Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

October 2013

Semoga ada Sebaya dan Sejalan

Saya kadang merasa begitu sendirian. Adakah seseorang yang sebaya dengan saya dan bisa saya ajak diskusi ini itu. Teman yang pikirannya dapat menipu orang lain karena usia yabg terlampau belia.

Saya selalu berjalan sendiri. selalu bertanya takut-takut pada mereka yang tua. Saya sering menyembunyikan bahwa saya masih muda. Mereka kira saya sudah dua puluh tahun lebih.

saya ingin punya teman yang mengerti pola pikir saya. mengerti bahwa dunia ini kacau sekaligus lucu. Tanpa mengurangi masa-masa tertawa cekikikan. Sekolah sudah memenjarakan banyak hal, tidak banyak guru yang mengabdi. lebih banyak yang bekerja.

saya ingin punya teman yang bisa saya ajak diskusi santai soal Filsafat semiotika. Antopologi, sosiologi. Sastra atau Psikoligi.
membicarakan sains walaupun tak ada satu pun rumus IPA yang saya hafal (saya sungguhan)

saya begitu mengingkan ada teman yang ketika saya menyampaikan pendapat mereka bisa membantai, bukan cuma ber-iya-oh

suatu hari saya harus menemukan seseorang yang sebaya dengan saya dan pemikiranya saya kagumi. Kalau dia laki-laki baguslah saya sudah bisa beradaptasi.

kalau perempuan semoga saya bisa berhubungan baik (dalam sejarah hidup sampai saat ini saya sellau bermasalah dalam membangun hubungan dengan perempuan)

Semoga… semoga…

Advertisements

Coretan : masih merindukanmu

 

Soalnya kau  tidak pernah tahu, beberapa tahun yang lalu menjelang kelulusan  SMA, waktu itu aku menyandang status adik kelas, dan kau sedang bahagianya dengan sebuah pesta kelulusan. Sementara hatiku  mendadak takut akan banyak hal, takut kerinduan itu menyergapku dimana-mana.

Kau masuk UI di  jurusan kedokteran ,aku tidak kaget, satu sekoalah pun tahu kau anak yang cerdas, sementara aku kini sudah memakai almamater kampus UPI, jurusan pendiidkan bahasa Indonesia.

Kota Bandung dan Depok, kita terpisahkan, sebenarnya aku yang merasa dipisahkan , kau tidak ! soalnya aku yakin aku tidak begitu penting dalam kehidupanmu,

Beberapa yang kau ingat dariku mungkin hanya, aku adalah wanita teman dekat kakakmu dan sering menitipkan novel kepadamu, hanya itu. Tidak lebih.

 

Matahari sudah mulai bersembunyi dari langit, aku termenung di statisun kota depok, langkahku dari Bandung terhenti, Depok –kampusmu .

Aku mengalihkan pandangan ke arah  lain, dan aku menemukan seseorang yang selama ini aku rindukan sedang sama terdiamnya denganku. Aku membranikan diri menghapirimu  , sekedar menyapa dan ingin bertanya kabar.

Aku mengucapkan sepatah kata salam yang kau susul dengan  ekspresi kaget dan tampang datarmu, aku tersnyum mencoba menghilangkan gemetar di tanganku. Disusul dnegan pertanya apa kabar ? bak seseorang kawan akrab, kau  menjawabnya baik, tapi aku yakin kau sedang bingung bicara dengan siapa. Soalnya aku yakin, kau bisa jadi lupa. Karena suadah membaca fikiranmu, aku  lantas mencoba mengingatkanmu , kau ingat dan  tersenyum tipis.

 

Kau  tidak berubah, masih sama datarnya seperti dulu, dan aku memutuskan permisi meninggalkanmu dengan hati yang entah bagaimana aku jelaskan, setelah aku menitipkan salam kepada kakak perempuanmu yang  juga aku rindukan.

Mendadak air mata itu jatuh membasai pipiku, aku  merindukanmu  masih merindukanmu.

Lima detik

 

Tatapan kita bertemu.

Lima detik, dan disusul dengan senyum  maluku

Kau yang terbiasa ada di depanku

Dan aku yang terbiasa menikmati punggungmu

Taukah kau,

Kegugupan itu tidak pernah hilang

Apalagi jika aku dan kau hanya berjarak beberapa langkah

Kenapa auramu selalu berhasil membuatku kelu

Kaukah  lelaki yang memenuhi catatan hatiku ?

