Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

September 2013

 

Berdasarkan hasil tes gaya belajar yang diadakan gratis di sebuah buku Quantum Learning , buku yang saya pinjam dari guru saya, di buku tersebut ada tes gaya belajar, dan setelah melewati serangkaian pertanyaan dan menghitung nilai jawaban, maka hasil menunjukan bahwa saya adalah tipe pemikir Acak Abstrak dan Acak Konkret, Acak Abstak lebih mendominan di diri saya.

Jadi, apakah acak abstarak itu ? kasihan ya, sudah acak ditambah abstrak lagi, buku itu bilang Pemikir acak abstrak mengatur informasi melalui reaksi dan berkpirah di dalam lingkungan tidak teratur dan berorientasi pada orang.

Dunia nyata untuk pelajar acak abstrak adalah dunia perasaan dan emosi, sumpah bener banget , makanya saya namain blog ini ‘perjalanan rasa’  . Katanya orang acak abstak berbakat jadi ahli psikologi, ah masa ? iya kali ya ,, sering jadi tempat curhat sih, terus suka juga mengamati teman-teman yang hatinya terluka, caelahhh..

Orang-orang acak abstrak menyerap ide-ide , informasi dengan pengaturan refleksi. Hah refleksi ? emang nya akupuntur ? iya kali ya, pokonya saya santai banget orang-nya, gak bisa kalau belajar di bawa tegang, contoh kaya belajar : Matematika

Orang-orang acak abstrak berbakat dan unggul dalam melihat gambar bisa jadi gabungan dari gaya belajar visual,

 hahah betul banget saya gak suka buku pelajaran yang gak berwarna warni, males bacanya. Kalau novel gak berwarna gak masalah, kan imajinasi saya bergerak, lah kalau pelajaran ? contoh kaya buku anotomi tubuh, saya sengaja jelajah ke pusat buku dan ketemu yang berwarna, pokonya saya suka benget sama gambar dan warna-warna, sampai-sampai lagi ulangan matematika saja, saya gambar-gambarin kertas soalnya. Gak tahu kenapa, suka benget, apalagi buku Biologi, wah mentep spidol saya sampai habis,

Selanjutnya , nilai acak abstrak saya adalah 43 di urutan ke dua ada nilai Acak Konkret yang bernilai 41, hah Cuma beda  sedikit .. Yang ini masih mending walaupun acak tapi setidaknya konkret, ihihihih

Sayangnya di acak konkret penjelasan ya sedikit sekali, dan yang paling menonjol pikiran saya di acak konkret adalah,

Orang-orang acak konkret lebih menyukai proses dari pada hasil

Bener banget !!! mau tau berapa parahnya saya menyukai proses ?

Begini, saya misalnya besok ulangan atau ujian membuat pemograman , nah seperti biasa saya berusaha mendapatkan nilai yang baik, saya belajar dan terus bertanya kepada teman-teman saya yang ahli dalam logika, saya belajar memecahkan logika , saya coba-coba terus sampai nih notebook teriak-teriak kesakitan karena saya jitakin terus, nah pas di hari ujian nya ternyata saya mendapat nila yang pas-pas san, apa yang terjadi ?

Biasa saja.

Sumpah, kalau teman-teman saya menangis histeris melihat nilai di kelas pemograman ,  saya biasa aja . Saya tahu saya udah belajar, saya tahu saya udah berusaha keras, tapi kalau hasil nya atau nilai nya segini ? ya udah terima aja, berarti itu kita yang salah, bukan Tuhan yang salah.

Dari dulu saya selalu dia ajarkan berserah diri menerima, semua itu yang penting proses, apakah kita sungguh-sungguh dan mencintai proses tersebut, bukan padda hasil, kenapa sih di abad 21 ini orang-orang bangga bener jadi lulusan yang nilai –nya cakep di selembar kertas bernama ijazah . Apa sih hebatnya ? oke keren buat orang tua bangga, tapi kalau proses nya dari hasil gak belajar, dari hasil nyontek ?

