Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

August 2013

Tulisan Soe Hok Gie, yang saya suka :)

puisi cahaya bulan – soe hok gie

 

akhirnya semua akan tiba pada suatu hari yang biasa
pada suatu ketika yang telah lama kita ketahui
apakah kau masih selembut dahulu
memintaku minum susu dan tidur yang lelap
sambil membenarkan letak leher kemejaku
 
kabut tipispun turun pelan-pelan di lembah kasih
lembah Mandalawangi
kau dan aku tegak berdiri, melihat hutan-hutan yang menjadi suram
meresapi belaian angin yang menjadi dingin
apakah kau masih membelaiku semesra dahulu
ketika kudekap, kau dekaplah lebih mesra
lebih dekat
apakah kau masih akan berkata
ku dengar detak jantungmu
 
kita begitu berbeda dalam semua
kecuali dalam cinta
 
cahaya bulan menusukku
dengan ribuan pertanyaan
yang takkan pernah ku tahu
dimana jawaban itu
bagai letusan berapi
bangunkan ku dari mimpi
sudah waktunya berdiri
mencari jawaban kegelisahan hati
 
Puisi bang Gie lagi :
CINTA
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berziarah ke Mekkah
Ada orang yang menghabiskan waktunya untuk berjudi di Miraza
Tapi aku ingin habiskan waktuku disisimu, sayangku
Bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu,
Atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah Mandalawangi
Ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di Danang
Ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra
Tapi aku ingin mati disisimu, manisku
Setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
Tentang tujuan hidup yang tak satu setan pun tau
Mari sini, sayangku
Kalian yang pernah mesra, yang pernah baik, dan simpati padaku
Tegaklah ke langit luas atau awan yang mendung
Kita tak pernah menanam apa-apa
Kita tak pernah kehilangan apa-apa

( Selasa, 11 November 1969 )

 
ada orang yang menghabiskan waktunya berziarah ke mekkah
ada orang yang menghabiskan waktunya berjudi di miraza
tapi aku ingin habiskan waktuku di sisimu sayangku

bicara tentang anjing-anjing kita yang nakal dan lucu
atau tentang bunga-bunga yang manis di lembah mendala wangi
ada serdadu-serdadu Amerika yang mati kena bom di danang
ada bayi-bayi yang mati lapar di Biafra

tapi aku ingin mati di sisimu sayangku
setelah kita bosan hidup dan terus bertanya-tanya
tentang tujuan hidup yang tak satu setanpun tahu

mari, sini sayangku
kalian yang pernah mesra, yang pernah baik dan simpati padaku
tegakklah ke langit atau awan mendung
kita tak pernah menanamkan apa-apa,
kita takkan pernah kehilangan apa-apa”

(Catatan Seorang Demonstran, Selasa, 11 November 1969)

 
Advertisements

Arif Budiman : Om, penggalau ..

Dia memberi judul tulisan-nya “Alina, gadis pengeja rasa “

 

Yang kalau aku berkenan untuk GR, maka nama Liana jika dilbalik-balik sedemikian rupa adalah Alina, saya berani jamin dia mungkin tidak tahu bahwa saya benar-benar kepo alias stalker sama dunia maya-nya, atau tahun-tahun sebelum kita bertemanan, keinginan tahu-an saya akan seseorang, bagaimana sikap dan pemahaman-nya mudah saja, lihat tulisan-nya, maka Dunia Facebook adalah jawabannya,

Saya menemukan sahabat penulis yang saya panggil dengan sebutan paling romantis , yaitu ‘Uda’ bahkan terkadang ‘Om’ tidak dapat saya pungkiri, usia kami berbeda jauh, cukup katakan saya muda dia tua..

