Soalnya kau  tidak pernah tahu, beberapa tahun yang lalu menjelang kelulusan  SMA, waktu itu aku menyandang status adik kelas, dan kau sedang bahagianya dengan sebuah pesta kelulusan. Sementara hatiku  mendadak takut akan banyak hal, takut kerinduan itu menyergapku dimana-mana.

Kau masuk UI di  jurusan kedokteran ,aku tidak kaget, satu sekoalah pun tahu kau anak yang cerdas, sementara aku kini sudah memakai almamater kampus UPI, jurusan pendiidkan bahasa Indonesia.

Kota Bandung dan Depok, kita terpisahkan, sebenarnya aku yang merasa dipisahkan , kau tidak ! soalnya aku yakin aku tidak begitu penting dalam kehidupanmu,

Beberapa yang kau ingat dariku mungkin hanya, aku adalah wanita teman dekat kakakmu dan sering menitipkan novel kepadamu, hanya itu. Tidak lebih.

 

Matahari sudah mulai bersembunyi dari langit, aku termenung di statisun kota depok, langkahku dari Bandung terhenti, Depok –kampusmu .

Aku mengalihkan pandangan ke arah  lain, dan aku menemukan seseorang yang selama ini aku rindukan sedang sama terdiamnya denganku. Aku membranikan diri menghapirimu  , sekedar menyapa dan ingin bertanya kabar.

Aku mengucapkan sepatah kata salam yang kau susul dengan  ekspresi kaget dan tampang datarmu, aku tersnyum mencoba menghilangkan gemetar di tanganku. Disusul dnegan pertanya apa kabar ? bak seseorang kawan akrab, kau  menjawabnya baik, tapi aku yakin kau sedang bingung bicara dengan siapa. Soalnya aku yakin, kau bisa jadi lupa. Karena suadah membaca fikiranmu, aku  lantas mencoba mengingatkanmu , kau ingat dan  tersenyum tipis.

 

Kau  tidak berubah, masih sama datarnya seperti dulu, dan aku memutuskan permisi meninggalkanmu dengan hati yang entah bagaimana aku jelaskan, setelah aku menitipkan salam kepada kakak perempuanmu yang  juga aku rindukan.

Mendadak air mata itu jatuh membasai pipiku, aku  merindukanmu  masih merindukanmu.