis tentangmu, tapi aku adalah apa yang tak pernah kamu baca,
Dy, saat  pertama kali perasaanku bermekaran padamu, aku terus meyakinkan diriku, bahwa aku memasrahkan perasaanku ke pada Yang Maha Cinta, aku hanya seorang wanita Dy, perasaan hanyalah perasaan. Aku terus menunggu tampa jenuh, aku menunggu datangnya kepastian tersebut, apakah perasaan itu semakin pudar atau semakin menguat seiring berjalannya waktu.. aku selalu menunggu masa-masa itu.
Aku paham sekali, bahwa mencintai bukan berarti harus mengenggam, rasa-rasanya aku tak perlu harus  takut kehilanganmu . Tidak perlu, aku tahu ada bermilyar lak-laki di dunia ini. Kita tidak pernah tahu kemana hati kita akan berlabuh, jalan kita masih terbentang panjang, aku ingin menjaga kehormatan perasaanku.
Biarlah dy, kau pilih saja calon pendamping hidupmu bagaimana, kau temukan saja dimana hatimu akan berlabuh, tidak ada yang dapat memaska hatimu Dy, tidak juga aku. Aku tidak berhak atas apapun. . atas apapun apalagi ini tentang hati.
Aku lelah, berasumsi yang tidak-tidak, yang jelas simple saja Dy, aku akan terus memperbaiki diri sambil menunggu kepastian tersebut.