Bukan karena kamu tidak bisa menyatu dengan dia maka kamu akan merasa hidupmu begitu nestapa. Sesuatu yang lebih meluluhlantakkan hatimu adalah ketika seseorang -yang menyandera kemampuanmu untuk memiliki itu- tak melibatkan lagi namamu dalam hidupnya, tidak mengingat tanggal lahirmu, tidak mengucapkan apapun ketika datang tahun baru, bahkan tidak mengirimkan pesan basa-basi pada hari perayaan agamamu.

Kamu tidak terlibat sama sekali dalam hidupnya. Bahkan sekadar untuk diingat.”
― Tasaro G.K.

 

Setidaknya kalimat itu memang cukup membuat saya menghela nafas resah, lihatlah langit ditaburi cahaya yang berwarna-warni dan telinga kita seakan dipenuhi oleh suara gemuruh petasan,  Tapi ada banyak cahaya kerinduan yang menjelma dari ruang dada paling dalam, kerinduan hamba-hambanya. Aku melihat mataku berkaca-kaca karena bulan yang paling aku sayangi telah berlalu, dan aku hanya bisa merapal doa yang lahir dari sebuah cahaya yang menemaniku, cahaya yang bisa dikatakan tidak sempurna.

Aku memandang langit yang ramai, berdiam diri di balkon.  aku membisikan sebuah nama dengan pelan,

Sudah cukup lama aku bergulat dengan ego-ku , bahwa dia dan aku memang tidak baik-baik saja, kami sudah bertahun-tahun kehilangan kemampuan verbal untuk sekedar bertanya kabar,

dia tidak pernah fasih dalam melafalkan namaku, dan aku tidak pernah berucap apapun di depan-nya. Bagiku semua itu butuh proses, tentu kejadian ini merupakan insiden dahsyat yang aku terima.

Aku teringat akan kesunyian yang mendekap hati, ada kehampaan yang selalu aku pertanyakan ..

 maaf lahir dan batin itu apa ?

Semoga hatiku fasih benar memafkanmu, aku hanya ingin mengenang namamu pada bilik-bilik perasaan. Menjemput setiap uraian kisah tentang perjalanan takdir yang beku di ujung tanda.ku tidak sedang marah ketika menulis ini. Namun, aku hanya merasa sendu mengingat namamu..

ketika lupa menjadi sebagian jalan ingatanku..Ada beberapa kata tentang rasa dan takdir kita yang tak pernah aku eja ini.