Jadi tertarik membagi kisah ini, beberapa orang bertanya kepada saya, sejak  kapan saya mulai menyukai dunia tulis menulis. ? Baiklah, saya akan berusaha keras mengingat kapan tulisan pertama saya dimulai,

Setelah bisa menulis dari hasil menjadi anak TK selama satu tahun, seperti anak kecil lainnya saya suka sekali menulis di tembok rumah, menulis di tembok dapur dan kamar saya. Dan coretan itu  masih ada sampai sekarang, bagi saya menulis di tembok adalah sebuah keluarbiasaan karena semua orang akan membaca , dan itu membuat saya merasa jadi terkenal, hahahah entahlah imajinasi saya pada waktu itu ada apa ? sehingga bisa menilai hal seperti itu.

Lalu, seiring waktu berlalu entah pada usia ke berapa yang jelas waktu saya SD, saya suka sekali dengan dongeng Putri Duyung dan ayahnya Neptunus, saya bahkan waktu kecil berkeinginan untuk melihat langsung bagaimana rupa putri duyung.

Dan keidolaan saya pada putri duyung membawa saya untuk menulis perahu kertas, entah apa yang saya pikirkan pada waktu kecil,  saya menulis sebuah curahan hati atau bertanya banyak hal lantas melipatnya menjadi perahu kertas dan menghanyutkannya ke aliran air, dan kebetulan yang luar biasa rumah saya dekat dengan aliran air yang semua akan bermuara ke laut. (tapi gak pernah kebanjiran loh ya )

Saya percaya, perahu kertas itu akan sampai dan akan dibaca oleh Putri Duyung di laut sana, Sungguh ini bukan mengikuti novel karya Dee yag judulnya “Perahu kertas” ini benar-benar kisah saya sendiri .

Sampai detik ini saya masih suka menulis perahu kertas, walaupun saya memang sudah tidak lagi percaya bahwa putri duyung akan membacanya , sebab itu hanya dongeng semata. Tapi, entahlah setiap kali menulisakan kesedihan yang saya alami lantas menghanyutkannya ke aliran air itu adalah sebuah pelepasan bagi saya.

Satu SMP, saya mulai tertarik degan bacaan yang membuat saya menjadi lebih peka terhadap keadaan sekitar, tampa diketahui saya membongkar buku-buku kuliah kakak saya berharap ada mata kuliah pengembangan diri, ya walaupun kakak saya jurusan ekonomi,  saya membaca dan mulai mencari  dan mempelajari Psikologi remaja . Dan SMP saya dipercayai menjadi ketua mading , setelah saya ingat ternyata hampir  rubrik saya yang buat, teman-teman saya ‘katanya’ tidak bisa, saya rasa saya juga tidak bisa tapi saya modal nekat saja. Sejak itulah saya dilirik oleh guru-guru bahasa Indonesia SMP saya, dan sampai saat ini saya bahkan masih dibimbing baik oleh guru bahasa Indonesia saya yang sudah saya anggap seorang kakak, ( kalau dia baca ini mungkin pingsan ). Jujur bagi saya, mengurusi majalah dingding bukan hal yang mudah, bagaimana cara terbit tepat waktu dan bagaimana cara membuat desain semenarik  mungkin agar anak-anak banyak yang tertarik untuk membaca, apalagi di tambah posisi mading sekolah saya waktu SMP benar-benar tidak stategis.  (kadang males juga sih , jadi terbit nya telat terus )

Masih di dunia SMP (inget zaman dulu ) bukan bermaksud sombong, kalau kalian boleh cek ke sekolah saya , maka saya adaalh pemecah rekor pembaca paling rajin di perpustakaan, kelas 2 SMP saya habiskan untuk istirahat di perpustakaan , membaca buku-buku yang bermanfaat dan membaca novel roman Zaman dahulu, seperti siti nurbaya, sengsara membawa nikmat, sukreni gadis bali, yang jujur saya agak pusing pada awalnya, pusing euyy. Tapi di situ letak seninya saya merasa kembali ke zaman dahulu.

Bicara mengenai menulis, sebenarnya yang selalu saya lakukan adalah mengeja rasa , maksudnya ? Ya, saya itu orangnya perasa sekali, sensitiv dalam beberapa hal, bisa dikatakan cepat terharu bahkan saya selalu mendalami ucapan seseorang dalam beberapa hal, tahu daun kering ? saya bisa menghabisi waktu hanya dengan mengamati daun kering, berkhayal  mungkin. Meresapi sehingga lahirlah sebuah kata-kata.

Bicara mengenai menulis hal itu tidak terlepas dari Buku yang kita baca, sudah berapa banyak kalian membaca buku ? karena membaca dan menulis itu jodoh yang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada tulisan yang tidak di baca, dan tidak ada bacaan tampa ditulis.

Saya mencintai membaca dan menulis, dan saya akan berbagi pengalaman dengan menulis karena bisa jadi saya sering kehilangan kemampuan verbal untuk mengungapkan perasaan yang saya alami, oleh karena itu saya hanya bisa menuliskannya. Kalau orang-orang bilangg menulis itu bakat saya rasa SALAH sebab menulis itu bukan bakat tapi kebiasaan,

Jujur, mata mama dan ayah saya terbatas penglihatannya untuk melihat tulisan-tulisan kecil, rapot saya saja harus dibacakan nilainya oleh kakak saya, ( terus dimarahi) Tidak apa, terkadang saya heran orang-orang terdekat saya justru orang yang tidak pernah membaca tulisan-tulisan saya, Keluarga saya tidak pernah tahu puluhan puisi dan tulisan-tulisan saya, tidak ada yang tahu saya suka menulis, Aneh sekali bukan ? Tidak apa, selama bertahun-tahun saya tidak pernah mempermasalahkan itu, toh bagi saya tulisan ini adalah sebuah pelepasan paling rahasia dari luka yang mengendap selama bertahun-tahun.

Tidak dapat di pungkiri bahwa kebanyakan tulisan saya adalah tulisan yang dekat dengan kesedihan, bukan berarti saya penggalau berat.. Saya menulis karena menalukan pelepasan, atas air mata yang selalu tertahan , kemapuan verbal saya selalu hilang dalam mengungakapkan sesuatu. Dan saya hanya bisa mengadukannya pada tulisan,

16 tahun, barangkali waktu ini adalah waktu yang tepat bagaimanapun saya harus membuat sebuah karya yang akan saya persembahkan pada seseorang yang akan berusia 17 Tahun, entah bagaimana cara memakasakan diri deadline , tapi saya kan berusaha keras.

Teruslah menulis, bahkan aku akan terus menulis sampai akhir , meskipun tulisan-tulisan ini hanya terdiam di sudut ruangan paling gelap dan tidak ada yang membaca lagi selain hati yang paling lembut.