Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

June 2013

Intermezo


Hai, apa kabar.
Sudah lama aku tidak menulis di blog ini.
Sebenarnya aku binggung mau menulis apa, belakangan ini perasaanku . Tidak aku mengerti lagi, bahkan naskah-naskah di notebook ku mengantung lama sekali.
Aku tidak tahu, hal apa yang membuat perasaanku menjadi gamang sekali, aku tidak mengerti. Kemana larinya semua inspirasiku ? mereka seperti hilang.
Apa aku memang butuh JEDA dari semua rutinitas ini, aku butuh liburan ? aku butuh pantai ? Ya, aku memang sedang merindukan itu semua. Tapi, aku sudah berusaha ke beberapa tempat, yang bisa membangkitkan perasaan cinta yang aku perlukan untuk menulis naska-naskahku lagi, aku mungkin butuh berjalan di bangsal rumah sakit ? Aku butuh terdiam takzim di gerbong kereta,? Atau berjalan menyusuri fakultas Sastra ? Aku tidak tahu, kemana aku harus malangkah lagi. Semua inspirasiku seperti hilang. 
 
Dan, entah kenapa aku merasa aku bukan diriku sendiri, seperti ada beban yang tiba-tiba saja menghantui hidupku. Aku tidak tahu apa itu, aku tidak mengenalinya.
Apa itu karena aku sedang dalam keadaan bermasalah ? aku bermasalah dengan diriku sendiri ? Aku benci perasaan tidak mengenal ini, aku benci perasaan tidak tahu ini. Yang jelas, apada jeda yang aku buat bisu, aku merasa kehilangan itu meringkusku.
Membunuh kemengertianku…..

#Tulisan . ka Arif

PROLOG

Alina. Perempuan Pengeja Rasa..

Alina, masihkah kau percaya jika tanda titik adalah penghabisan dari sebuah kalimat kehidupan? Tentu tidak Alina , karna tanda titik hanyalah ibarat sebuah tempat peristirahatan sementara dikala kau ingin menghelak nafas barang sejenak, atau sekedar melepas lelah setelah sekian lama berjalan dan terus berjalan tanpa henti, hanya untuk mengeja sebuah rasa yang sampai sekarang belum kau pahami artinya.

Alina, masihkah kau terus menggenggam erat sepotong asa yang hampir-hampir saja jatuh tergeletak menyusur tanah, saat genggaman tanganmu mulai melemah dan tubuhmu gontai berjalan seperti seorang pesakitan paling rapuh dikehidupan ini. Tentu saja, Alina – kau harus tetap menggenggamnya erat-erat , meski sepotong asa itu bisa menggetarkan sekujur tubuh lemahmu. Kau tidak hanya punya sepotong asa Alina, tapi kau punya berjuta-juta harapan yang suatu saat bisa membuatmu kembali tersenyum manja, seperti sedia kala.

Alina, kau pernah mengatakan kepadaku, kalau kau adalah wanita kuat, tegar dan pantang menyerah. Tapi alina, satu hal yang perlu kau tahu. Sekuat apapun dirimu, kau tetaplah seorang wanita alina. Kau punya sisi lemah yang mungkin tak kau sadari, tapi sisi lemah itu adalah hakikatmu sebagai seorang perempuan yang diciptakan dari tulang rusuk pria. Kau tetap butuh seseorang untuk menopang sisi lemah itu. Dan suatu saat jika kau pahami itu, kau tahu harus pergi menemui siapa.
Alina, bahkan sampai saat kau menghembuskan nafas terakhir, kau tetap tak mampu mengeja rasa itu lewat mulut dan kata-katamu. Tapi bagiku, kau lebih dari mengeja sebuah rasa. Karna kau punya hati yang putih,lembut dan bening seperti mata air yang tak terjamah.

Alina, kau lebih dari sekedar wanita biasa. Aku tahu itu. Bahkan sampai detik ini, aku berharap Tuhan sudi menciptakan wanita sepertimu lagi, meski aku tahu itu takkan mungkin terjadi. Seorang alina akan tetap menjadi seorang alina. Perempuan bernama alina, seorang pengeja rasa. Dan aku adalah satria, yang hendak menunjukkan padamu cara mengeja rasa itu. Tapi sebelum semua itu terjadi, kau hanya tinggal nama, oh Alina.

FIRASAT _ RECTOVERSO

Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?
-Firasat, Rectoverso-

“Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat”

-Hanya Isyarat, Rectoverso-

Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.

-Peluk, Rectoverso-

Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan karena ketakutannya akan sepi.

-Rectoverso-

Terkadang orang lupa, kebahagiaan yang terlampau memuncak akhirnya bisa melumpuhkan.