Pada kenyataanya, kalau proses itu kita lakukan dengan baik dan jujur maka kesuksesan aan datang sendiri, tidak apa terlambat . Toh kita akan benar-benar menguasai keahlian tersebut,

“ lebih baik gagal seribu kali, tapi  kemudian mengerti sampai mati. Dari pada mengerti satu kali tapi tidak mengerti sampai mati “

Oke itu aja, salam perjalanan rasa dari pemikir acak .. hihihiww

Serial si Juli ( Juna-Alina ) bagian # 1

 

Empat hari, empat malam terombang-ambing di kapal besar yang berangkat dari Jakarta menuju kota Padang, Sumatera Barat. Alina berdiam sejenak , menunggu kerumunan manusia yang sedang berebut turun karen tidak sabar menginjakan kaki di ranah minang, Alina tida suka berdiri di antara kerumunan itu, selan resiko sesak nafas dan terdesak , resiko di copet juga besar. Jadi lebih baik, dia bersantai beberapa menit, menunggu para penumpang turun , menyisahkan beberapa orang di kapal yang sekarang sudah lelah dan tertidur di pelabuhan.

Angin laut terasa kecang, jilbab yang Alina kenakan bergera-gerak dramatis, mata Alina mencari-cari sosok laki-laki , laki-laki yang menyebabkan Alina nekat berangkat dari Jakarta ke kota Padang,

Alina membuka ponsel-nya, ada pesan masuk

“Dik, kamu pakai baju apa ? ciri-ciri kamu gimana ? “ begitulah isi pesannya. Alina cepat membalas

“Manis, pokonya aku manis, pakai jilbab berwarna unggu  baju hitam  , pakai ransel hitam , aku berdiri dekat toko makanan “

Kemudian beberapa menit kemudian , sebuah pesan masuk

“manis ? emang muka nya pakai bedak gula tadi ? “

“ eh, cepetan !! uda dimana ? berat nih tas , bawain. Gak kasihan apa sama aku ? “

“Emangnya uda kuli angkut barang ? “

“emang iya kan , buruan jemput, lama banget sih, uda tahu aku gak suka lama-lama “

Juna nama pemuda yang di panggil uda itu, memasukan ponsel lantas segera mencari sosok perempuan yang bahkan sama sekali belum di temuinya, seorang gadis yang ia kenal lewat tulisan-tulisan nya di dunia maya. Langkahnya terhenti, angin laut membuat dramatisir keadaan, Juna pasti tidak salah lihat, seorang gadis belia yang berdiri anggun di samping toko makanan , berjilbab unggu memakai baju hitam dan ransel di pundakya memang terlihat berat. Duhai, manis sekali, desis nya pelan.

Alina pasti tidak salah lihat, seorang lelaki dewasa yang tinggi-nya bahkan setara dengan-nya, lelaki yang beberapa tahun belakangan ini tidak pernah absen dia stalker , Juna nama lealki itu, berjalan cepat dari kejauhan, Alina malah tertawa.

“Alina kan ? “ tanya Juna

“Bukan, ih sok kenal !! dasar modus “ jawab Alina santai

Mereka berdua terasa canggung, lantas tertawa tidak jelas. Juna mengajak Alina beristrahat di sebuah restoran sederhana yang tidak jauh dari pelabuhan, duduk semeja membuat mereka berdua canggung, tidak berani menatap mata satu sama lain, mengalihkan pandangan ke ponsel.

“Gimana ? enak naik kapal ? “

“Ya enggak lah, orang gak bisa dimakan “

“Oh iya lupa “

“Eh da.. “

“Apa ? “

“ Kok uda mirip mas-mas kantin di kampus aku sih , sumpah mirip banget !! “ ucap Alina dengan polosnya.

Nada dan Bai

Namanya Nada, kalau ditanya siapa perempuan yang paling rajin ? jawabanya Nada, kalau ditanya siapa yang paling pinter ngitung dan rumus jawabanya Nada, kalau ditanya siapa yang paling ribet ngatur kebutuhan anak-anak kelas gue, jawabanya Nada. Nada bagi gue dan teman-teman persis emak-emak kita yang di bawa ke sekolah. Gue yakin, pada paragraf ini dia bakal nimpuk gue di kampus.

Namanya Bai, dia temen satu jurusan dan sekelas juga sama gue dan Nada, Bai ini spesies jenis apa ya ? gak tahu lah, yang jelas dia emang rada pendiem mungkin karena gue duduk gak deket dia  kalau gue perhatiin tapi kalau udah ngerumpi sama cowok di kelas , eet dah ketawa mele.  Bai juga pinter banget soal rumus-rumus, cepet nangkep menurut gue. Bagi gue Bai adalah teman aneh yang selalu tepuk tangan duluan sebelum gue presentasi di depan, aneh kan ?

