Writing challange ke 4, Baikah pada intinya ini mengoceh , dan pas sekali saya akan mengocehkan kekecewaan anak negeri ini pada Dapertemen Agama.

Kalian yang mungkin selama ini merasa Dapertemen Agama baik-baik saja, dan terlihat bak-baik saja, mungkin tertipu, ya tertipu. Masih ingatkah kalian tentang korupsi Al-Qur’an yang dilakukan oleh Dapartemen Agama, bahkan menurut survei Daparetemen agama adalah intasi pemerintah terkorup ke tiga , setelah DPR dan kepolisian, entah hasil dari mana.

Lupakan, saya akan berkisah betapa saya dan anak negeri yang bersekolah di dapartemen Agama benar-benar tercekik , saya lulusan MTS saat saya mts dulu, walaupun termasuk MTS negeri tapi kami tetep disuruh membeli buku, belum lagi kami disruh membayar uang try out saat saya kelas tiga, dan belum lagi embel-embel uang yang di luar sana gratis tapi di bawah naungan Dapartemen agama justru bayar, alasan klise : “Tidak ada dana “

Dulu saya berfikir, Dapartemen agama yang sekarang berubah nama menjadi kementrian agama memnag di anak tirikan oleh pemerintah pusat, bantuan operasional dari pemerintah , kementrian agama selalu mendapat jatah belakangan. Entah bagaimana mekanisme nya, yang pasti yang betul-betul saya rasakah imbasnya adalah.

Saat tahu 2012 saya masuk ke MAN, pada tahun tersebut pemerinntah sudah mewajibkan sekolah gratis 12 tahun dan semua SMA sudah tidak mengambil pungutan uang gedung, tapi sayang kementrian agama belum gratis, saya yang saat itu masuk dengan tadinya gembira karena ada kabar gratis menjadi nelangsa, sekitar 5 juta kami keluarkan. Lumayan untuk ukuran keluarga kami yang sederhana,

Masih di MAN di daerah lain ternyata uang operasionalnya ada yang 6-7 juta, belum belum sampai d situ keterlambatan ini berangsur selama tiga bulan, di saat uang SPP sudah tidak ada lagi, kami yang bersekolah di MAN mengelurakan uang SPP sekitar Rp. 500.000. sampai  Rp. 300.000. lalu barulah GRATIS !!!

Kami kira penderitaan orang tua kami sampai situ saja , tetapi sayang ternyata kami membeli buku pelajaran di tambah lembar kerja siswa dengan kisaran 300 ribu, lumayan. Belum lagi embel-embel aneh , seperti kartu pelajar seharga 25 ribu, dan saya hampir saja mematahkan kartu pelajar saya karena kesal. Kualitas cetaknya sangat tidak bagus dan tidak menarik bahkan Luntur.  MasyaAllah..

Pada intinya kami menajadi korban , saya dan teman-teman menjadi korban padahal , saya percaya kementrian agama melahirkan beberapa generasi penghafal al-Qur’an dan ikut  generasi terbaik di negeri ini,  saya buka sibuk menikam kementrian agama yang saya berada di bawah lindungan-nya. Hanya saja , saya kecewa..

Mereka sellau bilang TIDAK ADA DANA..

Kami seperti anak tiri, anak tiri yang dari dulu dianak tirikan. ….

Semua ini karena sistem KAPITALISME !!!!!!

Tetapi saya tidak pernah berhenti percaya bahwa masih ada orang-orang baik di dalam sana, ya semoga saja. Orang baik yang menurut ceritanya kalah jika sudah terjun ke dunia setan bernama Politik !!