Hamid, saya adalah seorang wanita yang hidup di abad 21, sementara kau telah pergi jauh sebelum kami yang mencintaimu mengahafal mati wajahmu.

Hamid, kepergian selalu menyisahkan kenangan sepanjang masa, selalu menyisahkan berbagai luka hampa yang tak dapat terlihat secara kasat mata, luka yang sejatinya adalah kerinduan terdahsayat kami kepadamu.

Hamid, telah kau ketuk pintu rumh tuhanmuu dengan segala kesucian tanganmu dengan segala keredahan tertulus sepanjang masa, kau rapalkan doa dan sujud panjang dalam hidup yang menajdi gelap pada masa hitam yang memekat.

Hamid, kakikmu telah berjalan dengan penuh persaksian, maka kami hanya bisa gemetar sepanjang masa membaca untaian huruf sejarahmu , menapak setiap kerinduan di tanah suci , merapalkan doa panjang tak berkesudahan sambil mencari hadirmu di depan mata..

Hamid, kesabaran, keteguhan serta kesucian adalah kamu.