Hanya Isyarat

Aku mencintainya, namun aku hanya bisa menatap punggungnya saja. Mengenalnya lewat isyarat gerak meski waktu begitu dekat mempertemukan tubuhku dengan tubuhnya. Berkeliaran semenjak perjalanan panjang di tepian pantai menjadi isyarat untuk mengembara pulang pada satu hati yang setia. Disini, cinta baru memulai cara kerjanya yang sederhana, ajaib dan kita tak pernah tahu pada hati siapa cinta akan bertegur sapa dan mempertemukan perjalanan-perjalanan sunyi ini di ujung perjalanan tanpa kabar nantinya.

Aku mencintaimu, namun aku hanya bisa menebak-nebak warna matanya. Mencoba merasakan setiap getar di tubuhku. Menjalar hingga aku baru mengerti bahwa cinta masih mengirimku sejumlah isyarat untuk tidak merasa kagum pada apapun yang menjadi indah di ujung jalan ceritanya. Kita akan menepi, membaca sebagian luka atau lupa tentang pertemuan-pertemuan sederhana kita. Saling berkirim isyarat semenjak perjalanan kita mendadak dekat dan tak lagi jauh. Kini, aku tahu warna mata lelaki pengirim isyarat itu. Lelaki yang membuat cinta di sekujur tubuhku bekerja dengan begitu indah dan sederhana seperti biasa. Warna mata lelaki itu cokelat, dan kau tahu itu sudah membuat perjalananku cukup. Bahwa aku mencintai lelaki pengirim isyarat itu. Lelaki bermata cokelat yang pernah berkisah tentang perjalanan hidupnya di dunia yang baru.

Lelaki yang sampai kapan pun akan terus menggetarkan usia langit nan tua atau bumi yang semakin pikun. Lelaki yang isyarat-isyaratnya begitu sederhana dan lembut sesederhana bisikan angin, ombak, laut, langit serta bumi. Dan di sini, aku bisa merasakannya begitu dekat. Meski, hanya lewat matanya yang cokelat aku membaca sejumlah isyarat indah tentang perjalanan pendek ini.

Ah, lelaki bermata cokelat yang sejumlah isyaratnya adalah cara kerja cinta paling ajaib telah membawa satu per satu kepingan perjalanan ini terlalu indah untuk dipahami dan dimengerti. Meski kita tak pernah tahu, sampai kapan Tuhan mengajak kita bicara lewat isyarat cinta di tepi mata cokelatnya, atau kita akan mencari tahu sendiri bahwa cinta pemilik mata cokelat itu selalu utuh dan hanya akan diberikan pada perempuan yang sedari tadi memandang wajah teduhnya, sambil sesekali menyesap sisa bir di depan meja para tamu.

Mungkin, ini hanya isyarat yang harus kupahami segera. Isyarat yang telah membawa lebih banyak perjalanan terkenang di sepanjang jejak perjalanan kita. Atau kita akan menenun sepi, membiarkan isyarat-isyarat ini berkumpul dan menjelma menjadi satu rasa, yang sampai kapan pun kita takkan pernah tahu tentang rasa yang terkumpul dari sejumlah isyarat-isyarat sepi.

Disini, kita masih mengeja isyarat itu. Lalu membacanya dan mengulangnya beberapa kali. Ini hanya isyarat saja. Duduklah sebentar, dan percayalah !

dari: huruftakterbatas.wordpress.com