Empat hari, empat malam terombang-ambing di kapal besar yang berangkat dari Jakarta menuju kota Padang, Sumatera Barat. Alina berdiam sejenak , menunggu kerumunan manusia yang sedang berebut turun karen tidak sabar menginjakan kaki di ranah minang, Alina tida suka berdiri di antara kerumunan itu, selan resiko sesak nafas dan terdesak , resiko di copet juga besar. Jadi lebih baik, dia bersantai beberapa menit, menunggu para penumpang turun , menyisahkan beberapa orang di kapal yang sekarang sudah lelah dan tertidur di pelabuhan.

Angin laut terasa kecang, jilbab yang Alina kenakan bergera-gerak dramatis, mata Alina mencari-cari sosok laki-laki , laki-laki yang menyebabkan Alina nekat berangkat dari Jakarta ke kota Padang,

Alina membuka ponsel-nya, ada pesan masuk

“Dik, kamu pakai baju apa ? ciri-ciri kamu gimana ? “ begitulah isi pesannya. Alina cepat membalas

“Manis, pokonya aku manis, pakai jilbab berwarna unggu  baju hitam  , pakai ransel hitam , aku berdiri dekat toko makanan “

Kemudian beberapa menit kemudian , sebuah pesan masuk

“manis ? emang muka nya pakai bedak gula tadi ? “

“ eh, cepetan !! uda dimana ? berat nih tas , bawain. Gak kasihan apa sama aku ? “

“Emangnya uda kuli angkut barang ? “

“emang iya kan , buruan jemput, lama banget sih, uda tahu aku gak suka lama-lama “

Juna nama pemuda yang di panggil uda itu, memasukan ponsel lantas segera mencari sosok perempuan yang bahkan sama sekali belum di temuinya, seorang gadis yang ia kenal lewat tulisan-tulisan nya di dunia maya. Langkahnya terhenti, angin laut membuat dramatisir keadaan, Juna pasti tidak salah lihat, seorang gadis belia yang berdiri anggun di samping toko makanan , berjilbab unggu memakai baju hitam dan ransel di pundakya memang terlihat berat. Duhai, manis sekali, desis nya pelan.

Alina pasti tidak salah lihat, seorang lelaki dewasa yang tinggi-nya bahkan setara dengan-nya, lelaki yang beberapa tahun belakangan ini tidak pernah absen dia stalker , Juna nama lealki itu, berjalan cepat dari kejauhan, Alina malah tertawa.

“Alina kan ? “ tanya Juna

“Bukan, ih sok kenal !! dasar modus “ jawab Alina santai

Mereka berdua terasa canggung, lantas tertawa tidak jelas. Juna mengajak Alina beristrahat di sebuah restoran sederhana yang tidak jauh dari pelabuhan, duduk semeja membuat mereka berdua canggung, tidak berani menatap mata satu sama lain, mengalihkan pandangan ke ponsel.

“Gimana ? enak naik kapal ? “

“Ya enggak lah, orang gak bisa dimakan “

“Oh iya lupa “

“Eh da.. “

“Apa ? “

“ Kok uda mirip mas-mas kantin di kampus aku sih , sumpah mirip banget !! “ ucap Alina dengan polosnya.