Nada dan Bai adalah dua orang yang saling bertolak belakang, yang satu ajaib yang satu ajaib bin aneh. Gue gak tahu kenapa Nada bisa naksir sampai detik ini hampir mau dua tahun, naksir loh ya.. naksir. Belum ditembak. Wacana inilah yang selalu menjadi bully-an anak-anak yang semuanya emang gak bakat ngecomblangin tapi bakat ngebully.

Gue akan paparkan beberapa bully-an anak-anak ke Nada dan Bai:

Di suatu kelas di siang yang terik, kita semua lagi ngerjain tugas

Nada : “ Eh Bai, udah belum bukunya ?”

Anak-anak : “Cieeeeeee giliran Bai dipenjemin “

Nada : “*nutup muka* iiiihhh apaaaan sih”

Adegan dua :

Bai presentasi di depan , Nada ngoreksi ada yang salah , maka anak-anak akan langsung

Ciyeeeeeeeeee di koreksi tuh Bai, sama Nada.

Pokonya prinsip anak-anak “ Nada dan Bai tidak pernah benar, kalau mereka membela diri tandanya IYA “ Sampai detik ini anak-anak belum mencari profesi yang baru untuk berhenti ngebully Nada dan Bai,

Menurut sejarahnya, Nada dan Bai itu kayak sinetron alay di teve apa tuh judulnya ? diam diam suka. Huh ! mereka berdua emang udah kelihatan banget punya rasa dan karena gue udah nyangsang di tempat lain gue gak tahu kelanjutan kisah mereka berdua gimana. Tapi waktu gue sempet ketemu sama Nada di mushola, dia bilang berkembang. Gue juga nggak ngerti berkembang kayak gimana, apa kayak gidung kita yang lagi ngalamin pilek ? *diamuk Nada*

Well, gue Cuma berharap Bai layaknya lelaki yang baik serius dan lamar #eaaaaaa karena gue tahun Nada ngerepin itu, mungkin Bai gak tahu kalau Nada barangkali dalam doa-doanya terselip nama tuh anak, ciyeee ngapa jadi romantis religi gini ? Udahlah, gue mendoakan yang terbaik buat Nada dan Bai, gue tunggu undangannya J

 

p.s : Buat angkatan gue yang baca ini, gue bukan tukang gosip kok gue

Pangrango, aku mencintaimu

Ada yang mendekap saat kabut turun dari Mandalawangi

membisikan sesuatu pada hati yang paling sunyi,
Keyakinanku , Tuhan selalu mendekatkan cinta dengan wujudnya
Dan aku memilih , menulis untuk kesekian kalinya..
Mandalawangi, Pangrango..
karena alam adalah Perjalanan hati
perjalanan mimpi
angin yang membisikan sejuta kata rahasia
membisikan kerinduan dengan cara terhebatnya.
melihat senja dengan cara terhebat..
mencintai langit dengan cara tersendiri..
dan di setiap tapak yang lelah, akan ada jawaban di setiap kegelisahan hati

Apakah sekolah untuk orang PINTAR SAJA ? saya gak pintar , gimana dong ?

Apakah sekolah itu hanya untuk orang yang pintar saja?

Setiap kali ada diskusi tentang ini, ketika ada sebagian orang yang tidak bisa masuk ke sebuah sekolah yang bagus, universitas yang keren, maka ada saja orang yang berkomentar: “makanya dong, rajin2 belajar, pintar. biar bisa lulus ujian masuknya”. Maka pertanyaannya adalah apakah sekolah itu hanya untuk orang yang pintar saja?

Kampus top (menurut definisi kebanyakan orang) seperti Universitas Indonesia, ITB, UGM, dsbgnya itu jelas susah payah masuknya. Tapi ketika ada anak SMA yg menangis tidak diterima, bukan berarti orang lain bisa bilang, “makanya dong, rajin2 belajar, biar lulus ujian masuknya.” Karena kita tidak tahu jangan2 anak tersebut sudah siang malam belajar, sudah mati2an menggapai cita2nya, dan ketika dia kalah pintar dibanding ribuan peserta test lainnya, apakah dia tidak berhak masuk UI, ITB dan UGM tersebut? Apakah sudah nasibnya harus menerima komentar ayo dong dek, kalau otaknya pas2an mbok ya cari kampus lain yang biasa saja, cocok. Apakah sudah nasibnya dia harus kuliah di tempat biasa2 saja? Biar tidak hang, eror, stress nantinya karena ketemu orang pintar semua?