Yang kusebut namanya di ujung ibadahku ?

Dan tidak pernah aku berhenti menitipkan salam  pada rinai hujan yang menyapa.

 

Kau tidak pernah mmebuatku menangis

Sebab, mencintaimu adalah rumus sederhana

Aku melepaskanmu, membiarkanmu terbang di arenamu

Sementara , biarkan aku  menjadi wanita yang berstatus “kenalan” dan “adik kelas”

 

Soalnya, kau tak perlu tahu

Seberapa kagum diriku padamu,

Sebab aku  juga bingung apakah cinta ini hakiki atau  sementara ?

Aku pasrahkan saja pada Tuhan,

Sebab dia yang tahu kemana hatiku akan bertepi.

 

 

 

 

Kak Yana

Kak Yana,

Betapa aku begitu fasih mengingat bulir bening yang mengalir begitu lembut di pipimu.

Teringat kita berdua yang berkisah di fakultas ilmu budaya, Universitas Indonesia.

Betapa aku ingat kisah ayahmu yang mengharukan , tapi kita tertawa dengan getir. Seadainya ada pintu ajaib, ingin ku seludupkan separuh cahaya agar dapat mematamatai perasaan yangsedang kau coba manipulasi, kau bilang bahagia ka. Tapi ada susut di amatamu yang ingin mengalir.

Aku lantas, mulai berkisah tentang ayahku yang telah lama meninggal sebelum aku tahu bagaimana rupanya, tentang keluargaku yag entah dimana, dan tentang kisah hidupku yang begitu nestapa. Namun aku sendiri tertawa menceritakan kesedihan yang aku alami, mendadak kau menangis ka.

Aku semaki tertawa, bingung kenapa kau menangis emndengar kisahku yang klasik ini.

 

Ka Yana, kita kemudian saling menghapus air mata yang menaglir di pipi, tetapi air mata yang berada di hati, tentu hanya Tuhan yang mammu menghapusnya, sebagai manusia kita nayan mencoba melawan segala paket nestapa ini.

Ka Yana, sebenarnya pada waktu itu sepanjang perjalanan kita d UI aku gemetar, karena selalu teringat akan tangisan mu yang menangisi segala paket kesedihan yang aku hadapi, Aku yakin betul air mata yang kau tumpahkan begitu tulus , rasa empati itu.

 

Ka Yana

Apa kabar ? semoga kau baik-baik saja, tahun ini aku yakin kau bisa duduk di fakultas teknik UI

Semoga doa-doa yang kita rapalkan di jamah oleh Tuhan, aamiin.

Entah hitam, entah coklat

Entah hitam entah coklat

Warna matanya, tapi sepertinya berwarna coklat  itupun tidak bisa terlalu yakin. Dan semua ini di desain dengan kebisuan yang nyata.Diam yang membuat segalanya terihat tidak jelas, diam yang menyiakan beberapa sesak di dada.Masih dia yang bertahan di ruang hati, secara alamiah dia tidak mungkin terlewatkan atas segala hal.

Namun aku malas, mengubris segala bentuk perasaan yang terus buncah setiap harinya, malas mengkorfrimasi kehadiranya di hatiku yang menginjak satu tahun  pada masa putih-abu-abu.

Aku tidak pernah merasa rugi, yang menarik dari semua topik pembicaraan adalah dia, sementara aku tetap saja mengandung status “kenalan” dan “adik kelas”.

Sejenak aku teringat , tentang pendakian gunung yang selalu aku impikan dapat terwujud, tempat dia pernah berpose di atas gunung Gede.

Aku selalu teringat hobi barunya mendaki gunung,  membuatku sempat berdoa agar Tuhan mempertemukan aku tidak sengaja dengannya saat pendakian.

Aku selalu berkisah, tentang dia yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja, siluet punggung yang hanya bisa aku nikmati bayangannya, sebab jika dia menoleh aku seperti retak tak beraturan.

Aku menghela nafas, kisah ini terasa semakin aneh jika di kenang, bahwa aku sampai di bagian jatuh cinta pada seseorang yang hanya sanggup aku puja dalam hati, seseorang yang selamannya bisa jadi tidak mengingat penting kehadiranku di hidupnya.