 

Semua percakapan kami , berawal dari kegilaan saya mengirimkan pesan kepada seseorang bernama ‘Arif Budiman’ yang sering lewat di beranda facebook saya, menuliskan berbagai sajak dan kalimat puitis, saya iseng kepo- saya lihat informasi profil-nya, uda Arif, mencantumkan bahwa dia ‘musafir’ karena saya saat itu rada-rada gila, maka saya inbox lah dia

 

“Kakak perantau ? “

“Bukan “

“Oh kirain “

“Emang kenapa ? “

“Mau minta doa, kan doa musafir pasti dikabulin “

“Enggak bukan, “

 

Dengan polos-nya saya inbox seperti itu, dan selang beberapa minggu entah bagaimana akhirnya kami bisa kenal, saya adalah orang yang mudah bergaul dengan siapa saja, asalkan seseorang itu masih nyambung untuk saya ajak komunikasi, selama ini pertemanan kami di dunia maya hanya sebatas itu-itu saja, hanya sebatas puisi-puisi galau kami yag sering bertengger di beranda sebagai pengungapan kerinduan yang masing-masing kami miliki kisahnya, uda dan saya sama-sama jauh hati pada seseorang tapi hanya sanggup menuliskan nama-nya pada puisi, sebab mereka adalah bintang-bintang, kami adalah penganggum rahasia.

 

Uda, begitu dia saya panggil, setiap kali saya memanggilnya saya merasa lapar sekali dan mendadak ingin makan nasi padang,  bulan ini tampaknya istimewa untuknya sebab, ini adalah bulan dimana dia dilahirkan di muka bumi, bulan dimana Ayah-nya merapalkan azan penuh dengan kedamaian di telinga yang dulu suci dan bersih.

Saya memang tidak pernah bertemu, hanya melihat photo profil uda, yang menurut saya wajah-nya lumayan, ya lumayan ngeselin maksudnya.. hehehe

Yang saya tanggap sebatas melihat photo-nya saja, bahwa dia berwajah serius, saya pernah memintanya untuk berfoto pose alay, dia malah bertanya bailk , ‘’foto alay itu kayak gimana ?”

 

Sejak kami berteman baik, kami lebih mirip teman satu fakultas sastra, sebab puisi-puisi dan tulis menulis lebih sering kami bahas, pernah saya mengajak uda untuk berekerja sama dan duet menulis novel, tapi maaf sekali keinginan itu belum tercapai sampai sekarang dikarenakan beberapa kendala.

Belakangan saya menarik kesimpulan secara garis besar, bahwa selama kami berteman. Uda adalah sosok laki-laki yang menurut saya pendiam, dalam berbagai hal dia jarang bertanya, sementara saya adalah orang yang dipenuhi pertanyaan, pernah suatu ketika saya kesal sekali, dengan jawaban chatting kami, yang paling sering membuat saya kesal adalah jawaban chatingnya yang hanya dengan ekspresi emotikon, dan jarang ada tulisan bagi saya itu sangat mengesalkan, sebab bagi saya menunggunakan handpohone layar sentuh bukan perkara yang mudah untuk menulis, belakangan saya paham dan mula mengurangi pertanyaan2 gila saya, …

 

Tapi saya lebih sering dibuatnya terpana dengan tulis menulis puis yang ia buat, bagi saya indah sekali. Dan secara garis besar puisi-puisi nya bercerita tentang kerinduan dan penantian, uda juga orang yang menurut saya ramah dan sedikit frontal, belakangan ini dia menulis nama seseorang yang ia suka di depan puisi-nya, saya tidak tahu apa jadinya jika wanita yang ia suka mengetahui hal itu, tidak penting , itu urusan uda.

 

Dia sekarang masih sibuk dengan puisi-puisinya, dan dia adalah orang yang pertama kali mengirimkan saya paket berupa sebuah buku yang luar biasa bagusnya, dan dia adalah seseorang yang pertama kali menerima kiriman paket dari saya, sebuah buku yang galau sekali.

 

Dia mencintai Tanah Minang, mencintai kebaikan yang ia temukan pada kehidupannya, dan saya tahu betapa dia adalah sosok lelaki yang mencintai Ibu-nya,

Uda, ini adalah tulisan sederhana yang dibuat dengan kegilaan, saya hanya ingin berucap :

 

“Selamat ulang tahun…. om selalu jadi yang terbaik di dunia maya,  semoga ujian CPNS om berhasil, .. “

 

Salam puisi dari adikmu : ….

 

                                                                                                                                Padang, 22 Agustus 2013

Kita berbicara tentang pelepasan : Kay and Juna Story’s

 

Pagi aku pantai adalah tempat yang paling menabjubkan, aku duduk di depan ombak yang bergulung mesra, menikmati dan menunggu senja datang menjemput.

