Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

May 2013

* Perahu Kertas

Dear Neptunus

Dear neptunus
Aku mencintainya
Di depannya aku menjadi diriku sendiri. Seperti airmu yang selalu membawa semua pesanku
Dia pun begitu.Membuatku hanyut oleh sorot matanya
Membuatku lupa oleh kesedihan dalam suaranya Sampai aku tak bisa katakan apa-apa padanya
Bahkan untuk sekedar bilang Rindu atau butuh
Banyak yg gak ngerti lalu terluka dan saling menyalahkan
Karna itu aku takut bicara tentang hati
Maka aku tuliskan saja lalu kusimpan dan mungkin kukirimkan ke .. Entah kemana,…

Hidup ini sudah di atur. Kita hanya melangkah. Sebingung dan sesakit apapun, semua sudah di siapkan bagi kita. Kamu hanya tinggal merasakannya saja. Pada akhirnya tidak ada yang bisa memaksa. Tidak juga janji, atau kesetiaan. Tidak ada. Sekalipun akhirnya dia memilih untuk tetap bersamamu, tapi hatinya tidak bisa di paksa oleh apapun, oleh siapapun…

Dee-Perahu Kertas
Have you ever …

Pernah ga ngerasa benci sebenci-bencinya sama diri sendiri?
Kalo saya iya. Sekarang lagi ngerasa muak aja sama diri sendiri. Benci sama kemalasan ngerjain skripsi, benci sama diet yang gagal mulu, benci sama jarum timbangan yang makin ke kanan, benci sama penampilan diri sendiri yang aneh, benci sama skill yang terbatas. Ah maaf Tuhan aku kurang bersyukur ya nampaknya :

Kita memang gak pernah tahu kapan perasaan ini akan muncul, bersamanya mata ini seakan bersinar, melewati hari, walaupun harus ada perpisahan. Tapi cinta itu yang menemukan kembali. Walaupun harus ada yang tersakiti, Tapi hati ini tak akan bisa menutupi. Sakitnya menusuki jantung ini, melawan cinta yang ada dihati

Perahu Kertas

Bersama kamu, aku tidak takut lagi menjadi pemimpi. Karena hanya bersama kamu, segalanya terasa dekat. Segala sesuatunya ada. Segala sesuatunya benar. Dan bumi hanyalah sebutir debu di bawah telapak kaki kita.

Hampa harusnya berarti tidak apa-apa.Tidak apa-apa harusnya tidak ada masalah. Termasuk sakit hati?

Perahu Kertas.

*Mencintai Kelas, mencintai IPA.


*Mencintai Kelas, mencintai IPA..
Rasa-rasanya tulisan ini agak berat untuk diceritakan, tapi entah mengapa saya sedang berfilisofi mengenai Kelas –kelas kita. Ruangan itu bernama “Kelas” nama yang amat sederhana bukan, sederhana sekali. Tapi ruangan itu terkadang membuat tidak nyaman, atau nyaman sekali. Entah, tergantung kita berada pada posisi mana. Berkali-kali saya harus menikam hati saya, memahami semua takdir, bahwa saya benar-benar duduk di kelas IPA.

Bicara IPA , bagi saya adalah bicara belajar mencintai. Saya selalu mengibaratkan bahwa hidup sperti sedang membawa kendaraan, dan untuk kali ini saya banting stir ke kelas IPA, gelap…. hampa…. sedih rasannya. Ketika memulai berjalan di kelas ini.

Pada awalnya, saya sudah yakin sekali bahwa saya akan masuk IPS, niat itu sudah bulat sekali. Tapi, Tuhan berkehendak lain, menakdirkan lain. Saya sempat sesak melihat jam-jam pelajaran berhitung dan logika. Seperti sedang berada di negeri orang lantas mencicipi makanan khas yang sama sekali tidak cocok dengan lidah saya. Pada waktu itu, saya benar-benar merasa saya tidak mampu!.