Saya paham sekali, tidak mungkin kampus2 top ini menerima semua orang. Tidak mampu kapasitasnya. Saya juga paham, test kepintaran adalah salah-satu alat yang paling adil untuk menyeleksi calon mahasiswa. Tapi semua orang juga harus paham, apakah sekolah itu hanya untuk orang yang pintar saja?

Siapa yang akan mendidik orang2 bego, bodoh, lambat kalau ternyata bagi mereka hanya tersisa sekolah2 yang cocok bagi mereka? Sedangkan sekolah top hanya mau mendidik yang top saja?

Tenang saja, sebelum kita berpikir kemana2, tulisan ini tidak didesain untuk berdebat panjang lebar, tidak perlu beradu argumen, cukup dipikirkan saja. Karena pada kenyataannya, kampus2 top itu sekarang malah asyik dengan cara lain merekrut murid2nya, dengan kriteria lain yang jauh sekali dari prinsip adil dan bermartabat. Tapi sy tidak akan membahasnya. Bisa pusing sendiri menghadapi sistem yg ada.

Catatan ini dibuat agar orang2 yang hendak menjadi guru, sedang menjadi guru, atau telah lama menjadi guru kembali mengingat prinsip mulia dari seorang pendidik. Apakah kita hanya akan mengajar murid2 yg pintar saja? Atau sebaliknya kita bersedia mengajar siapapun sepanjang orang itu bersedia menuntut ilmu kepada kita?

Mari kita beranjak lebih tinggi dari sempitnya sistem, dari rumitnya kebijakan, peraturan, regulasi. Mari kita tinggalkan itu semua. Pendidik berada di atas segala runyamnya situasi. Bahkan guru SD yang baik, terpencil lokasinya, jelas lebih penting dibanding pejabat2 dan sistem yang ada–setidkanya bagi murid2 di sekolah itu.

Panggil pemahaman terbaik kita. Bahwa semua orang berhak memperoleh pendidikan, termasuk murid kita yang paling lambat mengertinya, paling cemong, paling lusuh. Dia pun berhak atas pendidikan terbaik. Semua orang berhak mengecap pendidikan. Mau dia bodoh, miskin, berhak. Bahkan dalam kasus paling ekstrem, ketika dia malas sekalipun, dia tetap berhak memperoleh seorang guru terbaik untuk mengatasi kemalasannya, guru yang tidak mudah menyerah atas kemalasannya tersebut.

*Tere Liye, catatan menjelang rilisnya novel “Amelia”.

Perjalanan ke Bogor, melepaskan segala beban ..

Sebentar saya ambil tisu dulu,

Minggu, saya baru pulang dari kota bogor, dengan modal nekat ke bogor hanya dengan satu teman saya, kebetulan daerah bogor kota, daerah Bojong Gede. Sabtu saya berangkat meninggalkan Jakarta, dan hari Minggu sore saya sampai ke rumah, ah Kota Bogor itu sebenanarnya ndak terlalu jauh, sengaja karena kondisi finansial saya sedang berada di labil ekonomi, sehingga menimbulkan ketidakharmonisasi dan membuat kontreversi hati saya bertambah.

Oke lupakan vicky yang membuat saya jadi pusing membuka buku sastra yang harusnya saya baca, lupakan masalah dul yang membuat we chat kelas saya penuh dengan keluhan , bahwa motor teman-teman saya kena tilang polisi. Untung saya gak bisa naik motor, ah sudahlah lupakan.

 

Sebenarnya saya ini perempuan yang nekad, entah jiwa nekad ini muncul sejak kapan, sepertinya sejak saya masuk SMA..

Karena banyak tugas dan berburu barang praktikum serta buku-buku bagus, saya berkelana keliling Jakarta, bahkan saya sudah hafal para pedangang buku di kawasan Blok-m. Saya akui saya memang betul tinggal di kota Jakarta, tapi taukah kalian ? saya menginjakan kaki di monas kelas satu SMA, saat usia saya 15 tahun. Oke ini menyedihkan -_-

 

Saya memasukan baju dan keperluan penting utuk menginap, tas hitam kesayangan saya terlihat berat dan penuh, tapi justru menurut saya si hitam (nama tas saya) justru keren kalau terihat penuh dan berat seperti yang saya inginkan, tapi gak berta-berat juga ya, males juga kalau berat banget.