“Kamu, saya perhatiin ada di sini terus ? nginep ya ? “ sebuah pertanyaan memecah kesendirianku, aku menoleh kaget, seorang wanita.

“Ha? Ee.. i.. ya “ jawabku gugup

“Tapi aku gak nginep, rumahku gak jauh dari sini “ kataku menjeleskan dan bangkit dari duduk.

Wanita itu tersenyum, rambutnya di belai angin pantai, wajahnya putih dan berlesung pipit, cukup manis.

“Enak ya, rumah-nya deket pantai bisa kapan aja mau ke sini, “ katanya dengan nada iri

Aku menganggukan kepala, tersenyum tipis.

“Aku iri sama kamu, sementara aku kalau mau kesini harus nunggu liburan panjang ! “ kata wanita itu menjelaskan , lalu dia mulai duduk di depan ombak, mengambar-gambar tidak jelas di pasir

“Oh, kamu lagi libur ? “ tanyaku

“Iya, libur satu bulan “

“Nama kamu siapa ? “

“Kay “

“Kamu ? “

“Juna“

“Nama nya bagus, “

“haha,, nama kamu juga ! “

Itu adalah awal dari pertemanan kami, Kay belakangan aku ketahui bahwa tente-nya tinggal di kota ini, dia senang berlibur ke pantai ini, dia sangat menyukai pantai sama sepertiku.

Karena kuliahku juga sedang liburan juga, aku banyak menghabiskan waktu di pantai bersama Kay, aku senang karena tidak sendirian lagi menikmati senja, Kay anak yang cerewet sekali menurutku, dan bertanya banyak hal. Tapi aku tahu dia cerdas.

“Kamu kenapa ngambil jurusan sastra kay “ tanyaku

“Soal-nya aku suka menulis, dan yang lebih keren itu sastra gak ada Matematika-nya “ jawabnya polos

Kami tertawa,

“Kamu kenapa ngambil jurusan ilmu kesehatan masyarakat ? “

“Ya, karena gagal masuk kedokteran “ jawanku sedih

“Kasihan ya kamu, “

“Kamu juga kasihan “

“Yeee.. kamu yang kasihan “

“Kamu-lah “

Aku dipukul Kay mengunakan ranting pohon , tidak sakit justru aku tertawa melihat ekspersi marah-nya

Pagi, matahari belum juga tampak sepertinya agak mendung, aku pagi-pagi sekali sudah ke pantai aku sudah berjanji mengajak Kay untuk menaiki perahu, kami akan memancing bersama

“Kamu sendirian kuliah di kota ? “ tanyaku, sambil menyiapkan umpan

Kay tidak memancing dia sibuk menulis di buku yang bisa dbilang buku pribadi-nya, Kay menoleh

“Iya, sendirian “ jawabnya lalu menutup buku

“Kamu ? “

“Enggak, aku gak sendirian ada temen-temen aku, kos aku agak besar bisa menampung empat orang “ jawabku

“Yee.. sih mas, itu mah bukan kos-san atuh itu mah kontrakan “ jawabnya membenari

“Oh, gitu ya ? hahha “

“Lucu ya, jadi kangen kos-san deh, aku jadi inget cerita teman aku dia pernah jadi kuli bangunan sama teman-teman kos-nya soalnya kiriman uang-nya gak cukup “

“Masa ? “

“Iya, kasihan deh.. aku waktu itu gak bisa bantu banyak soalnya aku baru aja bayar uang operasional “ Kay tersenyum, matanya menatap lurus dan berbinar sekali ditempa cahaya mentari

“Terus nasib teman kamu gimana ?”