Barangkali, ini adalah trauma yang sudah menikam pemahaman saya, selama bertahun-tahun. Saya ingat sekali, seorang guru SD telah membuat semangat dan harapan saya patah sekali, amat patah. Dan itu berberkas ke 3 tahun selanjutnya. Saya tidak pernah percaya pada kemampuan matematis saya. Bagi saya , saya masih murid yang Guru saya anggap adalah “Tidak mampu “.

Tapi perlahan kemudian, saya terus berusaha mencintai pelajaran yang berbau hitung menghitung, saya pernah merasa,  saya dan IPA adalah suami istri yang dinikahkan secara terpaksa, tapi pada akhirnya saya meyakini ini bahwa, IPA mungkin bisa mengantarkan saya kesuatu tempat, atau apapun yang bermanfaat bagi orang lan. Saya jadi teringat Ayah saya yang meninggal karena sakit, pada masa itu dokter jarang sekali. Tapi bukan berarti saya lantas ingin menjadi dokter. Tidak, saya tetap mencintai diri saya, mencintai apa yang telah menjadi darah saya. Saya mencintai murid-murid di sekolah, saya mencintai agama saya, saya mencintai dunia tulis menulis. Maka saya tetap ingin menjadi Guru dan berdakwah salah satunya dengan menulis.

Bagaimanapun, IPA adalah salah satu teman menapaki hidup,  saya rasa tidak ada ilmu yang tidak berguna di dunia ini, mungkin saya memang harus berlelah-lelah di kelas ini, belajar mencintai semua yang ada si IPA, terutama Pengaris, saya tidak suka memakai pengaris. Tapi pada akhirnya pengaris memang menjad barang yang penting. Semoga, dengan terus berusaha belajar dan belajar dengan berproses mencintai IPA, suatu hari nanti kelak… saya ingin benar-benar menjadi orang yang berguna di masa depan.

Setiap kali tidak sengaja bertemu guru-guru yang dulu meremehkan kemampuan saya, lantas mereka bertanya saya sekolah di mana ? dan saya akan ditanya mau ngambil IPA atau IPS ? Saya menjawab dengan tersenyum, “Saya sudah di IPA “ lantas mereka akan  tersenyum “Bagus, hebat kamu nak … “

Saya tidak bisa menyebutnya hebat atau tidak, sepanjang saya di kelas itu hanya menjadi supu-supu (Sekolah pulang-sekolah pulang) tidak ada ilmu yang di pahami, Suatu malam saya pernah menangis melihat 11 target hidup saya, salah satunya adalah IPK saya harus  diatas 3,2. Saya membenak, benar-benar harus bekerja keras, berkali-kali saya dimarahi, diremehkan, semua mengangap saya anak yang pandai bukan ? Tidak, sejatinya saya tidak panadai dan saya lebih menyukai   kecerdasan.

Barangkali,belajar mencintai IPA membawa saya pada satu titik kebahagian, Tuhan mempunyai cara yang amat indah untuk mengajarkan sesuatu kepada saya, apa itu kerja keras, kerja cerdas, kesabaran dan doa. Apapun hasilnya, saya adalah tipe orang yang menerima. Semoga keikhlasan itu tetap bersemayam di diri saya, menerima semua apapun kehendaknya. Karena yang terpenting adalah proses bukan tujuan..

Sedikit banyak, kita harus memahami. Bahwa saya rasa kadang untuk menjadi A kita harus melewati jalan B, karena hidup bukan sekedar pilihan. Sebab, jika hidup hanya sebuah pilihan. Bagaimana jika kita ternyata mendapat pilihan ke sekian kalinya. ? Sudahlah, kita tutup catatan ini dengan damai

*Catatan ini untuk kita yang Gak bisa nyerah, karena gak ada kesempatan untuk nyerah..

