Sebabnya sebagai manusia kita memang harus mempersiapkan segala bentuk kepergian yang akan membuat separuh hati mnjadi kosong dan hampa sebelah, sebab kepergian akan meninggalkan bekas yang tidak dapat tergambarkan oleh apa-apa. Kepergian selalu menyisahkan duka yang mendalam, bahkan kenangan menjadi sesuatu yang dikobarkan bahwa kita harus menelan segala kesendirian. Menelan segala kemungkinan bahwa kematian adalah sebuah kepastian, dan kita seperti antri panjang menunggu di panggil sang penjemput nyawa.

 

Hari ini, langit Jakarta pekat dengan segala warna-warna kesejukan, tetapi kesejukan itu terasa janggal bila menghiasi langit Jakarta, sebabnya sebuah firasat sudah mencoba mengetuk-ngetuk ruang hati. Dan benar saja, Minggu 13-10-2013 Ada kepergian yang menjemput, seseorang dalam hidupku di panggil pulang.

Sebelumnya saya hanya duduk-duduk saja di tuang tamu, menmbaca dengan penuh dada yang sesak sebuah novel mengena lelaki yang terpuji sepanjang masa : Muhammad , lelaki pengengam hujan karya Tasaro gk.

Baru samapai di halaman ke 50-an dari jumlah 500 halaman, hati saya seperti merasakan kebiadaban kaum Quraish, dan kebiadaban itu di warisakan di abad 21 ini oleh penganut paham : Syah di panglimakan oleh , Basshar Al’Assad , yang umat muslim doakan kematian terburuk menimpanya.

 

Hati saya terbawa memangis mengenai  kisah-kisah sahabat-sahabat Himada yang mati mulia dengan tubuh yang dirusak oleh kaum kafir, dan tiba di halaman ke 60, kakak perempuan saya berbicara dengan nada yang berbeda, ponsel seperti ingin jatuh di tangannya.

“Li, “ kata kakaku mengantung pasrah, aku menghadapkan wajahku

“Bapak Tharmudin meninggal “ kalimat itu meluncur

Saya lemas, “Innalilahhiwainnalilllahirojiun “

 

Saya tahu itu akan datang juga, sebab saya sudah memiliki firasat saat Bapak jatuh sakit dan harus di rawat di kampung halamannya, dirawat dengan menyedihkan. Dari kabar yang terdengar, harta beliau mulai habis membiayai sakit yang bapak derita. Saya sudah berfirasat , seperti beliau akan pergi.

Saya tenggelam dalam rutiitas, dan benarlah, beliau pergi dengan damai meninggalkan istri dan ketiga anakknya.

Usai shalat wajib, saya menitihkan air mata saat beribadah, saya mendadak menjai takut bagaimana kalau saya yang selanjutnya di panggil ? bagaimana jika Orang tua saya ? saya gemetar ditutup dengan bacaan surat Yasin.

 

Dan sore ini, Jakarta di guyur hujan deras, saya termanggu di teras depan rumah,

“Bapak, saya percaya saya adalah anak yatim yang paling bapak kasihi, saya ingat betul bapak suka menyisihkan rezeki untuk jajan saya, bapak suka mengajak saya pergi keliling Jakarta, dan hari ini Pak, anak bapak menjadi Yatim, terimakasih pak, semoga kubur bapak Dilapangkan “

Air mata saya tumpah deras, kenangan mengujam saya bertubi-tubi