“Ya masih hidup sampa sekarang, dia kenal sama saudaraku , suatu hari saudaraku pernah lewat jalan dan gak sengaja ketemu teman-temanku itu, saudaraku nyamperin, tahu gak ? ternyata teman-temanku itu hampir jalan kaki karena gak  punya uang “ Kay tertawa kecil

“Hahaha, kasihan ya terkadang jadi mahasiswa kalau uang kiriman yang kita harapkan ternyata gak cukup “

“Iya, terus tahu gak ? pas udah nyampe kos-san, karen kebetulan teman itu kos pria, besok-nya dia ke kos-putri nemuin aku, da makasih banget sama saudara aku. Waktu itu aku ngerasa seneng dan kasihan denger cerita teman aku itu “

Aku terdiam menyimak takzim

“Dan sekarang, teman aku itu sebentar lagi jadi sarjana, dia lalu mau melanjutkan S2 sastra Indonesia di Yogyakarta “

“Lucu ya jadi mahasiswa, aku jadi bersyukur banget gak pernah merasa kurang “

“koq bisa ? “

“Yaiyalah, orang aku rajin menabung , kalau laper dateng aku ke pantai nyari ikan “

“Huuu dasarrrrr.. “ Kay tertawa

Aku senang berteman dengan Kay, suatu hari, Kay ternyata adalah perempuan yang berhati tulus, begini ceritanya, sore itu aku menikmati makan mie instant bersama Kay di pinggir pantai, aku membuka percakapan mengarah ke pribadi

“Kay, kalau kamu suka sama seseorang kamu rela gak ngelepas orang itu ? kataku bodoh

Kay tersenyum tipis, dia menghentikan makanya, terdiam beberapa menit, aku merasa salah tingakah

“Tentu aja, saya rela Jun “ jawabnya lembut

“Aku koq susah ya ? “ Kataku curhat

“Jun, melapang hati adalah proses panjang, kenapa aku bisa semudah itu rela ? “ Kay bertanya

Aku terdiam lama

“Simpel Jun, dari awal aku jatuh cinta sama seseorang itu aku gak pernah berniat memeliki dia, gak jun gak pernah kepikiran gaya gitu, bagi aku mengenal dia aja juga udah cukup , terserah Tuhan mau ngasih saya beberapa waktu untuk bisa mengenal dia “ Kay terdiam, jawabanya serius

Aku terdiam

“Jun, pada akhirnya gak ada manusia yang bisa menjamin perasaan itu akan tetap ada, sekalipun dia udah berjanji buat kamu, tapi Hati-nya dia pasti akan dipilih “

“Maksudnya ? “

“Gini deh Jun, saya pernah merasakan jatuh cinta sama seseorang bahkan sampai detik ini, tapi apa kamu bisa jamin, perasaan ini akan tetap buat dia  ? “

“Enggak “

“Nah itu Jun, ketidakpastian itu bukan sebuah pegangan kuat “

“Tapi kalau udah cinta gimana ? ‘’

“Saya gak tahu Jun, cinat jenis apa yang bisa mencintai seseorang sampai bertahun-tahun setia menunggu sang kekasih, bersabar dalam banyak hal, saya juga gak nemu jawabna-nya Jun, “

Kay terdiam, menatap senja , rambutnya ditiup angin dengan lembut.

Penulis: Bintang Inspirasi

 

saya tertarik untuk menuangkan  ide tentang ‘siapa itu Bintang Inspirasi setiap penulis ? “

Baiklah, ini berkaitan dengan kekaguman yang mendasari tulisan-tulisan yang kita buat

Setiap penulis dan pelukis memiliki bintang-nya sendiri, mereka pasti memiliki bintang inspirasi mereka sendiri, ada yang sudah menemukan dan ada yang belum menemukan, bahkan ada yang sudah menemukan namun Bintang itu hilang tersapu lebat-nya awan yang melintas.

Pernah-kah kamu ? merasa amat bersemanggat menulis sesuatu ? melahirkan berbagai jutaan paragraf dan merangkai kata untuk sesuatu ? apa itu ?

Kalau hatimu merasa itu hanya semacam persembahan, maka untuk yang kau sembahkan itu adalah bisa jadi bintang inspirasi-mu , misalnya kamu menulis untuk dipersembahkan kepada Mama-mu , maka bisa jadi mama mu adalah sumber cahaya bintang inspirasimu. Kekuatan yang akan mengerakkan jemarimu untuk menulis,

Bintang Inspirasi itu tidak hanya satu, tapi ada banyak dan di setiap jutaan bintang tentulah ada yang paling bersinar, ada satu bintang yang barangkali kita lupa bahwa dia adalah bintang pertama yang menemukan kita dengan jutaan bintang lain-nya.