Mataram, 09-05-13

Tetapi. aku akan tetap menunggu…


Abang, pertama kali kita bertemu . Bagiku tidak ada yang spesial, bahkan saat itu kau terlihat jelas sekali sedang marah. Dan aku jadi takut bertanya banyak hal padamu, seakan-akan ruangan itu benar-benar menjadi beku seketika. Kau lalu, membuka percakapan dengan bertanya. Kau tahu Bang? Aku jadi lega sekali. Ketakutan itu seakan memudar.

Bang, pada dasarnya lelaki itu mempunyai sisi kelembutan, hanya saja beberapa wanita di muka bumi ini selalu mengangap bahwa laki-laki adalah makhluk kuat. Aku baru sadar, bahwa aku memperhatikan wajahmu, kacamatamu, senyum mu. Semua jadi tergambar jelas di memory ku. Aku bahkan pernah, berkali-kali mencoba mengambar dirimu.

Aku mungkin salah , bisa jadi teramat salah. Ketika aku menerjemahkan perhatianmu, karena bagiku itu adalah hal spesial Bang, amat spesialnya bagi seorang wanita. Kita memang berjarak , terbatas. Aku bahkan haram untukmu.

Tapi bolehkah, aku mengagumimu dalam diam dan sujud panjangku. Setiap kali aku membaca pesan-pesanmu, aku  lebih tidak mengerti mengapa ada yang lan di sudut hatiku.

Aku bahkan juga lebih gamang, ketika kau menuliskan sesuatu yang jelas-jelas itu adalah bentuk perasaanmu. Bang, aku sampai detik ini tidak mengerti mengapa hatiku berlabuh, hatiku tidak pernah memilihmu. Sebab, perahu kertas bilang. Hati tidak pernah memilih dia tahu kemana dia harus berlabuh.

Bang, bulan april menjadi indah sekali. Menurut buku botany yang aku baca, bnga-bunga cosmos sedang beremkaran pada bulan ini, indah sekali sepertinya.,,

Bang, apakah perasaanku ini akan tersimpan rapi seperti cinta Fatimah kepada Ali, apa jangan-jangan dugaanku benar, kau tau aku menyimpan perasaan kepadamu ? Entalah bang, tiba-tiba aku menjadi penghafal sejati, lalu apakah sampai selamanya perasaanmu akan sama ? Aku rasa tidak, tapi apapun hasilnya nanti aku akan tetap menunggu.

 Aku akan tetap menjadi wanita yang sama, yang tetap menunggu kepastian tersebut. Kelak jika ternyata engkau memang bukan untukku, setidaknya momen menunggu itu tidak dipenuhi oleh hal-hal yang dapat merusak hidupku dan hidupmu.

Aku ingin terus memperbaiki diri, menjadi wanita yang kelak bisa kau andalkan, yang baik yang akan menghantarkan kita ke surga.
Jakarta, April 2013

*Yang bersemayam di Hati

*55 Senja,Jakarta temaram 

Kau terlihat lucu sekali, saat senja itu . Kita semua bercerita tentang seeorang di dunia maya, ruangan itu buncah dengan tawa. Kau datang lagi Bang, menyelinap ruang di dadaku yang paling dalam. Lantas, semua tawamu, senyummu tergambar jelas dan diterjemahkan oleh syaraf –syaraf ku.
Di sini , di hati.
Terasa indah sekali, suara-suara Abang, membuat aku benar-benar tak dapat menahan tawa.Konflik yang sedang terjadi di dunia maya atau nyata seakan-akan benar-benar menjad gurauan untukmu Bang, kau tertawa lepas sekali.

Dan pulang senja, aku jadi riang sekali. Di macetnya kota aku jadi ingat tawamu itu. Apa aku butuh merekam tawamu ? Haaha.. aku terkadang hampir gila setiap kali mengingatmu Bang


Bahkan saat malam menyapa, aku seringkali masih memikirkanmu, Entah kenapa, baru kali ini aku segila ini. . . 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