Pagi aku pantai adalah tempat yang paling menabjubkan, aku duduk di depan ombak yang bergulung mesra, menikmati dan menunggu senja datang menjemput.

“Kamu, saya perhatiin ada di sini terus ? nginep ya ? “ sebuah pertanyaan memecah kesendirianku, aku menoleh kaget, seorang wanita.

“Ha? Ee.. i.. ya “ jawabku gugup

“Tapi aku gak nginep, rumahku gak jauh dari sini “ kataku menjeleskan dan bangkit dari duduk.

Wanita itu tersenyum, rambutnya di belai angin pantai, wajahnya putih dan berlesung pipit, cukup manis.

“Enak ya, rumah-nya deket pantai bisa kapan aja mau ke sini, “ katanya dengan nada iri

Aku menganggukan kepala, tersenyum tipis.

“Aku iri sama kamu, sementara aku kalau mau kesini harus nunggu liburan panjang ! “ kata wanita itu menjelaskan , lalu dia mulai duduk di depan ombak, mengambar-gambar tidak jelas di pasir

“Oh, kamu lagi libur ? “ tanyaku

“Iya, libur satu bulan “

“Nama kamu siapa ? “

“Kay “

“Kamu ? “

“Juna“

“Nama nya bagus, “

“haha,, nama kamu juga ! “

Itu adalah awal dari pertemanan kami, Kay belakangan aku ketahui bahwa tente-nya tinggal di kota ini, dia senang berlibur ke pantai ini, dia sangat menyukai pantai sama sepertiku.

Karena kuliahku juga sedang liburan juga, aku banyak menghabiskan waktu di pantai bersama Kay, aku senang karena tidak sendirian lagi menikmati senja, Kay anak yang cerewet sekali menurutku, dan bertanya banyak hal. Tapi aku tahu dia cerdas.

“Kamu kenapa ngambil jurusan sastra kay “ tanyaku

“Soal-nya aku suka menulis, dan yang lebih keren itu sastra gak ada Matematika-nya “ jawabnya polos

Kami tertawa,

“Kamu kenapa ngambil jurusan ilmu kesehatan masyarakat ? “

“Ya, karena gagal masuk kedokteran “ jawanku sedih

“Kasihan ya kamu, “

“Kamu juga kasihan “

“Yeee.. kamu yang kasihan “

“Kamu-lah “

Aku dipukul Kay mengunakan ranting pohon , tidak sakit justru aku tertawa melihat ekspersi marah-nya

Pagi, matahari belum juga tampak sepertinya agak mendung, aku pagi-pagi sekali sudah ke pantai aku sudah berjanji mengajak Kay untuk menaiki perahu, kami akan memancing bersama

“Kamu sendirian kuliah di kota ? “ tanyaku, sambil menyiapkan umpan

Kay tidak memancing dia sibuk menulis di buku yang bisa dbilang buku pribadi-nya, Kay menoleh

“Iya, sendirian “ jawabnya lalu menutup buku

“Kamu ? “

“Enggak, aku gak sendirian ada temen-temen aku, kos aku agak besar bisa menampung empat orang “ jawabku

“Yee.. sih mas, itu mah bukan kos-san atuh itu mah kontrakan “ jawabnya membenari

“Oh, gitu ya ? hahha “

“Lucu ya, jadi kangen kos-san deh, aku jadi inget cerita teman aku dia pernah jadi kuli bangunan sama teman-teman kos-nya soalnya kiriman uang-nya gak cukup “

“Masa ? “

“Iya, kasihan deh.. aku waktu itu gak bisa bantu banyak soalnya aku baru aja bayar uang operasional “ Kay tersenyum, matanya menatap lurus dan berbinar sekali ditempa cahaya mentari

“Terus nasib teman kamu gimana ?”

“Ya masih hidup sampa sekarang, dia kenal sama saudaraku , suatu hari saudaraku pernah lewat jalan dan gak sengaja ketemu teman-temanku itu, saudaraku nyamperin, tahu gak ? ternyata teman-temanku itu hampir jalan kaki karena gak  punya uang “ Kay tertawa kecil

“Hahaha, kasihan ya terkadang jadi mahasiswa kalau uang kiriman yang kita harapkan ternyata gak cukup “

“Iya, terus tahu gak ? pas udah nyampe kos-san, karen kebetulan teman itu kos pria, besok-nya dia ke kos-putri nemuin aku, da makasih banget sama saudara aku. Waktu itu aku ngerasa seneng dan kasihan denger cerita teman aku itu “

Aku terdiam menyimak takzim

“Dan sekarang, teman aku itu sebentar lagi jadi sarjana, dia lalu mau melanjutkan S2 sastra Indonesia di Yogyakarta “

“Lucu ya jadi mahasiswa, aku jadi bersyukur banget gak pernah merasa kurang “

“koq bisa ? “

“Yaiyalah, orang aku rajin menabung , kalau laper dateng aku ke pantai nyari ikan “

“Huuu dasarrrrr.. “ Kay tertawa

Aku senang berteman dengan Kay, suatu hari, Kay ternyata adalah perempuan yang berhati tulus, begini ceritanya, sore itu aku menikmati makan mie instant bersama Kay di pinggir pantai, aku membuka percakapan mengarah ke pribadi

“Kay, kalau kamu suka sama seseorang kamu rela gak ngelepas orang itu ? kataku bodoh

Kay tersenyum tipis, dia menghentikan makanya, terdiam beberapa menit, aku merasa salah tingakah

“Tentu aja, saya rela Jun “ jawabnya lembut

“Aku koq susah ya ? “ Kataku curhat

“Jun, melapang hati adalah proses panjang, kenapa aku bisa semudah itu rela ? “ Kay bertanya

Aku terdiam lama

“Simpel Jun, dari awal aku jatuh cinta sama seseorang itu aku gak pernah berniat memeliki dia, gak jun gak pernah kepikiran gaya gitu, bagi aku mengenal dia aja juga udah cukup , terserah Tuhan mau ngasih saya beberapa waktu untuk bisa mengenal dia “ Kay terdiam, jawabanya serius

Aku terdiam

“Jun, pada akhirnya gak ada manusia yang bisa menjamin perasaan itu akan tetap ada, sekalipun dia udah berjanji buat kamu, tapi Hati-nya dia pasti akan dipilih “

“Maksudnya ? “

“Gini deh Jun, saya pernah merasakan jatuh cinta sama seseorang bahkan sampai detik ini, tapi apa kamu bisa jamin, perasaan ini akan tetap buat dia  ? “

“Enggak “

“Nah itu Jun, ketidakpastian itu bukan sebuah pegangan kuat “

“Tapi kalau udah cinta gimana ? ‘’

“Saya gak tahu Jun, cinat jenis apa yang bisa mencintai seseorang sampai bertahun-tahun setia menunggu sang kekasih, bersabar dalam banyak hal, saya juga gak nemu jawabna-nya Jun, “

Kay terdiam, menatap senja , rambutnya ditiup angin dengan lembut.