Bahkan saya (mencintai) bintang inspirasi saya, siapapun itu saya mencintai bintang-bintang itu,

Penulis, pasti memiliki seseorang atau sesuatu yang bersemayam di  hati-nya yang tampa mereka sadari bisa lahir kalimat-kalimat ajaib dari hati,

Kalau kamu belum merasakan yang mana bintang inspirasimu ? coba pejamkanlah mata, siapa orang-orang yang mengispirasimu untuk terus menulis ? membuat kau sangat bersemanggat menulis, karena dia pasti akan membaca-nya ? Barangkali dia bintang inspirasimu, sumber cahayamu yang tumbuh dengan imajinasi.

Tetapi, para penulis pasti akan menghadapi suatu dilema dimana mereka akan bertanya pada pena dan kursor yang berkedip menunggu, kemana perginya inpirasiku ? pernah merasa malas menulis ,? Merasa tidak bersemnaggat sekali ? itu bukan berarti kamu kehilangan bintang-mu, kamu hanya kehilangan cahaya , dan kamu tidak perlu mencari inpirasi sampai ke tanah terjauh, sebab bintang itu banyak kamu bisa mengapainya dan menuliskannya…. diamanapun kamu.

Semoga, kamu selalu bersemanggat untuk menulis,  terimakasih telah (sempat) menjadikan aku sekejap bintang inspirasimu, aku bahagia mendengar-nya.

Terakhir, ada kata-kata dari Dee

“Akan ada satu saat kamu bertanya: pergi ke mana inspirasiku? Tiba-tiba kamu merasa ditinggal pergi. Hanya bisa diam, tidak lagi berkarya. Kering. Tetapi tidak selalu itu berarti kamu harus mencari objek atau sumber inspirasi baru. Sama seperti jodoh, Nan. Kalau punya masalah,tidak berarti harus cari pacar baru kan? Tapi rasa cinta kamu yang harus diperbarui.Cinta bisa tumbuh sendiri,tetapi bukan jaminan bakal langgeng selamanya,apalagi kalau tidak dipelihara. Mengerti kamu?”

-Nasihat Poyan pada Keenan suatu hari”
Dee, Perahu Kertas

 

Qoutes Tasaro Gk

Bukan kerena kamu tidak bisa menyatu dengan dia maka kamu akan merasa hidupmu begitu nestapa. Sesuatau yang lebih meluluhlantahkan hatimu adalah ketika seseorang yang menyandera kemampaunmu untuk memiliki itu tak melibatkan lagi namamu dalam hidupnya , tidak mengucapkan apapun ketika datang tahun baru, bahkan tidak mengirimkan pesan basa-basi pada hari perayaan agamamu

Kamu tidak terlibat sama sekali dlaam hidupnya, bahkan sekedar untuk diingat . “

-Tasaro G.K

Entahlah..

Bukan karena kamu tidak bisa menyatu dengan dia maka kamu akan merasa hidupmu begitu nestapa. Sesuatu yang lebih meluluhlantakkan hatimu adalah ketika seseorang -yang menyandera kemampuanmu untuk memiliki itu- tak melibatkan lagi namamu dalam hidupnya, tidak mengingat tanggal lahirmu, tidak mengucapkan apapun ketika datang tahun baru, bahkan tidak mengirimkan pesan basa-basi pada hari perayaan agamamu.

Kamu tidak terlibat sama sekali dalam hidupnya. Bahkan sekadar untuk diingat.”
― Tasaro G.K.

 

Setidaknya kalimat itu memang cukup membuat saya menghela nafas resah, lihatlah langit ditaburi cahaya yang berwarna-warni dan telinga kita seakan dipenuhi oleh suara gemuruh petasan,  Tapi ada banyak cahaya kerinduan yang menjelma dari ruang dada paling dalam, kerinduan hamba-hambanya. Aku melihat mataku berkaca-kaca karena bulan yang paling aku sayangi telah berlalu, dan aku hanya bisa merapal doa yang lahir dari sebuah cahaya yang menemaniku, cahaya yang bisa dikatakan tidak sempurna.