Suara pertama, dia

 

Ada  rasa pada hari ini, yang ingin saya tuliskan pertama adalah rasa haru saya:

Hari ini saya seperti bermimpi, dia datang ke kelas program alam membuka pintu dengan lembut, kami sekelas bingung: Seorang senior ternama datang ke kelas , pasti ada sesuatu hal yang ingin di sampaikan.

Dia.

Saya gemetar , mendadak panas dingin.

Teman-teman kelas saya menghadapkan wajahnya kepada saya, bermaksud melihat ekspresi saya yang gugup. Saya tidak tahu, mengapa rahasia hati saya bisa terdengar di kelas ini. Saya salah tingkah, memutuskan menunduk saja, saat da mulai berbicara sesuatu.

“Saya berdiri di sini, bukan sebagai ketua kelas

Saya ingin menyampaikan sesuatu yang penting, saya sebagai umat muslim dan kalian sebagai umat muslim … “

Tampa dia teruskan pun saya tahu, neuron saya berhubungan cepat, saya tahu apa yang akan dia bicarakan kepada kami,

“Menurut saya, kampus kita cukup maju!!, bisa kita lihat di setiap ruang kelas ada LCD nya dan ada AC nya, gedung-gedung pun  mulai di rapikan di perbarui, tapi saya iri dengan gedung-gedung yang lain , kenapa gedung yang satu ini di abaikan “ dia berhenti di situ

Teman-teman saya menjawab serempak “ Musholla “

Ya benar, musholla kampus kami memang dikatakan sudah cukup tua, beberapa atap terlihat jelas bolong dan rapuh, cat-cat mushola juga mulai pudar, belum lagi tempat wudhu sekolah yang bersebelahan antara wanita dan laki-laki  tidak di batasi sebuah hijab, bagi saya dan teman-teman yang berusaha menutup aurat dengan baik tentu itu sangatlah mengganggu.

“Jadi saya sebelumnya udah mencoba mengajukan proposal dan memang mushola kita memang mau di rombak total di buat menjadi dua lantai, tapi saya rasa sambil menunggu itu kita gak bisa diam saja “  dia muali berkisah, kami sekelas diam menyimak.

“Contoh, ada seorang anak yang ikut pergi ibunya ke pasar, nah si ibu menyuruh sang anak untuk menunggu selama empat jam ke depan di depan sebuah toko, si anak tersebut menurut. Dalam waktu empat jam itu ada tiga plihan yang si anak bisa lakukan, pertama hanya diam bermalas-malasan yang ke dua ketika ada pedangang dia bertanya bagiamana proses pembuatan dan yang terakhir ketika sang anak melihat seseorang kerepotan membawa barang dagangan , maka sang anak menghabisakn waktunya untuk membantu , maka .. mana yang lebih baik ? “ tanyanya

“Yang ke tiga “

“Nah, oleh sebab itu sambil menungggu renovasi total kita bisa menyisihkan uang jajan kita dua ribu seminggu satu orang untuk perenovaisan keceil-kecilan, agar mushola terlihat lebih nyaman “

 Selanjutnya dia menjelaskan bagimana mekanisme pembayaran, dan terakhir aku mengusungkan diri menjadi panitia di program ini,  tidak bermaksud modus, hanya saja niat itu tulus.

Gemetar masih terus menjalar di tubuh saya, setelah dia berlalu dan menutup pintu, tiba-tiba saya menitihkan air mata bahagia, dalam hidup saya akhirya saya bisa mendengar dia berbicara langsung  di depan mata.  Selama satu tahun , saya menunggu suara itu, ya Tuhan..

                                                                                                                                Fajar, Jakarta 17 Oktaloviani

Pemakaman, bulan ini..

Sebabnya sebagai manusia kita memang harus mempersiapkan segala bentuk kepergian yang akan membuat separuh hati mnjadi kosong dan hampa sebelah, sebab kepergian akan meninggalkan bekas yang tidak dapat tergambarkan oleh apa-apa. Kepergian selalu menyisahkan duka yang mendalam, bahkan kenangan menjadi sesuatu yang dikobarkan bahwa kita harus menelan segala kesendirian. Menelan segala kemungkinan bahwa kematian adalah sebuah kepastian, dan kita seperti antri panjang menunggu di panggil sang penjemput nyawa.

 

Hari ini, langit Jakarta pekat dengan segala warna-warna kesejukan, tetapi kesejukan itu terasa janggal bila menghiasi langit Jakarta, sebabnya sebuah firasat sudah mencoba mengetuk-ngetuk ruang hati. Dan benar saja, Minggu 13-10-2013 Ada kepergian yang menjemput, seseorang dalam hidupku di panggil pulang.

