Ceritakan padaku bagaimana cara mengapai awan dengan lembut

Ajarkan aku bagaimana cara terpejam dan menikmati embun yang baru saja menetes pasrah.

Dan kabarkan padaku bagaimana memijakan kaki pada pijakan yang membuat tubuh akan tegap berdiri di garda terdepan,

Katakan, bagaimana caranya Bang ?

Sementara hatiku mendadak rindu dengan gunung-gunung yang hanya dapat aku gapai sebatas foto-foto mu saja,

Lihatlah, bahkan aku hanya mendekap kakak perempuanku pasrah saat dia begitu anggun dengan ransel yang teramat berat di pundaknya, pergi mendaki tampa aku.

 

 

 

Sementara imajinasiku hanya dapat berkelana pada senja sore yang membisikan mimpi-mimpi

Puncak tertinggi di pulau jawa,

Sementara subuhku mengigil karena rindu bukan kepalang  ingin merasakan hangatnya Mentari yang bersinar di bukit Tursina,

Katakan padaku Bang ?

Apa saja yang Alam ajarkan padamu, apakah alam mengajarkan hakikat paling dasyat dari ‘bersyukur’

 

Dan Alam, telah mencetak para pendaki yang bijak sepertimu

Yang menghayati dan menjiwai setiap jejak pada dedaunan kering yang kau tinggalkan

Pada air mata karena terharu bahwa kakimu mampu menaklukan sejuta ‘ketidakmampuan’ yang menghasut di tengah perjalanan.

Dan Alam , telah menjadikanmu dan kawan mendakimu menjadi erat sekali, mengurai tawa dan memcah air mata bersamaan.

 

Ajari aku,

Bang…

Bagaimana Alam

Mengajarimu kearifan luar biasa.

 

 

*untuk “Kemauan Yang Lurus “