Saya nekad ke Bogor ke rumah Bude’nya teman saya, kebetulan Orang tua saya adalah orang yang mudah memberikan izin dengan syarart-syarat tertentu,  seperti sudah beres-beres rumah, sudah mencuci pakaian, tidak minta uang transport yang banyak.  -_- dan yang lebih penting saya harus menjaga kondisi badan saya tetap fit dan menjaga tensi darah saya tidak turun sehingga menyebabkan saya kelelahan lalu jatuh sakit, bila seperti ini maka di rumah mendadak ada seminar akbar dari celotehan kedua orang tua saya.

 

Saya ke bogor  untuk sampai ke stasiun harus naik angkutan umum dengan harga 5000 lalu barulah naik kereta commuterline dengan harga 3000 lalu angkot biru 4000 ditambah ojek 5000 . Jadi kalau di total 17 ribu, Pulang-balik Rp. 34.000,- cukup murah untuk kantong anak sekolah seperti saya. Apalagi kalau pulang tetiba di ongkosin sama bude, jadilah saya hemat sekian persen.

 

Saya betul-betul memaksakan diri ke bogor , padahal hari minggu ini ada pengambilan nilai atletik jam 7 pagi, tapi karena saya males dan mau menimati gunung yang saya tidak tahu namanya, sebab saya jenuh. Iya saya jenuh.

Saya sedang melakukan perjalanan hati, caelah….

Pagi-pagi sekali saya dan teman saya berjalan keluar komplek untuk melihat pemandangan gunung yang sayagnya letakya terlalu jauh, tapi setidaknya masih bisa di nikmati dengan jelas. Tidak seperti di Jakarta.

 

Ada lapangan hijau dan di pinggir jalan yang rusak parah di tumbuhi ilalang yang membuat dramatisir keadaan hati saya, saya duduk sama teman saya di lapangan . Menimati langit, berbicara mengenai mimpi dan sakit hati , pagi sekali kita keluarin semea uneg-uneg kita , di tutup dengan doa sambil melihat langit yang begitu luas. Saat kami mendongakkan pandangan kami ke langit biru yang sangat indah, benar-benar terlukiskan jelas Lafaz Allah , Kami terdiam takzim, merapalkan doa yang tulus , di lapangan hijau itu kami curhat dengan sang Pencipta,

 

Sayang tidak bisa menampilan gambar,  saya dan teman saya meninggalkan ponsel di rumah bude, tidak kami bawa karena hp itu membuat kami steress dan tidak fokus. Perasaan saya saat ini begitu lega, ah bogor memang cukup membantu saya dalam melepaskan beban hati saya yang mengendap selama bertahun-tahun, semalam di bogor juga saya gunakan untuk ajang intopeksi diri, kebetulan rumah bude itu di komplek yang sangat sepi,  posisi rumahnya dekat taman yang tidak terlalu luas di tambah kolam ikan dengan air mancur sederhana , yang pada akhirnya menimbulkan suara gemericik air, pas untuk membuat puisi dan merenung…

 

Ah bogor, saya mau dateng lagi, boleh ya ?

Makasih banget buat Bude dan anak-anak bude yang saya panggil “mbak “ , yang sangat baik hati dan perhatian , di rumah bude gizi ku membaik, habis makanan bude sehat dan enak-enak terus sih.. J

 

Ada yang hilang saat upacara tadi, aku a

emang nya persahabatan kita Ciki ? (:menampar sahabat )

Ada seseorang yang entah kerasukan apa, mengirimi saya sebuah pesan singkat yang mendadak membuat saya ingin cepat-cepat membuka note book di rumah untuk berbagi sedikit perasaan saya. Seseorang itu mengatakan

“ Mau berhenti nulis, penat “

Saya hanya terdiam membaca pesan yang masuk ke ponsel saya, berbagai analisa mulai muncul di fikiran saya, saya tentu tidak langsung membalas pesan tersebut, saya memutuskan berfikir tukar posisi, barangkali jika saya yang menagalami yang namanya keinginan berhenti menulis itu berarti ada inseiden besar yang sedang saya hadapi. Saya yakin, pesan singkat tersebut tidak semerta-merta meledak begitu saja, pasti ada alasan kuat dan yang menyertainya.

