Aku memapah ibu yang semakin terlihat melemah, membantu ibu untuk duduk di kursi roda. Aku menahan segala kepiluan yang merasuki batinku, ibu memegang tanganku dengan erat, tapi aku tahu kekuatannya melemah. Penyakit jantung koroner membuatnya semakin terlihat melemah, aku hampir meneteskan air mata saat mendorong kursi roda melewati bangsal-bangsal rumah sakit.Aku tidak sengeja melihat sosok laki-laki yang berdiri mematung menatapku, dia seperti berempati menatapku, pandangan kita sama-sama bertemu. Aku lantas cepat kembali menundukan pandangan, kembali mendorong kursi roda.

Malam kian meninggi. Untuk kesekian kalinya aku melihat jam ditanganku. Tepat sudah jarum jam ditanganku menunjukkan pukul 10. ah.. pekerjaan ini belum juga selesai-selesai. Deadline-nya pun besok pagi. Jadinya aku terpaksa lembur malam ini. Tapi bukan pekerjaan ini masalahnya. Masalahnya adalah fikiranku yang sejak pulang dari rumah sakit tadi, sehabis menjeguk istri kolegaku yang baru saja melahirkan anak pertamanya- melayang pada sebuah kejadian ketika aku melewati lorong-lorong rumah sakit, aku melihat seorang gadis berjilbab coklat tua yang tengah mendorong ibunya yang tengah duduk lemas di atas sebuah kursi roda. Sekilas aku dan gadis itu sling beradu pandang, meski hanya persekian detik. Sekilas gadis itu tersenyum saat melihatku, dan akupun dengan gugup membalas senyumannya. Itulah yang sejak tadi menganggu fikiranku, dan membuat aku tak selesai-selesai mengerjaka tugas yang menumpuk itu. Senyuman gadis itu seperti meninggalkan sebuah bekas dijidatku. Sedari tadi aku selalu terbayang wajahnya. Aku tak tahu perasaan apa ini.