*********************************

Pada akhirnya , aku tahu aku harus pergi jauh . Dan subuh tadi bis yang membawa rombongan teman-teman pengajar ini sudah mulai melaju, aku hanya memandang kosong jalanan dan sinar rembulan yang masih sanggup bersinar, subuh yang indah.

“Lalu , bagaimana nanti jika kau bertemu dengan lali-laki itu ? “ pertanyaan teman sebelahku mengancurkan kehingan, aku lantas mulai memperbaiki posisi duduk, melihat wajah teman disampingku yang terlihat amat penasaran.

Aku menarik nafas resah “ Tidak tahu, toh selama bertahun-tahun dia hanya melewatiku “

“Terlihat menyedihkan “ taggapnya

“Sepertinya.. “

“Apa kau tidak mau berpindah kelain hati ? “ tanyanya polos,

Aku tersenyum, “Bagiamana caranya ? bahkan setiap hari aku selalu mencintainya ! “

Teman sebangkuku tertunduk kemudian menatapku lamat-lamat, aku hanya tersenyum memaksa.

“Cinta yang menggagumkan, aku suka jalan ceritamu “ katanya sambul tersenyum

**********************

“Alina.. “ kata kakaku,

Aku terdiam mencoba mengingat siapa saja orang-orang yang bernama Alina, dan aku menemnukan satu sosok ya, sosok yang sering aku temui setiap selesai shalat di mushola universitas, dia adik kelas SMA ku dulu, dia sering berpergian dengan adikku Shafa dan tentu saja da mengenal ka Maziy yang sedang menjelaskan padaku.

“Dia.. “

“Iya dia dia orangnya, kemarin malam dia menemui aku dan menjelaskan betapa dia tidak harus menggungapkan pada siapa lagi, dia tahu kau jatuh hati pada seseorang “

***********************

Dimanapun kamu, setelah kamu menheratuhi pesan itu sampai, meski tampa aku di belakang mu lagi,meski tampa aku yang sudah tidak sanggup menikmati bayangan punggunngumu lagi, semoga kamu tetep baik-baik saja, doaku dalam hati

Aku menghela nafas perlahan, di desa ini malam sudah menjemput, dan lihatlah malam pertama di desa ini, aku memutuskan untuk menulis buku harianku lagi, sementara teman-temanku yang lain sedang merapikan barang-barang mereka, sebagian lagi ada yang membuat masakan.

“Apa kau baik-baik saja ? “ aku mengangkat kepalaku bertanya pada hatiku sendiri, berharap kau menjawabnya. Tapi aku sedang berkhayal.

“Eh, nulis apa sih ? “ temanku Neta mengejutkanku, dia membawa sekotak kue dan menaruhnya di hadapanku, berharap aku akan mengambilnya.

“Biasa,catatan harian “ kataku simple lalu menutup buku harianku

********************

 

“Kakak, ada perlu apa ? “ seorang adik kelas yang sekarang menjabat ketua dakwah kampus bertanya natusias, melihat kehadiranku di kampus.

“Ini kakak butuh informasi ! “

“Informasi apa ka ? saya siap membantu “

“Bisa kakak lihat data-data seorang wanita yang baru saja lulus tahun ini, namanya Alina dia ikut dakwah di fakultas ilmu budaya, apa kau mengenalnya ? setahuku dia aktiv “

“Oh, ka Alina yang sempat menjabat menjadi ketua keputrian itu, iya saya kenal . Alhamdulilah masih ada ka, data-data almuni di sini “ Adik keals laki-laki ku bergegas mengambil berkas-berkas yang lumayan tebal, aku tidak sabaran membukanya. Dan aku terdiam lama, memutuskan mengambil segala biodata Alina dan berpamitan lantas bergegas pergi menuju fakultas ilmu budaya.

************

Sudah tiga hari aku dan teman-teman relawan di desa ini, suasana desa ini aku sangat suka , tenang sejuk dan aku menyukainya kerena letaknya tidak jauh dari pantai, membuat soreku selalu dihabisakan di sana, menikmati senja dan menuliskan apa saja tentang dia. Aku tidak mengkabarkan apapaun kepada ka Maziy yang berkali-kali bertanya kabarku. Aku belum sanggup membicarakn apa-apa lagi setelah malam itu.

“Apa yang kau rasakan saat tahu dia mencinta wanita lain ? “ tanya teman sebnagkuku menyelidik, sama seperti di bis dia begitu antusias mendegar semua cerita-ceritaku.