Sebelumnya saya hanya duduk-duduk saja di tuang tamu, menmbaca dengan penuh dada yang sesak sebuah novel mengena lelaki yang terpuji sepanjang masa : Muhammad , lelaki pengengam hujan karya Tasaro gk.

Baru samapai di halaman ke 50-an dari jumlah 500 halaman, hati saya seperti merasakan kebiadaban kaum Quraish, dan kebiadaban itu di warisakan di abad 21 ini oleh penganut paham : Syah di panglimakan oleh , Basshar Al’Assad , yang umat muslim doakan kematian terburuk menimpanya.

 

Hati saya terbawa memangis mengenai  kisah-kisah sahabat-sahabat Himada yang mati mulia dengan tubuh yang dirusak oleh kaum kafir, dan tiba di halaman ke 60, kakak perempuan saya berbicara dengan nada yang berbeda, ponsel seperti ingin jatuh di tangannya.

“Li, “ kata kakaku mengantung pasrah, aku menghadapkan wajahku

“Bapak Tharmudin meninggal “ kalimat itu meluncur

Saya lemas, “Innalilahhiwainnalilllahirojiun “

 

Saya tahu itu akan datang juga, sebab saya sudah memiliki firasat saat Bapak jatuh sakit dan harus di rawat di kampung halamannya, dirawat dengan menyedihkan. Dari kabar yang terdengar, harta beliau mulai habis membiayai sakit yang bapak derita. Saya sudah berfirasat , seperti beliau akan pergi.

Saya tenggelam dalam rutiitas, dan benarlah, beliau pergi dengan damai meninggalkan istri dan ketiga anakknya.

Usai shalat wajib, saya menitihkan air mata saat beribadah, saya mendadak menjai takut bagaimana kalau saya yang selanjutnya di panggil ? bagaimana jika Orang tua saya ? saya gemetar ditutup dengan bacaan surat Yasin.

 

Dan sore ini, Jakarta di guyur hujan deras, saya termanggu di teras depan rumah,

“Bapak, saya percaya saya adalah anak yatim yang paling bapak kasihi, saya ingat betul bapak suka menyisihkan rezeki untuk jajan saya, bapak suka mengajak saya pergi keliling Jakarta, dan hari ini Pak, anak bapak menjadi Yatim, terimakasih pak, semoga kubur bapak Dilapangkan “

Air mata saya tumpah deras, kenangan mengujam saya bertubi-tubi

Semua ini berawal dari ” Neng, sini toh neng ”

Rasanya, mau guling-guling di lantai kelas

Mau makan meja sekolah, mau memukul AC

Tapi, nggak jadi…

Al hasil, hanya bisa menatap kosong wajah guru di depan kelas saya, kosong sehingga tertidur, eh enggak deng , saya tetap membuka mata dengan perasaan terbebani,

 

Semua ini berawal dari, ketika negara api datang membawa guru kimia menyerang kelas saya :

 

**********

“ Nadilla, sini to neng “ kata guru saya, yang akrab di sapa bu Wahyu, logat solo nya kental sekali

Nadilla teman saya yang namanya merasa di panggil menghampiri bu Wahyu dengan degup jantung yang kencang, mungkin sangking kencangnya dapat membuat gempa kecil di kelas saya. Oke berlebihan.

“Kamu kenapa to neng, nilaimu ini remed terus , ndak bagus-bagus “ ucap bu Wahyu

Kami sekelas termasuk saya langsung cenggo, dalam hati “perasaaan kita satu kelas ini emang semua remed deh “

Nadilla terdiam, bingung mau jawab apa

Lalu bu wahyu mengamati daftar nilai, mencari mangsa selanjutnya ,Saya hampir mau loncat dari kelas

Dan…….. da…..da…..dannnnn……

 

“Vera”

“April “

Kamu juga maju.

 

Puf! Setidaknya nama saya selamat kali ini, jadilah teman saya bertiga menajdi korban , bu Wahyu meminta mereka untuk memberi tahu orang tua, bu Wahyu ingin bicara pada orang tua mereka. Saya dan teman-teman yang duduk bukan merasa lega atau bahakan senang setidaknya bukan nama kami yang di panggil, tentu tidak !

Justru kami merasa ada beban yang akan menghampiri, saya diam menatap pelajaran kimia dengan kosong.

