Aku sampai di bagian ini, dan jemariku semakin fasih menulis apa saja tentangmu.

Malam ini aku berbicara pada bintang, tentang  tema kerinduan yang hanya sanggup melintasi langit malam. Bahwa aku, telah kehilangan banyak hal, tapi aku pasrah, apakah aku akan kehilanganmu atau tidak.

Aku tidak ingin terlihat seperti orang bodoh yang memaksakan jalan cerita. Aku hanya ingin menikmati rasa cintaku yang terpendam, bahwa aku tidak pernah berani memiliki kemampuan untuk mengungkapkan padamu. Maaf, ternayata aku sepengecut ini.

Kisah ini akan terasa semakin berat membebani lidah, aku tidak menyangka bahwa sudah genap tujuh tahun  mengagumi dirimu, tujuh tahun untuk waktu bayanganmu. Aku memberanikan diri, memutus urat rasa maluku untuk menceritakan perasaan ini pada kakak perempuanmu yang amat ku kenal. Aku memutuskan menceritakannya walau aku tahu mungkin setelah cerita ini berakhir aku akan menjadi sangat patah. Aku tahu itu,

**********************

“Kak,” kataku mengantung, kakakmu menatapku lamat-lamat

“Aku jatuh cinta “

Suara hujan terdengar semakin sedih mengantarkan cerita ini, aku menarik nafas yang terasa sesak. Dan kakakmu benar-benar memperhatikan mataku, bahwa ada sesuatu yang tertahan di bola mataku, air mataku berkumpul dan siap tumpah.

“Aku jatuh cinta, pada seseorang yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja “

Cerita itu terhenti, air mataku tumpah. Dan kakakmu melihatku dengan rasa iba,

“Aku jatuh cinta, pada yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja “

Kataku mengulang, dan hati kakakmu mulai bergetar, dia wanita aku tahu dia merasakan radar sebagai sama-sama wanita.

“Seseorang itu, aku kenal sejak aku sekolah SMA dulu, aku ingat betul usiaku 15 tahun, dan aku selalu berajanji untuk memendam  perasaan itu, aku terus berusaha memantaskan diri “

Air mata yang sedari tadi sudah berkumpul, kemudan menetes lembut di pipiku. Kakakmu menatapku dengan tatapan yang luar biasa peduli, sementara hujan di luar sana masih ingin menemani cerita yang ingin meledak ini.

“Setiap kali, aku berusaha menepis rasa itu. Ternyata rasa itu bertahan dan mengerak lama sekali, ternyata aku mencintainya dalam diam “

Aku menghapus air mata.

“ Aku tidak pernah berani, bahkan untuk sekedar mengirimkan pesan kepada laki-laki itu, sebab bagiku itu hanya membuat perasaanku semakin patah. Dan, aku memutuskan untuk mencintainya dalam doa, merengkuhnya dalam doa panjangku “

Kakakmu mengusap tanganku,

“Setiap kali fajar datang, dulu saat satu sekolah dengannya aku merasa selalu bersyukur. Bersyukur atas apapun, termasuk mendegar dia membaca al-Qur’an “

Kakakmu tersentak, dia seakan paham bahwa itu adik laki-lakinya.

“Dia … dia ka Sauqi “

Hujan diluar sana bersedih, dan pandanganku aku alihkan ke luar jendela, tangisku pecah di meja itu dan kakakmu ikut meneteskan air mata. Dia berempati atas perasaanku .

“ Alina “ kata kakakmu

“ Kau wanita yang baik “

Aku mengeleng, merasa tidak pantas menyandang gelar tersebut.

“Terimakasih sudah mau mencintai dengan doa untuk adikku “ kakakmu tersenyum

***********

“Qi “ kakak memanggil,

“ Iya “ aku menoleh,

Ka Nira menatapku lamat-lamat dan aku merasa dia akan berbicara serius.

“Kau , apakah sudah memiliki seseorang yang akan kau khitbah ? “ tanya kakakku

Aku terdiam, menerka-nerka apa maksud pembicaraan kakakku ini.

“Ada apa ? “ aku tersenyum di tanya seperti itu.

“ Kau tahu, aku bertemu seorang wanita “

“Aku bahkan menangis mendegar cerita bahwa dia mencintai seseorang laki-laki  yang hanya sanggup dia gapai punggungnya saja “

Aku menelan ludah, sepertinya cerita kakakku serius.

“Wanita itu selama tujuh tahun memendam perasaan, dan selama itu dia hanya bisa mendoakan. Bayangkan, selama tujuh tahun dia memendam perasaan “

Aku masih terdiam, berusaha merasakan apa yang sebenarnya terjadi

“Dia… adik kelasmu saat di  SMA dulu “

Aku tersentak. Adik kelas ? memendalm perasaan selama itu padaku ?

“Maksud kakak ? “ tanyaku gemetar

*******************

“Kamu yakin mau pergi , nak ? “ tanya mama padaku

Aku tersenyum, sambil merapikan beberapa pakaian yang sudah masuk ke dalam ransel besar ini. Aku akan pergi ke luar kota, kesebuah desa untuk menjadi relawan pengajar.

“Ini mimpiku yang tinggal di jemput ! “ kataku,

Mama tersenyum dan melangkah keluar  kamar meningalkan aku di kamar ini, seorang diri.

Aku tiba-tiba teringat buku harianku, aku membawanya dan sempat duduk untuk membuka, aku tersenyum foto laki-laki itu dengan mengunakan jersey bola dan menghadap ke depan, sehingga hanya  tertangkap bagian punggungnya saja. Aku tertawa kecil, setelah mengungkapkanya pada kaka perempuanya. Aku merasa lebih baik dan aku akan siap menerima semua resiko bahwa aku tahu dia tidak mencintaiku…

“  Aku pernah berlari,

Mengejar semua harap..

Di bagian punggungmu aku menemukan cara untuk mencintai,

Aku tidak tahu apa yang nanti akan menimpaku

Tapi, tak apa ..

Aku hanya ingin menejelaskan pada gemuruh ombak, bahwa soal melepas, namun juga soal berpulang “

Ya Allah, aku pasrahkan padamu..

 

P.S : ” Pembaca yang baik hati, jika kalian adalah pengikut setia blog saya pastilah kalian mengerti bahwa tulisan ini di buat ketika saya masih ehhmmm terlalu lebay mungkin. Tapi kalau kalian suka berkunjung ke blog ini mungkin kalian bisa melihat perubahan dari tulisan-tulisan saya. Suatu saat nanti, saya akan membuat cerpen yang berkualitas lebih baik dari pada cerpen ini. Doakan 😀

Advertisements