“Tidak ada, Hampa. Dan hampa seharusnya tidak apa-apa dan tidak apa-apa harusnya tidak ada masalah, termasuk sakit hati ? “

“Itu terllihat rumit “

Hening sejenak, aku memantung memandangi pantai di sore hari

“Apakah kau menyesal ? “

Aku menyeka ujung mataku. Mengeleng lemah , “Kau tahu, saat itu akhirnya aku menyadari bahwa aku sepertinya tidak bisa melanjutkan hidup dengan aura seseorang yang terus melekat selama bertahun-tahun “

************************

“Kamu terlambat , nak “ kata wanita yang nyatanya adalah ibu dari Alina,

Aku menggigit bibir, bernafas resah.

“Maukah, aku tunjukan sesuatu ? “ Ibu Alina membawa aku ke sebuah kamar yang spertinya tak lain itu adalah kamar Alina, aku tahu karena tulisan tu jelas tertempel di puntu kamar.

Kamar Alina penuh dengan buku-buku dan aku sempat heran kenapa da stiker klub Arsenal tertempel di sebuah lemari, apakah Alina menyukai Arsenal ?

“Dia tidak pernah berbicara apapaun mengenai perasaannya, tapi aku ibunya, aku tahu dia memendam perasaan pada seorang pria dan itu kamu “

 

Ibu Alina menydorkan tujuh buku harian yang tebal-tebal sekali, “Baca semua itu ! “

Setelah perjumpaaan singakt dengan ibu Alina, sambil mengendarai mobil dan melihat resah setumpuk buku harian yang berada persisi di sampingku, aku mengendarai mobil dengan kecepatan tinggi, mencari temapt terbaik untuk membacanaya. Urusan ini tidak mudah.

*****************

“Dulu, waktu aku masih satu sekolah dengannya dan masih satu kampus dengannya, aku tidak pernah berharap dia akan menoleh ke arahku setiap kali aku hanya sanggup menikmati bagian punggungnya dari kejauhan, berusaha mendegarkan suaranya yang hilang ditiup angin “

“Bagaimana jika sekarang dia sedang berusaha mencarimu ? “

Aku terdiam, mengusap wajah kebas

Ombak semkain kencang menghantam bebeatuan pantai,

 *************************************

TIGA  BULAN KEMUDIAN

 

 

 

 ***********************************

Memeluk mama, semua anggota keluarga menyambutku pulang, tugas menjadi relawan sudah selesai dan aku sanagt behagia bisa bertemu dnegan keluaragaku lagi.

Malam ini, mama datang ke kamarku berusaha membantu merapikan. Lantas ketika sudah rapi mama terdiam emnatapku

“Dia datang mencarimu , nak “

Aku hanya diam, Lihatlah, barusan aku mendengar mama bahwa dia mencariku ? ini pasti ilusi

“Dia datang mencarimu, nak sungguh “

Aku menatap mata mama kosong, air mataku tumpah seketika kemudian memeuk mama dengan erat,

“Ini surat darinya ,beberapa hari yang lalu “

Aku gemetar  menerimanaya dan lihatlah sungguh aku tidka sanggup membaca nya, mama memeutuskan keluar dari kamar membiarkan putrinya membaca surat dari laki-laki yang dia cintai.

 

 

Kepada : Alina Hasna

 

Aku datang menjemput buku-buku harianmu, dan aku tidak tahu harus meneuliskan apa setelah membaca semuanya, Alina aku tidak tahu bahwa selama bertahun-tahun ada doa-doa indah yang dikirim ke langit melindungiku, dan aku sekarang tahu doa-doa itu adalah doamu.

Alina, maafkan aku , bahkan aku tidak bisa membaca isyaarat yang kau berikan sehalus mungkin. Aku sering menyadarimu berjalan di belakangku lantas kau akan menbuang wajahmu setipa kali aku tidak sadar meilhat dirimu.

Alina, aku tidak menyangka bahwa memendam perasaan sesakit itu ? kesedihanmu kau ubah menjadi ambisi untuk memaksakan diri masuk ke Universitas yang ada aku , dan kau terus berusaha mengapai bayanganku tampa pernah aku sadari selama bertahun-tahun.

Terimakasih atas doa-doa tulus itu, dan aku berjanji akan datang melamarmu,

Akan aku jadikan kau bidadari-bidadari surgaku,

 

Tertanda : muhammad Sauqi