Tulisan ini menampar dan berbicara padaku,

                    

Judul yag mungkin berlebihan, hiperbolik mungkin. Tapi, memang ini yang saat ini aku alami, tulisan-tulisan yang selama ini aku tulis balik menamparku dengan keras, kemudian benar-benar membangunkanku bahwa ternyata memang ada yang salah. Apa yang salah ? imajinasiku ternyata berbisik kepada Tuhan, imajinasiku ternyata bertengkar dengan otak kiriku selama ini, itulah yang menyebabkan terkadang aku beberapa kali mengantungkan naskahku, aku terlalu memakai teori barangkali karena masuk science dan harus berhadapan dengan rumus kepastian, entahlah masuk jurusan science dapat dijadikan alasan ? Mungkin tidak,  setelah aku renungi di balik jendela kopaja yang mengantarkan aku ke Monas, ya Allah, aku menjadikan imajinasiku menjadi rumus, memaksakan mereka tidak boleh terbang.

Otak kanan adalah bagian imajinasi , kreativitas dan suka kebebasan dan ternyata saya memenjarakan otak kanan ini untuk berjalan di belakang otak kiri yang notabanenya sistematis , menganasis, berpikir dan mempertimabngkan banyak hal.

 

Saya selalu pergi mencari inspirasi, mencoret-coret kertas untuk membuat konsep, Dan ternyata itu merupakan metode yang salah selama ini, yang saya perlukan adalah menulisnya , terus  menulisnya apapun yang melintas di otak kita saat itu juga. Dan saya ? saya menahan imajinasi itu dan membiarkan otak kiri menganalisisnya sehingga otak kanan saya merasa sedih barangkali, “ kenapa dia jadi kantoran begini ? “ barangkali itu yang mau mereka ucapkan padaku.

 

Aku merasa bersyukur sekali, kenapa saya sampai menuliskan hal ini ? sebab saya baru saja  menghadiri sebuah bedah buku yang berjudul “ sehat dan sembuh dengan terapi menulis “ dan penulisnya, yang kebetulan saya kenal dekat. Mengatakan bahwa otak kanan harus berada di depan saat seseorang menulis, sehingga akan menciptakan kefokusan dan imajinasi yang baik. Sehingga naskah-naskah kita tidak seperti pembuatan skripsi yang membuat kita malas dan berfikir keras untuk mencapai titik luar biasa untuk lulus.

 

Saya mendapat buku dan tanda tangan mas Epri, saya gemas sekali dalam waktu 2 jam saya menghabiskan buku ini dan hasilnya kalau saya gambarkan ada yang bisa melihat, pipi saya benar-benar di tampar memerah semua dan saya benar-benar merasa bersalah dengan naskah-naskah saya. Kenapa ? karena selama ini saya menulis dan bertindak menjadi seorang editor, Editor ? bagaimana bisa ? Ya, saya menghapus bagian yang menurut saya “ Ah, koq aneh sih !” “Koq, alay sih ! “ “ Nanti pembaca marah lagi ! “ saya terlalu mengkhawatirkan banyak hal dan berprilaku sebagai editor ini teryata pengaruh dari otak kiri saya yang berada di depan.

 

Kemudan hening,….

 

Saya merapikan buku catatan yang selalu ada di tas saya kemanapun saya menjauh dari hiruk pikuk Jakarta, dan saya merasa sedih dan terpukul , tapi pukulan ini pukulan yang positiv dan saya berjanji tidak akan menjadi edotor untuk naskah-naskah dan tulisan saya sebelum semuanya selesai, dan saya akan berusaha otak kanan saya berada d depan, dan saya akan berusaha keras novel saya selesai bulan juli. InsyaAllah…

 

Dan tamaran keras ini, adalah kado dari Allah , sebabbulan  Juli ini saya ulang-tahun. Saya tersenyum, Allah terlalu banyak memberi hadiah, bahkan tampa perlu ada ulang-tahun.

 

Dan terakhir, ini point penting dalam kepenulisan , supaya imajinasi kita berada di garda terdepan

1.       Menulislah selama enam menit

2.       Tuliskan apa saja yang melintas dan jangan “ menganalisisnya “

3.       Jangan melakukan editing ( biarkan saja huruf ada yang salah, editing dilakukan setelah selesai menulis )

4.       Jangan membiarkan otak kiri di depan

5.       Dan cintai apapun yang kita tulis

 

 

Semoga bermanfaat, salam perjalanan rasa…..