Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?
-Firasat, Rectoverso-

“Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat”

-Hanya Isyarat, Rectoverso-

Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.

-Peluk, Rectoverso-

Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan karena ketakutannya akan sepi.

-Rectoverso-

Terkadang orang lupa, kebahagiaan yang terlampau memuncak akhirnya bisa melumpuhkan.

-Tidur, Rectoverso-

“Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.”

-Aku Ada, Rectoverso-

Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

-Rectoverso-

‘Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa…’ Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa.

-Aku Ada, Rectoverso-

Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.

-Rectoverso-

Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diri sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri

-Peluk, Rectoverso-

Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki

-Hanya Isyarat, Rectoverso-

“Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.” 

-Rectoverso-



Semoga termotivasi 🙂

i“bagaimana kita bisa tahu sesuatu firasat atau bukan?”


“kamu harus cek ke dalam, dan cek ke luar. pesan yang sama biasanya datang berulang. lewat suara hati, atau gejala alam. dan biarpun pikiran kamu ingin menyangkal, seluruh sel tubuh kamu seperti sudah tahu.’

“lalu… kalau saya tidak suka dengan yang dikatakan firasat saya, lantas apa?”

“kamu hanya perlu menerima. ketika belum terjadi, terima firasatnya. ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. menolak, menyangkal, cuma bikin kamu lelah.”

“perlu saya memperingatkannya? kalau saya kasih peringatan pada orang yang bersangkutan, kejadiannya bisa batal kan?”

“batal atau tidak, yang memang harus terjadi akan terjadi. kalau kamu rasa perlu memperingatkan, pasti kamu akan dimampukan. tapi kalau ternyata tidak perlu, sekuat apapun kamu kepingin, kamu tidak akan bisa.”

“untuk apa seseorang mengetahui sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah?”

“kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu. dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu, untuk apa? untuk apa diberi pertanda jika ternyata tak bisa mengubah apa-apa? Untuk apa tahu sebelum waktunya? memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita yang dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. seringkali firasat justru menjadi siksa.”

Firasat. Rectoverso. Dewi ‘dee’ lestari.
maafkan kisah kita harus berakhir di sini

“…Aku teringat detik-detik yang kugenggam. Hangat senyumnya, napasnya, tubuhnya, dan hujan ini mengguyur semua hangat itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah ke mana. Hujan mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang paling berharga. Hujan bahkan membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin ia pulang. Cepat pulang. Jangan pergi lagi.”

Kemarin, kulihat awan membentuk wajahmuDesau angin meniupkan namamuTubuhku terpakuSemalam, bulan sabit melengkungkan senyummuTabur bintang serupa kilau auramuAku pun sadariKu segera berlari
Cepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagiFirasatku ingin kau tukCepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagi
Akhirnya, bagai sungai yang mendamba samudera,Ku tahu pasti ke mana kan ku bermuaraSemoga ada waktuSayangku, ku percaya alam pun berbahasaAda makna di balik semua pertandaFirasat ini…Rasa rindukah ataukah tanda bahaya?Aku tak peduliKu terus berlari
Cepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagiFirasatku ingin kau tukCepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagi
Dan lihatlah, SayangHujan turun membasahiSeolah ku berair mata
Cepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagiFirasatku ingin kau tukCepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagi
Aku pun sadariKau tak kan kembali lagi

 
 
 

Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?
-Firasat, Rectoverso-

“Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat”

-Hanya Isyarat, Rectoverso-

Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.

-Peluk, Rectoverso-

Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan karena ketakutannya akan sepi.

-Rectoverso-

Terkadang orang lupa, kebahagiaan yang terlampau memuncak akhirnya bisa melumpuhkan.

-Tidur, Rectoverso-

“Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.”

-Aku Ada, Rectoverso-

Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

-Rectoverso-

‘Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa…’ Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa.

-Aku Ada, Rectoverso-

Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.

-Rectoverso-

Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diri sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri

-Peluk, Rectoverso-

Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki

-Hanya Isyarat, Rectoverso-

“Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.” 

-Rectoverso-



Semoga termotivasi 🙂