Rasanya, mau guling-guling di lantai kelas

Mau makan meja sekolah, mau memukul AC

Tapi, nggak jadi…

Al hasil, hanya bisa menatap kosong wajah guru di depan kelas saya, kosong sehingga tertidur, eh enggak deng , saya tetap membuka mata dengan perasaan terbebani,

 

Semua ini berawal dari, ketika negara api datang membawa guru kimia menyerang kelas saya :

 

**********

“ Nadilla, sini to neng “ kata guru saya, yang akrab di sapa bu Wahyu, logat solo nya kental sekali

Nadilla teman saya yang namanya merasa di panggil menghampiri bu Wahyu dengan degup jantung yang kencang, mungkin sangking kencangnya dapat membuat gempa kecil di kelas saya. Oke berlebihan.

“Kamu kenapa to neng, nilaimu ini remed terus , ndak bagus-bagus “ ucap bu Wahyu

Kami sekelas termasuk saya langsung cenggo, dalam hati “perasaaan kita satu kelas ini emang semua remed deh “

Nadilla terdiam, bingung mau jawab apa

Lalu bu wahyu mengamati daftar nilai, mencari mangsa selanjutnya ,Saya hampir mau loncat dari kelas

Dan…….. da…..da…..dannnnn……

 

“Vera”

“April “

Kamu juga maju.

 

Puf! Setidaknya nama saya selamat kali ini, jadilah teman saya bertiga menajdi korban , bu Wahyu meminta mereka untuk memberi tahu orang tua, bu Wahyu ingin bicara pada orang tua mereka. Saya dan teman-teman yang duduk bukan merasa lega atau bahakan senang setidaknya bukan nama kami yang di panggil, tentu tidak !

Justru kami merasa ada beban yang akan menghampiri, saya diam menatap pelajaran kimia dengan kosong.

Seandainya ada yang menyalakan lagu MP3 “ayat-ayat cinta” mungkin lebih klasik, saya akan seperti Maria yang menulis buku hariannya di pinggir sungai Nil dengan mata yang kosong.

Anak jurusan Ilmu alam tahu, jika nilai jurusan buruk, maka kami akan di tendang ke jurusan sosial.

Saya sudah kecemplung jauh di ilmu alam, sudah enak dengan teman-teman kelasnya, sudah menemukan semangat belajar, setelah berbulan-bulan saya menangis dalam hati di jurusan ini, tetapi sekarang saya sudah betah.

 

Dan beban saya juga adalah, ternyata kembali ke sistem reguler itu bikin sesak fikiran, belajar dari sistem IP yang sudah di terapkan lalu tiba-tiba di hapuskan dan menggulang kembali pelajaran, membuat saya dan teman-teman bingung mati-matian, kelagapan dengan pelajaran lama. Kami belum bisa beradaptasi, di tamabh guru-guru yang banyak ganti, dan juga semester ini kita banyak sekali tugas dan tanggung jawab sebagai senior..

 

Dan rasa sayang saya di jurusan ini, tentulah ada perjuangan yang harus saya hadapi, lahir dengan kemampuan otak yang jomplang sebelah, membuat saya harus mengajak bekerja sama otak kiri, mengajak bekerja sama otak kanan saya yang terlalu aktif.

Dan saya mendadak menajdi teringat novel : NEGERI LIMA MENARA

Tentang perjuangan bang Fuadi di sekoalh yang dulu dia tidak cintai menjadi dia rindukan,

Lagi juga, saya gak mungkin mnegecewakan orang tua saya terutama Mama, yang kesekian kalinya.

Mama, kayaknya aku ngeselin ya tiap hari ?

Aku minta doa ya ma, aku berjanji akan terus mengalahkan rasa malas menuntut ilmu…