Sayangnya manusia yang mengirimi pesan singkat tersebut cenderung pendiam, saya memangilnya dengan sebutan  Uda… dia tipe orang yang susah untuk cerita apa yang dia alami, bahkan saya sempat berfikir seharusnya uda kursus merangkai kata untuk bicara. Berbeda dengan saya yang suka bercerita dan mengemumakan pendapat saya.

Uda, saya pernah berhenti nulis buku harian, berhenti mengerimkan perahu kertas ke neptunus, saya pernah berada di posisi yang membuat saya terpuruk dan berada di posisi jenuh dan penat, rasanya saya mau menghilang aja ke negara lain. Saya pernah merasakan itu, dan saya yakin setiap penulis mungkin pernah merasakan insiden dalam hidupnya yang membuat dia istirahat untuk menulis. Dan saat ini penyakit itu sedang menimpa uda,

Jujur saya sedih banget waktu uda sms saya mau berhenti nulis, terserah uda itu hanya sms iseng atau sungguhan . Tapi saya sedih, karena saya nggak ngerti uda benar-benar berheenti atau emang Cuma mau istirahat aja ? Tapi saya yakin, hidup uda itu udah gak bisa dipisahkan sama dunia tulis menulis, apalagi sama dunia persajakan. Uda itu berbakat sangat berbakat , uda gak perlu nunjukin uda itu penulis terkenal dengan cara membuat novel atau apa. Dengan uda menulis hal-hal yang baik aja untuk sesama, nulis di blog atau tumblr atau dunia maya, sungguh itu udah cukup.

Selama ini , banyak orang yang suka sama gaya tulisan uda, pemilihan diksi dan tulisan uda itu banyak berfilosofi, uda punya gaya menulis sendiri yang pastinya berbeda sama penulis-penulis lain.

Jujur, saya suka bingung kalau uda ada masalah tapi Cuma ngasih tahu nya singkat ndak mau njelasin yang panjang , biar aku ngerti dan gak salah paham, biar juga aku gak nge-judge uda ini begini atau begitu. Saya hafal, uda beberapa hari yang lalu sms saya , uda bilang saya ini tidak beruntung kenal uda, eh emang nya uda hadiah dari ciki ?

Da, pernah gak uda nyuruh saya untuk stalker habis saya tulisan-tulisan uda ? Gak kan, tapi saya stalker sendiri itu karena tulisan uda punya kekuatan untuk saya baca, tapi coba tulisan saya. Saya berkali-kali maksa dan ngasih tahu uda bahwa saya habis nulis inilah-itulah, saya selama ini maksa uda buat baca, Dari situ saya belajar, pembaca yang tulus pasti akan membaca tampa disuruh. Dan bukan berarti uda gak tulus, hanya saja saya tahu pasti ada alasan lain.

Jujur ya, saya gak suka banget kalau ada orang yang sms merendahkan dirinya, ayolah move up !!

Sekarang gini deh, Uda ..

Gimana saya mau ngerti perasaan uda, atau masalah apa yang uda hadapi kalau uda aja gak mau cerita ? kalau saya punya indera ke enam yang masih berfungsi baik saya pasti gak sebawel ini, mungkin setalah uda baca ini. Uda ngerasa bersalah banyak , terserah. Tapi jujur aku ngomong kaya gini karena  PEDULI sama uda.

Da, teruslah menulis, uda itu Cuma lagi mengalami yang namanya jenuh, cobalah curhat sama blog , coba lah ikut organisasi apa di tempat uda,  bantu-bantu bersih masjid kan lumayan biar gak  jenuh.

Oke, maaf in saya ya , saya gak bermaksud sok tahu sama apa yang sebnarnya uda rasakan, tapi ya beginilah saya, saya itu paling gak bisa ngeliat teman atau orang terdekat saya gak jelas dan ngerasa sendiri.

