Entah hitam entah coklat

Warna matanya, tapi sepertinya berwarna coklat  itupun tidak bisa terlalu yakin. Dan semua ini di desain dengan kebisuan yang nyata.Diam yang membuat segalanya terihat tidak jelas, diam yang menyiakan beberapa sesak di dada.Masih dia yang bertahan di ruang hati, secara alamiah dia tidak mungkin terlewatkan atas segala hal.

Namun aku malas, mengubris segala bentuk perasaan yang terus buncah setiap harinya, malas mengkorfrimasi kehadiranya di hatiku yang menginjak satu tahun  pada masa putih-abu-abu.

Aku tidak pernah merasa rugi, yang menarik dari semua topik pembicaraan adalah dia, sementara aku tetap saja mengandung status “kenalan” dan “adik kelas”.

Sejenak aku teringat , tentang pendakian gunung yang selalu aku impikan dapat terwujud, tempat dia pernah berpose di atas gunung Gede.

Aku selalu teringat hobi barunya mendaki gunung,  membuatku sempat berdoa agar Tuhan mempertemukan aku tidak sengaja dengannya saat pendakian.

Aku selalu berkisah, tentang dia yang hanya sanggup aku gapai sebatas punggungnya saja, siluet punggung yang hanya bisa aku nikmati bayangannya, sebab jika dia menoleh aku seperti retak tak beraturan.

Aku menghela nafas, kisah ini terasa semakin aneh jika di kenang, bahwa aku sampai di bagian jatuh cinta pada seseorang yang hanya sanggup aku puja dalam hati, seseorang yang selamannya bisa jadi tidak mengingat penting kehadiranku di hidupnya.