Aku memandang langit yang ramai, berdiam diri di balkon.  aku membisikan sebuah nama dengan pelan,

Sudah cukup lama aku bergulat dengan ego-ku , bahwa dia dan aku memang tidak baik-baik saja, kami sudah bertahun-tahun kehilangan kemampuan verbal untuk sekedar bertanya kabar,

dia tidak pernah fasih dalam melafalkan namaku, dan aku tidak pernah berucap apapun di depan-nya. Bagiku semua itu butuh proses, tentu kejadian ini merupakan insiden dahsyat yang aku terima.

Aku teringat akan kesunyian yang mendekap hati, ada kehampaan yang selalu aku pertanyakan ..

 maaf lahir dan batin itu apa ?

Semoga hatiku fasih benar memafkanmu, aku hanya ingin mengenang namamu pada bilik-bilik perasaan. Menjemput setiap uraian kisah tentang perjalanan takdir yang beku di ujung tanda.ku tidak sedang marah ketika menulis ini. Namun, aku hanya merasa sendu mengingat namamu..

ketika lupa menjadi sebagian jalan ingatanku..Ada beberapa kata tentang rasa dan takdir kita yang tak pernah aku eja ini.

 

Sok tahu (yang baik )

 

Ceritanya saya sedang bingung mendapat sms dari seorang kakak yang baik sekali, namanya ka Bambang

Padahal di luar sana takbir sedang berkumandang dengan embel-embel petasan berbagai rupa yang meledak di atas langit, dan stasiun tv mulai berisik menanyangkan lagu-lagi kebahagian. Saya tiba-tiba menjadi bingung dengan pesan dari ka Bambang, bahwa dia belajar (tulisan) dari saya ?

Sebenarnya bukan itu yang membuat saya bertanya pada kerlipan lampu jalanan yang terlihat amat setia berpijar di jalanan di depan rumah saya, sesuatu yang lebih membuat hati saya  tiba-tiba membenak bahwa teman-teman remaja masjid dan ka bambang adalah orang yang sok tahu..

Iya, saya rasa saya tidak berlebihan menyebut mereka sok tahu, setidaknya itu kesan yang saya dapat.. kalian mau tahu sok tahu-nya dimana ? Iya , mereka sok tahu banget tahu saya (pandai) menulis, tahu dari mana coba ? seingat saya, saya Cuma bilang saya (suka) menulis. Tapi mereka semua percaya tulisan-tulisan saya bagus , Percaya aja gitu ? entahlah mereka terlalu berprasangka baik, karena kepercayaan mereka saya jadi menemukan beberapa titik bahwa saya memang harus menerbitkan sebuah karya, setidaknya dari tangan saya lahir sebuah buku yang semoga mencerahkan pemahaman kehidupan 🙂

Ah , mereka ini membuat saya gemas sekali …. terimakasih ya atas prasangka baik dan nilai positiv-nya , semoga ukhuwah kita tetap terjaga 🙂

Nuhun Pisan ya ka Bambang,..

*repost, ini hanya tulisan iseng aja sih ,buat anak remaja masjid yang baca  jangan diambil hati ya Cuma bercanda  ,

Catatan: kapan saya mulai menulis ?

 

Jadi tertarik membagi kisah ini, beberapa orang bertanya kepada saya, sejak  kapan saya mulai menyukai dunia tulis menulis. ? Baiklah, saya akan berusaha keras mengingat kapan tulisan pertama saya dimulai,

Setelah bisa menulis dari hasil menjadi anak TK selama satu tahun, seperti anak kecil lainnya saya suka sekali menulis di tembok rumah, menulis di tembok dapur dan kamar saya. Dan coretan itu  masih ada sampai sekarang, bagi saya menulis di tembok adalah sebuah keluarbiasaan karena semua orang akan membaca , dan itu membuat saya merasa jadi terkenal, hahahah entahlah imajinasi saya pada waktu itu ada apa ? sehingga bisa menilai hal seperti itu.

Lalu, seiring waktu berlalu entah pada usia ke berapa yang jelas waktu saya SD, saya suka sekali dengan dongeng Putri Duyung dan ayahnya Neptunus, saya bahkan waktu kecil berkeinginan untuk melihat langsung bagaimana rupa putri duyung.