Sahabat yang baik adalah sahabta yang mampu menampar sahabat nya saat berada d jalur yang menyedihkan

Terseyumlah, Allah mencintaimu lebih dari yang kamu perlu

writing days 9 ( Love story : ketika cinta tidak memiliki rahim )

Kisah ini kembali tertulis dan membenai lidah, aku sampaikan kesedihanku kemarin pada angin yang berhembus, sungguh aku sangat ketakutan. Dimanakah kamu ? lihatlah, sekarang aku terlihat sangat menyedihkan dan kamu ada di sampingku

****

Deburan ombak seakan menamani hati yang sedang nelangsa ini, Matahari sore yang brsinar lembut menemani tangisku dan ceritaku tentangmu,

“Saat aku tahu aku sakit, aku memutuskan pindah ke luar kota “ aku membuka percakapan yang akan menyedihkan ini. Pria di sampingku masih menatap lurus senja di pantai

“Aku ketakutan, aku stress dlam waktu lama “ aku masih menjelaskan, sementara lelaki di sampingku masih terus terdiam.

“aku takut akan banyak hal, aku takut kamu gak bisa nerima keadaan aku ! “

Pria di sampingku menoleh dan mentapku dengan tatapa tajam

“Bicara apa kamu ? “ dia membuka suara, bertanya sinis

“Aku membicarakn hal-hal bodoh yang seharusnya tidak ada di fikiran aku, tapi kau harus sadar aku ini penyakitan dan gak bisa ngasih kamu seorang anak ! “

Air mata itu tertahan di sudut mata, rahangku mengeras menahan emosi dan air mata

“Kita akan tetap melanjutkan pernikahan !’’

Aku terdiam cukup lama, air mata itu tumpah dan senja di pantai ini benar-benar terasa menyedihkan

“Aku setiap hari mencintai kamu , kalau kamu gak ada gimana bisa aku hidup ? “ Pria di sampingku berujar

Aku menoleh, tersenyum dan menitihkan air mata lagi

“Di dunia ini, gak semua orang bisa jadi seperti bidadari , aku tahu hamil dan melahirkan adalah impian semua wanita d muka bumi ini. Tapi dalam beberapa kasus , Tuhan memberikan kamu cobaan seperti ini bukan untuk diratapi, tapi itu adalah ladang pahala untuk kamu, Kta bisa mengadopsi anak yatim di panti asuhan “

Aku tertunduk, meremas sapu tangan dan ucapan pria si sampingku benar,

“Aku ngerti, kalau orang yang dinyatakan sakit fikiran dia akan bilang dia sakit dan dia akan sakit, itu berlakukan buat kamu ? kamu dinyatakan sakit dan fikiran kamu terus bilang bahwa kamu ini penyakitan ! “

Pejaman mataku lelah lagi, tidak menyadari bahwa aku mengangukan kepalaku sendiri, ribuan butir penat hinggp penat hinggap saat itu juga mengeras di benakku

“Aku memang gak pernah sakit separah kamu, makanya Tuhan menjodohkan kita agar aku terus jadi orang yang bersyukur , “

Langit-langit senja semakin indah dan hatiku bahagia setengah mati mendegar peryataan itu

“Kesempatan untuk sembuh selalu ada, percaya sama saya , kita buat pernikahan kita bahagia “

Lelaki di sampingku tiba-tiba berdiri dari duduknya, meninggalkan aku seorang diri di pantai ini.

********************************

Maafkan aku sayang senja kala itu, lihatlah aku sekarang bisa melihat wajah ramahmu setiap membuka mata dan aku merasakan sel-selku yang rusak membaik

Sayang , maaf jika aku sering membuat masakan dengan rasa yang aneh, tapi kau tetap menghabiskanya, apa kau ini rakus ?

Sayang, lihatlah anak yang kita adopsi di panti asuhan ini aku beri nama Senja, persis seperti percakapan kita sebelum pernikahan.

Kamu adalah imam terbaik yang dipilhakn lagsung oleh Tuhan, dan aku ingin terus sembuh dan merangkai mimpi bersama kamu, karena hanya bersama kamu segala sesuatunya ada dan dekat,

Sayang, kisahmu benar dan aku mengerti akan satu hal “Anak kandung lahir dari rahim tapi anak angkat lahir dari hati  “

Terimakasih sayang, sepertinya aku mau pingsan lagi

Aku mencintaimu setiap hari..

******

Istriku, aku ini tampan

Itu sudah pasti, tapi aku baru sadar setelah menikah denganmu, ternyata beberapa kawanku menyampaikan kabar patah hati dari para wanita yang mengatakan aku tampan.

