Sebentar saya ambil tisu dulu,

Minggu, saya baru pulang dari kota bogor, dengan modal nekat ke bogor hanya dengan satu teman saya, kebetulan daerah bogor kota, daerah Bojong Gede. Sabtu saya berangkat meninggalkan Jakarta, dan hari Minggu sore saya sampai ke rumah, ah Kota Bogor itu sebenanarnya ndak terlalu jauh, sengaja karena kondisi finansial saya sedang berada di labil ekonomi, sehingga menimbulkan ketidakharmonisasi dan membuat kontreversi hati saya bertambah.

Oke lupakan vicky yang membuat saya jadi pusing membuka buku sastra yang harusnya saya baca, lupakan masalah dul yang membuat we chat kelas saya penuh dengan keluhan , bahwa motor teman-teman saya kena tilang polisi. Untung saya gak bisa naik motor, ah sudahlah lupakan.

 

Sebenarnya saya ini perempuan yang nekad, entah jiwa nekad ini muncul sejak kapan, sepertinya sejak saya masuk SMA..

Karena banyak tugas dan berburu barang praktikum serta buku-buku bagus, saya berkelana keliling Jakarta, bahkan saya sudah hafal para pedangang buku di kawasan Blok-m. Saya akui saya memang betul tinggal di kota Jakarta, tapi taukah kalian ? saya menginjakan kaki di monas kelas satu SMA, saat usia saya 15 tahun. Oke ini menyedihkan -_-

 

Saya memasukan baju dan keperluan penting utuk menginap, tas hitam kesayangan saya terlihat berat dan penuh, tapi justru menurut saya si hitam (nama tas saya) justru keren kalau terihat penuh dan berat seperti yang saya inginkan, tapi gak berta-berat juga ya, males juga kalau berat banget.

Saya nekad ke Bogor ke rumah Bude’nya teman saya, kebetulan Orang tua saya adalah orang yang mudah memberikan izin dengan syarart-syarat tertentu,  seperti sudah beres-beres rumah, sudah mencuci pakaian, tidak minta uang transport yang banyak.  -_- dan yang lebih penting saya harus menjaga kondisi badan saya tetap fit dan menjaga tensi darah saya tidak turun sehingga menyebabkan saya kelelahan lalu jatuh sakit, bila seperti ini maka di rumah mendadak ada seminar akbar dari celotehan kedua orang tua saya.

 

Saya ke bogor  untuk sampai ke stasiun harus naik angkutan umum dengan harga 5000 lalu barulah naik kereta commuterline dengan harga 3000 lalu angkot biru 4000 ditambah ojek 5000 . Jadi kalau di total 17 ribu, Pulang-balik Rp. 34.000,- cukup murah untuk kantong anak sekolah seperti saya. Apalagi kalau pulang tetiba di ongkosin sama bude, jadilah saya hemat sekian persen.

 

Saya betul-betul memaksakan diri ke bogor , padahal hari minggu ini ada pengambilan nilai atletik jam 7 pagi, tapi karena saya males dan mau menimati gunung yang saya tidak tahu namanya, sebab saya jenuh. Iya saya jenuh.

Saya sedang melakukan perjalanan hati, caelah….

Pagi-pagi sekali saya dan teman saya berjalan keluar komplek untuk melihat pemandangan gunung yang sayagnya letakya terlalu jauh, tapi setidaknya masih bisa di nikmati dengan jelas. Tidak seperti di Jakarta.

 

Ada lapangan hijau dan di pinggir jalan yang rusak parah di tumbuhi ilalang yang membuat dramatisir keadaan hati saya, saya duduk sama teman saya di lapangan . Menimati langit, berbicara mengenai mimpi dan sakit hati , pagi sekali kita keluarin semea uneg-uneg kita , di tutup dengan doa sambil melihat langit yang begitu luas. Saat kami mendongakkan pandangan kami ke langit biru yang sangat indah, benar-benar terlukiskan jelas Lafaz Allah , Kami terdiam takzim, merapalkan doa yang tulus , di lapangan hijau itu kami curhat dengan sang Pencipta,

 

Sayang tidak bisa menampilan gambar,  saya dan teman saya meninggalkan ponsel di rumah bude, tidak kami bawa karena hp itu membuat kami steress dan tidak fokus. Perasaan saya saat ini begitu lega, ah bogor memang cukup membantu saya dalam melepaskan beban hati saya yang mengendap selama bertahun-tahun, semalam di bogor juga saya gunakan untuk ajang intopeksi diri, kebetulan rumah bude itu di komplek yang sangat sepi,  posisi rumahnya dekat taman yang tidak terlalu luas di tambah kolam ikan dengan air mancur sederhana , yang pada akhirnya menimbulkan suara gemericik air, pas untuk membuat puisi dan merenung…

 

Ah bogor, saya mau dateng lagi, boleh ya ?

Makasih banget buat Bude dan anak-anak bude yang saya panggil “mbak “ , yang sangat baik hati dan perhatian , di rumah bude gizi ku membaik, habis makanan bude sehat dan enak-enak terus sih.. J

 

Ada yang hilang saat upacara tadi, aku a