-Tidur, Rectoverso-

“Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.”

-Aku Ada, Rectoverso-

Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

-Rectoverso-

‘Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa…’ Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa.

-Aku Ada, Rectoverso-

Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.

-Rectoverso-

Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diri sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri

-Peluk, Rectoverso-

Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki

-Hanya Isyarat, Rectoverso-

“Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.” 

-Rectoverso-



Semoga termotivasi 🙂

i“bagaimana kita bisa tahu sesuatu firasat atau bukan?”


“kamu harus cek ke dalam, dan cek ke luar. pesan yang sama biasanya datang berulang. lewat suara hati, atau gejala alam. dan biarpun pikiran kamu ingin menyangkal, seluruh sel tubuh kamu seperti sudah tahu.’

“lalu… kalau saya tidak suka dengan yang dikatakan firasat saya, lantas apa?”

“kamu hanya perlu menerima. ketika belum terjadi, terima firasatnya. ketika sudah terjadi, terima kejadiannya. menolak, menyangkal, cuma bikin kamu lelah.”

“perlu saya memperingatkannya? kalau saya kasih peringatan pada orang yang bersangkutan, kejadiannya bisa batal kan?”

“batal atau tidak, yang memang harus terjadi akan terjadi. kalau kamu rasa perlu memperingatkan, pasti kamu akan dimampukan. tapi kalau ternyata tidak perlu, sekuat apapun kamu kepingin, kamu tidak akan bisa.”

“untuk apa seseorang mengetahui sesuatu kalau memang tidak ada yang bisa diubah?”

“kita tak tahu dan tak pernah pasti tahu hingga semuanya berlalu. benar atau salah, dituruti atau tidak dituruti, pada akhirnya yang bisa membuktikan cuma waktu. dan itu membuat kita kadang bertanya: lalu, untuk apa? untuk apa diberi pertanda jika ternyata tak bisa mengubah apa-apa? Untuk apa tahu sebelum waktunya? memang tidak mudah menerima pertanda, menerima diri kita yang dikirimi pertanda, dan menerima hidup yang mengirimkan pertanda. Firasat tidak menjadikan kita lebih pandai dari yang lain. seringkali firasat justru menjadi siksa.”

Firasat. Rectoverso. Dewi ‘dee’ lestari.
maafkan kisah kita harus berakhir di sini

“…Aku teringat detik-detik yang kugenggam. Hangat senyumnya, napasnya, tubuhnya, dan hujan ini mengguyur semua hangat itu, menghanyutkannya bersama air sungai, bermuara entah ke mana. Hujan mendobrak paksa genggamanku dan merampas milikku yang paling berharga. Hujan bahkan membasuh air mata yang belum ada. Membuatku seolah-olah menangis. Aku tidak ingin menangis. Aku hanya ingin ia pulang. Cepat pulang. Jangan pergi lagi.”

Kemarin, kulihat awan membentuk wajahmuDesau angin meniupkan namamuTubuhku terpakuSemalam, bulan sabit melengkungkan senyummuTabur bintang serupa kilau auramuAku pun sadariKu segera berlari
Cepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagiFirasatku ingin kau tukCepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagi
Akhirnya, bagai sungai yang mendamba samudera,Ku tahu pasti ke mana kan ku bermuaraSemoga ada waktuSayangku, ku percaya alam pun berbahasaAda makna di balik semua pertandaFirasat ini…Rasa rindukah ataukah tanda bahaya?Aku tak peduliKu terus berlari
Cepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagiFirasatku ingin kau tukCepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagi
Dan lihatlah, SayangHujan turun membasahiSeolah ku berair mata
Cepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagiFirasatku ingin kau tukCepat pulang, cepat kembaliJangan pergi lagi
Aku pun sadariKau tak kan kembali lagi

 
 
 

Dunia tidak lagi sama. Hidup ini menjadi asing. Aku sedih untuk sesuatu yang tak kutahu. Aku galau untuk sesuatu yang tak ada. Dan jari ini ingin menunjuk sesuatu yang bisa menjadi sebab, tapi tak kutemukan apa-apa. Pada saat yang sama, seluruh sel tubuhku berkata lain. Mereka tahu sesuatu yang tak dapat digapai pikiran. Apa rasanya, jika tubuhmu sendiri menyimpan rahasia darimu?
-Firasat, Rectoverso-

“Aku sampai di bagian bahwa aku telah jatuh cinta. Namun orang itu hanya dapat kugapai sebatas punggungnya saja. Seseorang yang hadir sekelebat bagai bintang jatuh yang lenyap keluar dari bingkai mata sebelum tangan ini sanggup mengejar. Seseorang yang hanya bisa kukirimi isyarat”

-Hanya Isyarat, Rectoverso-

Hati adalah air, aku lantas menyimpulkan. Baru mengalir jika menggulir dari tempat tinggi ke tempat lebih rendah. Ada gravitasi yang secara alamiah menggiringnya. Dan jika peristiwa jatuh hati diumpamakan air terjun, maka bersamamu aku sudah merasakan terjun, jumpalitan, lompat indah. Berkali-kali. Namun kanal hidup membawa aliran itu ke sebuah tempat datar, dan hatiku berhenti mengalir.