Dan keidolaan saya pada putri duyung membawa saya untuk menulis perahu kertas, entah apa yang saya pikirkan pada waktu kecil,  saya menulis sebuah curahan hati atau bertanya banyak hal lantas melipatnya menjadi perahu kertas dan menghanyutkannya ke aliran air, dan kebetulan yang luar biasa rumah saya dekat dengan aliran air yang semua akan bermuara ke laut. (tapi gak pernah kebanjiran loh ya )

Saya percaya, perahu kertas itu akan sampai dan akan dibaca oleh Putri Duyung di laut sana, Sungguh ini bukan mengikuti novel karya Dee yag judulnya “Perahu kertas” ini benar-benar kisah saya sendiri .

Sampai detik ini saya masih suka menulis perahu kertas, walaupun saya memang sudah tidak lagi percaya bahwa putri duyung akan membacanya , sebab itu hanya dongeng semata. Tapi, entahlah setiap kali menulisakan kesedihan yang saya alami lantas menghanyutkannya ke aliran air itu adalah sebuah pelepasan bagi saya.

Satu SMP, saya mulai tertarik degan bacaan yang membuat saya menjadi lebih peka terhadap keadaan sekitar, tampa diketahui saya membongkar buku-buku kuliah kakak saya berharap ada mata kuliah pengembangan diri, ya walaupun kakak saya jurusan ekonomi,  saya membaca dan mulai mencari  dan mempelajari Psikologi remaja . Dan SMP saya dipercayai menjadi ketua mading , setelah saya ingat ternyata hampir  rubrik saya yang buat, teman-teman saya ‘katanya’ tidak bisa, saya rasa saya juga tidak bisa tapi saya modal nekat saja. Sejak itulah saya dilirik oleh guru-guru bahasa Indonesia SMP saya, dan sampai saat ini saya bahkan masih dibimbing baik oleh guru bahasa Indonesia saya yang sudah saya anggap seorang kakak, ( kalau dia baca ini mungkin pingsan ). Jujur bagi saya, mengurusi majalah dingding bukan hal yang mudah, bagaimana cara terbit tepat waktu dan bagaimana cara membuat desain semenarik  mungkin agar anak-anak banyak yang tertarik untuk membaca, apalagi di tambah posisi mading sekolah saya waktu SMP benar-benar tidak stategis.  (kadang males juga sih , jadi terbit nya telat terus )

Masih di dunia SMP (inget zaman dulu ) bukan bermaksud sombong, kalau kalian boleh cek ke sekolah saya , maka saya adaalh pemecah rekor pembaca paling rajin di perpustakaan, kelas 2 SMP saya habiskan untuk istirahat di perpustakaan , membaca buku-buku yang bermanfaat dan membaca novel roman Zaman dahulu, seperti siti nurbaya, sengsara membawa nikmat, sukreni gadis bali, yang jujur saya agak pusing pada awalnya, pusing euyy. Tapi di situ letak seninya saya merasa kembali ke zaman dahulu.

Bicara mengenai menulis, sebenarnya yang selalu saya lakukan adalah mengeja rasa , maksudnya ? Ya, saya itu orangnya perasa sekali, sensitiv dalam beberapa hal, bisa dikatakan cepat terharu bahkan saya selalu mendalami ucapan seseorang dalam beberapa hal, tahu daun kering ? saya bisa menghabisi waktu hanya dengan mengamati daun kering, berkhayal  mungkin. Meresapi sehingga lahirlah sebuah kata-kata.

Bicara mengenai menulis hal itu tidak terlepas dari Buku yang kita baca, sudah berapa banyak kalian membaca buku ? karena membaca dan menulis itu jodoh yang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada tulisan yang tidak di baca, dan tidak ada bacaan tampa ditulis.

