Oke hello ? apa kabar ? jadi cerita nya gue mau cerita, * kali ini edisi santai tapai serius *
Loe tahu gak, gue sebel banget hari ini, gimana enggak coba ? masa gue kan sang pelajar tapi tarif ongkos naik gak kira-kira , dan temen-temen gue yang bernasib sama  sebagai pelajar yang kena korban, kenaikan tarif angkot . Loe bayangin aja, masa gue yang biasanya bayar 2000 jadi 4000 , lumayan ngenes kan .
Ngenes lah, gue kan lagi gak punya uang. Eh-tapi kalau gue fikir-fikir setiiap apapun yang terjadi kalau loe semua mau meresapi , mau terdiam untuk merasakan pasti ada hikmahnya. Gue mau berbagi…

 **************

BBM naik, apa pendapatmu ? awalnya aku fikir biasa saja, aku merasa masa remajaku tidak perlu diisii dengan hal-hal semacam ini, aku merasa tidak perlu memikirkan negara ini. Tapi setelah menginjakan kaki ke dunia SMA, dan karena semakin peka dan banyak membaca buku. Akhirnya aku memikirkan nasib bangsa ini.
Susah ? Iya, itu pasti yang diraskan semua rakyat di negeri ini, apalagi yang uangnya serba pas-pas san. Kalau untuk orang-orang berdasi di luar sana, aku “tidak” tahu yaa.. Begini, oke ini Indonesia, aku pernah berfikir mengapa aku hidup di negeri yang menyakitkan ini ?ah tak apa . Nanti mungkin aku dan teman-temanku adalah generasi terakhir yang merasakan semua kebobrokan negeri ini, cukup sudah korupsi sampai pada orang-orang tua di parlemen sama. Semoga kedepannya tidak ada lagi korupsi di negeri tercinta ini. *aamiin lah dengan sungguh-sungguh *
Kamu tahu, sebenanrnya saya muak setiap kali melihat koran yang ada di ruang tamu , setiap hari selalu memuat berita-berita buruk tentang pemimpin  negeri ini. Tulisan-tulisan itu selau berbicara apa saja yang membuat sakit hati orang-orang di negeri ini. Well, aku merasa negeri ini banyak dosa. Oke, kayaknya bukan negeri ini. tanah Indonesia tidak pernah salah. Tapi menurut aku “kami” ya ya ya orang-orang di Negeri ini yang salah.
Kalau aku sedang meresapi setiap bunyi klason di macetnya ibu kota, aku seakan-akan melayang dan termiris melihat pengamen anak-anak yang terpaksa mencari nafkah untuk makan mereka. Suara-suara hambar yang bahkan sudah lemah untuk meminta-minta. Dan aku, adalah orang yang membenci aksi kakak-kakak beralmameter yang hanya bisa teriak-teriak di jalan, yang hanya bisa bertengkar dengan polisi *baca mahasiswa* Semua ini bermula saat aku menonton kerusuhan 1998. Peduli apa, mahasiswa sekarang ? Demo hanya sekedar demo, hanya label semanggat kemahasiswaan. Bagi aku, lebih baik mereka semua belajar dengan baik. Yang nanti nya bisa berguna untuk ikut membantu memperbaiki negeri ini.

Oke, itu aja, selebihnya aku sedih dengan keadaan negeri ini. Tapi aku percaya , esok pasti ada harapan dan janji masa depan yang lebih baik untuk Indonesia…