-Peluk, Rectoverso-

Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan karena ketakutannya akan sepi.

-Rectoverso-

Terkadang orang lupa, kebahagiaan yang terlampau memuncak akhirnya bisa melumpuhkan.

-Tidur, Rectoverso-

“Dengarkah kamu? Aku ada. Aku masih ada. Aku selalu ada. Rasakan aku, sebut namaku seperti mantra yang meruncing menuju satu titik untuk kemudian melebur, meluber, dan melebar. Rasakan perasaanku yang bergerak bersama alam untuk menyapamu.”

-Aku Ada, Rectoverso-

Aku ingin membisikkan selamat tidur, jangan bermimpi. Untuk bersamaku, ia tak perlu mimpi.

-Rectoverso-

‘Aku memandangimu tanpa perlu menatap. Aku mendengarmu tanpa perlu alat. Aku menemuimu tanpa perlu hadir. Aku mencintaimu tanpa perlu apa-apa…’ Pesan ini akan tiba padamu, entah dengan cara apa.

-Aku Ada, Rectoverso-

Seseorang semestinya memutuskan bersama orang lain karena menemukan keutuhannya tercermin, bukan ketakutannya akan sepi.

-Rectoverso-

Menahun sudah aku tahu, hari ini akan tiba. Tapi bagaimana bisa pernah kujelaskan? Aku menyayangimu seperti kusayangi diri sendiri. Bagaimana bisa kita ingin berpisah dengan diri sendiri

-Peluk, Rectoverso-

Sahabat saya itu adalah orang yang berbahagia. Ia menikmati punggung ayam tanpa tahu ada bagian lain. Ia hanya mengetahui apa yang ia sanggup miliki. Saya adalah orang yang paling bersedih, karena saya mengetahui apa yang tidak sanggup saya miliki

-Hanya Isyarat, Rectoverso-

“Rasakan semua, demikian pinta sang hati. Amarah atau asmara, kasih atau pedih, segalanya indah jika memang tepat pada waktunya. Dan inilah hatiku, pada dini hari yang hening. Bening. Apa adanya.” 

-Rectoverso-



Semoga termotivasi 🙂

*Coba -coba Duet ( proyek novel duet dengan kak Arif )


Aku memapah ibu yang semakin terlihat melemah, membantu ibu untuk duduk di kursi roda. Aku menahan segala kepiluan yang merasuki batinku, ibu memegang tanganku dengan erat, tapi aku tahu kekuatannya melemah. Penyakit jantung koroner membuatnya semakin terlihat melemah, aku hampir meneteskan air mata saat mendorong kursi roda melewati bangsal-bangsal rumah sakit.Aku tidak sengeja melihat sosok laki-laki yang berdiri mematung menatapku, dia seperti berempati menatapku, pandangan kita sama-sama bertemu. Aku lantas cepat kembali menundukan pandangan, kembali mendorong kursi roda.

Malam kian meninggi. Untuk kesekian kalinya aku melihat jam ditanganku. Tepat sudah jarum jam ditanganku menunjukkan pukul 10. ah.. pekerjaan ini belum juga selesai-selesai. Deadline-nya pun besok pagi. Jadinya aku terpaksa lembur malam ini. Tapi bukan pekerjaan ini masalahnya. Masalahnya adalah fikiranku yang sejak pulang dari rumah sakit tadi, sehabis menjeguk istri kolegaku yang baru saja melahirkan anak pertamanya- melayang pada sebuah kejadian ketika aku melewati lorong-lorong rumah sakit, aku melihat seorang gadis berjilbab coklat tua yang tengah mendorong ibunya yang tengah duduk lemas di atas sebuah kursi roda. Sekilas aku dan gadis itu sling beradu pandang, meski hanya persekian detik. Sekilas gadis itu tersenyum saat melihatku, dan akupun dengan gugup membalas senyumannya. Itulah yang sejak tadi menganggu fikiranku, dan membuat aku tak selesai-selesai mengerjaka tugas yang menumpuk itu. Senyuman gadis itu seperti meninggalkan sebuah bekas dijidatku. Sedari tadi aku selalu terbayang wajahnya. Aku tak tahu perasaan apa ini.

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