Seandainya ada yang menyalakan lagu MP3 “ayat-ayat cinta” mungkin lebih klasik, saya akan seperti Maria yang menulis buku hariannya di pinggir sungai Nil dengan mata yang kosong.

Anak jurusan Ilmu alam tahu, jika nilai jurusan buruk, maka kami akan di tendang ke jurusan sosial.

Saya sudah kecemplung jauh di ilmu alam, sudah enak dengan teman-teman kelasnya, sudah menemukan semangat belajar, setelah berbulan-bulan saya menangis dalam hati di jurusan ini, tetapi sekarang saya sudah betah.

 

Dan beban saya juga adalah, ternyata kembali ke sistem reguler itu bikin sesak fikiran, belajar dari sistem IP yang sudah di terapkan lalu tiba-tiba di hapuskan dan menggulang kembali pelajaran, membuat saya dan teman-teman bingung mati-matian, kelagapan dengan pelajaran lama. Kami belum bisa beradaptasi, di tamabh guru-guru yang banyak ganti, dan juga semester ini kita banyak sekali tugas dan tanggung jawab sebagai senior..

 

Dan rasa sayang saya di jurusan ini, tentulah ada perjuangan yang harus saya hadapi, lahir dengan kemampuan otak yang jomplang sebelah, membuat saya harus mengajak bekerja sama otak kiri, mengajak bekerja sama otak kanan saya yang terlalu aktif.

Dan saya mendadak menajdi teringat novel : NEGERI LIMA MENARA

Tentang perjuangan bang Fuadi di sekoalh yang dulu dia tidak cintai menjadi dia rindukan,

Lagi juga, saya gak mungkin mnegecewakan orang tua saya terutama Mama, yang kesekian kalinya.

Mama, kayaknya aku ngeselin ya tiap hari ?

Aku minta doa ya ma, aku berjanji akan terus mengalahkan rasa malas menuntut ilmu…

 

Kepada Alif : Lima Menara

 

Alif,

Saya merasa lelah sekali belakangan ini, tugas-tugas  seperti mengejar dan minta dikerjakan, tapi setiap lelah itu mengukung kepalaku, saya ingat sesuatu Lif, ingat betapa remuk nya jantung saya ketika dosen pembimbing saya , menyerahkan kertas laporan hasil belajar, nilai saya tertinggal beberapa koma , memang lebih baik Lif, rapot semester kemarin lebih baik, setidaknya diatas rata-rata. Tapi Lif, entah kenapa saya merasa ada yang salah, ada Lif ada yang salah , dan setelah saya pikir-pikir penyebabnya adalah :

 

1.      Saya malas mungkin Lif, malas mengulang pelajaran ketika sudah menjelang sore, padahal mengulang pelajaran yang hari itu diajarkan adalah sebuah kesaharusan yang seharusnya dilakukan Lif

2.      Kosakata bahasa Arab dan bahasa Jepang juga hanya sedikit Lif, saya bisa jadi malas menghafal kosakata baru, jadinya kosakata saya hanya segitu-segitu saja, saya ini anak sastra Lif kenapa jadi malas belajar sastra ?

 

Apa lagi lif ? beberapa hari yang lalu, saya mengkaji Al-Qur’an dan hadist tentang nikmat-nikmat Allah, dan Guruku bilang, jika kita tidak mau belajar maka kita termasyk kufur nikmat Lif, menyedihkan dan merasa berdosa mendengar kalimat tersebut.

Lif, saya teringat seseuatu; tentang  semanggat kamu yang pernah belajar di tengah kegelapan malam, kamu yang merasa pemahaman kamu pas-pas san sehingga harus belajar lebih ekstra lagi di tengah malam, gelapnya asrama Gontor.

Kamu yang ketakutan dengan bahasa arabmu yang pas-pas san, sehingga membuat mu pasrah-sepasrah nya menjawab ujian praktek bahasa arab.

 

Ah, lif

Aku berjanji pada diriku sendiri bahwa kau kana melawan rasa malas itu lagi, hidupku sudah sedemikian susahnya lif, kalau saya tak pandai maka saya merasa sia-sia lah hidupku ini, lagi pula saya lebih mencintai proses belajar ketimbang hasil yang bisa dimanupulasi, tapi saya sadar Lif, kita akan sendiri ujian pun akan sendiri, ..

 

Terimakasih Alif, yang sudah menyemanggati saya

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