Kak Yana,

Betapa aku begitu fasih mengingat bulir bening yang mengalir begitu lembut di pipimu.

Teringat kita berdua yang berkisah di fakultas ilmu budaya, Universitas Indonesia.

Betapa aku ingat kisah ayahmu yang mengharukan , tapi kita tertawa dengan getir. Seadainya ada pintu ajaib, ingin ku seludupkan separuh cahaya agar dapat mematamatai perasaan yangsedang kau coba manipulasi, kau bilang bahagia ka. Tapi ada susut di amatamu yang ingin mengalir.

Aku lantas, mulai berkisah tentang ayahku yang telah lama meninggal sebelum aku tahu bagaimana rupanya, tentang keluargaku yag entah dimana, dan tentang kisah hidupku yang begitu nestapa. Namun aku sendiri tertawa menceritakan kesedihan yang aku alami, mendadak kau menangis ka.

Aku semaki tertawa, bingung kenapa kau menangis emndengar kisahku yang klasik ini.

 

Ka Yana, kita kemudian saling menghapus air mata yang menaglir di pipi, tetapi air mata yang berada di hati, tentu hanya Tuhan yang mammu menghapusnya, sebagai manusia kita nayan mencoba melawan segala paket nestapa ini.

Ka Yana, sebenarnya pada waktu itu sepanjang perjalanan kita d UI aku gemetar, karena selalu teringat akan tangisan mu yang menangisi segala paket kesedihan yang aku hadapi, Aku yakin betul air mata yang kau tumpahkan begitu tulus , rasa empati itu.

 

Ka Yana

Apa kabar ? semoga kau baik-baik saja, tahun ini aku yakin kau bisa duduk di fakultas teknik UI

Semoga doa-doa yang kita rapalkan di jamah oleh Tuhan, aamiin.