Dan pria yang baru sadar bahwa dirinya tampan ini ternyata sangat beruntung mempunyai istri sepertimu,

Masakananmu memang tak selalu lezat, bahkan abstrak

Wajahmu memang tidak selalu cantik , tapi sejuk untuk aku pandangi

Dan bacaan al-Qur’anmu juga tak semerdu guru ngajiku, tapi menarik

Dan saat kamu benar-benar mengabdikan hidupnya untuk menjadi istriku, aku merasa kado itu adalah kado indah dari Tuhan,

Terimakasih istriku, karena kamu memperlihatkan mata yang paling indah setiap aku membuka mata

Karena kamu, memperlihatkan senyum yang tulus di dapur saat masakanmu berkai-kali gagal,

Karena kamu, melawan sakit kamu dengan luar biasa.

Dan karena kamu sudah mau menemani hari-hariku

Terimakasih  bidadariku….

Writing days 10 ( Mari kita membicarakan masa depan .. )

Mari kita membicarakan masa depan,

 

Cita-cita menjadi guru bahasa Indonesia atau sarjana Humaniora tidak penah luntur samapi detik ini, bahkan tidak pernah kepikiran untuk mempunyai pilihan yang lain, bagi saya yang namanya pilihan terbaik itu ndak pernah menyisahkan pilihan ke B apalagi ke C, pilihan yang terbaik yang akan selalu unggul tidak ada apapun yang membuat hati melirik sesuatu yang lain.

Saya begitu mencintai sastra Indonesia, sebab saya suka menulis dan membaca , dua hobi yang saya percai bisa merubah hidup seseorang. Saya ingat betul, kalau saya sejak kecil tidak menulis buku harian saya mungkin sudah gila karena memendam masalah sendirian, dan saya dulu tidak memiliki kebranian untuk bercerita pada seseorang saya lebih suka memutuskan untuk menulis,

 

Banyak orang bilang, lulusan sarjana sastra atau pendidikan bahasa Indonesia itu di anggap tidak penting, apalagi jurusannya. Banyak orang  menilai, bahwa pelajaran bahasa itu pelajaran santai dan tidka terlalu penting. Oleh karena itu percaya atau tidak, jurusan sastra itu ndak mahal di banding jurusan MIPA, KEDOKTERAN, dan apapun yang berhunungan dengan dunia ekonomi atau jasa.

Seterah orang mau bilang apa, toh saya yakin tidak ada jurusan keren dan hebat , tidak ada fakultas atau universitas paling keren dan paling top, jurusan paling oke. Tidak ada.

Yang membuat penilaian itukan hanya manusia, tapi bagi saya keren atau tidak sungguh tidak penting, yang saya lihata daalh proses belajar . Apakah diisi dengan sungguh-sungguh dan kejujuran ?

 

Saya masuk sastra karena ya itu memang pasion saya, karena itu udah jodoh kali ya ? saya adalah orang yang percaya bahwa pasion seseorang sangat mempengeruhi, nih contoh ya saya di jurusan IPA, padahal saya gak mau, hasilnya apa ? ya setengah hati. Pasion adalah sesuatu yang tidak pernah kita bosan melakukanya, saya gak pernah bosan menulis dan membaca ,pasion adalah panggilan jiwa tidak ada paksaaan untuk melakukanya, buktinya teman-tema WP gak ada yang disuruh nulis, tapi nulis sendiri kan ?..

Pasion adalah sesuatu yang sangat kita sukai walau sudah bertahun-tahun bahkan menghabiskan waktu yang banyak kita habisi, tapi kita gak akan pernah bosan apalagi berniat menyudahi. Pasion adalah sesuatau yang sudah mendarah daging, dia akan membekas dalam perasaan kita dan terjalin lewat perasaan.

 

Pada akhirnya, pasion saya memang di dunia otak kanan, dan cenderung ke dunia merangkai kata dan membaca, saya yakin entah bagaimana mekanismenya bekerja Tuhan pasti akan mengantarkan kita pada apa yang kita sukai, contoh kecil aja deh, pada tahu sama mbak zie kan ? konon dia selalu ingin jadi jurnalis waktu SMA , akhirnya apa mbak zie sekarang jadi kuli tinta beneran..

 

Kalau kalian yang belum bersama , sama apa yang kalian cintai, sabar saja .. sabar sellau berhasil menemukan jawabanya. Pada  akhirnya entsh kapan kita pasti akan jadi diri kita sendiri….

 

Salam perjalanan rasa

 

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