Saya mencintai membaca dan menulis, dan saya akan berbagi pengalaman dengan menulis karena bisa jadi saya sering kehilangan kemampuan verbal untuk mengungapkan perasaan yang saya alami, oleh karena itu saya hanya bisa menuliskannya. Kalau orang-orang bilangg menulis itu bakat saya rasa SALAH sebab menulis itu bukan bakat tapi kebiasaan,

Jujur, mata mama dan ayah saya terbatas penglihatannya untuk melihat tulisan-tulisan kecil, rapot saya saja harus dibacakan nilainya oleh kakak saya, ( terus dimarahi) Tidak apa, terkadang saya heran orang-orang terdekat saya justru orang yang tidak pernah membaca tulisan-tulisan saya, Keluarga saya tidak pernah tahu puluhan puisi dan tulisan-tulisan saya, tidak ada yang tahu saya suka menulis, Aneh sekali bukan ? Tidak apa, selama bertahun-tahun saya tidak pernah mempermasalahkan itu, toh bagi saya tulisan ini adalah sebuah pelepasan paling rahasia dari luka yang mengendap selama bertahun-tahun.

Tidak dapat di pungkiri bahwa kebanyakan tulisan saya adalah tulisan yang dekat dengan kesedihan, bukan berarti saya penggalau berat.. Saya menulis karena menalukan pelepasan, atas air mata yang selalu tertahan , kemapuan verbal saya selalu hilang dalam mengungakapkan sesuatu. Dan saya hanya bisa mengadukannya pada tulisan,

16 tahun, barangkali waktu ini adalah waktu yang tepat bagaimanapun saya harus membuat sebuah karya yang akan saya persembahkan pada seseorang yang akan berusia 17 Tahun, entah bagaimana cara memakasakan diri deadline , tapi saya kan berusaha keras.

Teruslah menulis, bahkan aku akan terus menulis sampai akhir , meskipun tulisan-tulisan ini hanya terdiam di sudut ruangan paling gelap dan tidak ada yang membaca lagi selain hati yang paling lembut.

Madinah-yang-begitu-dekat

 

 

Alhamdulillah saya sangat bersyukur menjadi bagian dari  remaja yang memakmurkan masjid Allah, menjadi remaja masjid adalah pilihan istimewa dan jalan yang indah yang dipilihkan sang Maha Pencipta, saya sangat bersyukur… *nangis depan layar*

Dan untuk kesekian kalinya saya mendapat kesempatan emas, untuk bertemu dengang Syekh Ali Jaber dan adik-adik-nya dari Madinah, kebetulan saya diminta untuk menjadi panitia acara beliau, acaranya berupa santunan anak yatim dan silaturahim. Sungguh, selama ini saya hanya mengenali beliau lewat acara-acara tv Syekh lebih sering bersama ustad Yusuf Masyur.

Dan lihatlah, kemarin 3-8-2013 saya melihat lebih dekat bagiamana bentuk rupa-nya, beliau orang yang sangat ramah, beliau tinggal di daerah Rawamangun Jakarta Timur. Rumahnya cukup besar dan terletak di komplek yang cukup bagus.

Dan yang membuat saya sangat kagum adalah, beliau selalu menangis saat memanjatkan doa, beliau sellau menangis.. dan itu yang membuat saya berfikir keras ,

Selama ini saya menangis saat  berdoa jika semuanya terasa berat, beban yang sedang saya hadapi, tapi kalau bahagia? Sedang dalam keadaan nikmat yang banyak apa saya tetap menangis ? Bukankah air mata karena takut pada Allah dan air mata karena  adosa adalah air mata yang mulia ,,,, Dan saya jadi menangis, saya adalah orang yang hatinya sedang bersedih setiap kali saya tahu pada kenyataan-nya bisa jadi saya hanya menangis karena beban, jangan-jangan saya lupa menangisi dosa saya ?

 

Suara syekh persis seperti yang ada di tanah suci, doa-doa beliau juga pesis seperti yang ada di tanah suci. Dan kepersissan itu membaut kami merasa berada di Madinah, terlebih lagi adik-adik belaiu yang juga Syekh dan para Hafiz Qur’an membuat hati ini semakin gemertar merindukan Tanah Suci-nya`……………..

Saya jadi teringat bukit Tursina, dan impian untuk melihat matahari disana selalu menjelma setiap hari, Syekh berhasil membaut para jamaah terpana dan senang akan sikap ramahnya. Saya sangat bersyukur karena Allah sellau mempertemukan saya dengan orang-orang baik.. dengan orang-orang luar biasa. Dan saya sangat bahagia terlahir menjadi umat Nabi Muhammad SAW

Blog at WordPress.com.

Up ↑