Saya benar- benar tidak tahu harus memulai tulisan ini dari mana, tulisan yang sebenarnya sudah saya rencanakan untuk meledak di blog tercinta ini, bukan..

Ingin meledakan amarah, tetapi justru rasa cinta saya , rasa haru dan terimakasih saya pada salah satu seseorang wanita yang memberikan pengaruh besar dalam peradaban hidup saya.

 

Trini Kusmiah

 

Begitulah, nama singkatnya yang sempat memenuhi jam-jam pelajaran bahasa Indonesia semasa SMP dahulu, betapa ingatan saya masih teramat baik, ketika itu pertama kali untuk pertama kalinya saya menulis cerpen , saat itu saya masih duduk di bangku kelas satu, judul cerpennya adalah “Sinar Dalam Kehidupan “ mengisahkan mengenai seorang gadis yang terlahir buta, kondisi kebutaan yang dia alami ternyata tidak di terima oleh sang Ayah, hingga pada saat shalat malam, dengan penuh keajaiban shalat tahajjud, tubuhnya terpelanting jatuh dari tangga. Gadis itu di berikan hadiah dapat melihat lagi.

 

“Kamu , beneran yang nulis ini ? “ tanya bu Trini kala itu,

“Iya, bu.. “ jawab saya singkat

 

Tidak menyangka, dari pertemuan di tim mading, Tuhan berkenaan mengenalkan saya dengan guru yang luar biasa, bu Trini bagi saya bukan hanya sekedar guru yang mengajarkan banyak hal, tapi sekaligus teman bagi saya, atau bahkan bisa juga di anggap kakak perempuan yang baik.

Beliau terus menerus memotivasi saya dalam dunia kepenulisan dan pembacaan puisi serta pidato, saya bersyukur terlahir berani tetapi saya tidak menyadari bahwa mempunyai kecerdasan linguistik, dan bu Trini beliau yang menemukan itu semua, tidak hanya sekedar menemukan tetapi mengembangkan apa yang dia sudah temukan.

 

Setelah beberapa waktu berlalu, kesibukan pendidikan dan organisasi saya, ternyata semua yang telah di tanamkan oleh bu Trini terpakai, terpakai semua.

Oh iya, yang paling membuat saya begitu haru adalah ketika saya terbaring sakit dan harus menjalani operasi di rumah sakit selama seminggu, bu Trini datang menghibur saya bahkan membawakan novel agar saya tidak bosan, dia tahu hobi saya yang suka membaca.

 

Seandainya bu Trini tahu, betapa saya kangen sekali masa-masa belajar bahasa Indonsia bersama beliau, sekarang masa-masa ini justru saya kuat dalam praktik bukan pada hamparan soal di lembaran kertas, saya kangen rumus-rumus bahasa Indonesia.

 

Saya tentu juga masih ingat, ketika pada saat SMA saya masuk ke jurusan yang tidak saya inginkan (IPA) padahal saya mencintai kelas sosial, saya yang sempat tidak sanggup dan memutuskan curhat ke bu Trini di rumahnya, tampa bu Trini tahu, sebenarnya saya menahan tangis saat bercerita mengenai , jurusan yang tidak seradar dengan saya, tapi semua kesedihan itu di hancurkan dengan sebuah kalimat bijak yang meluncur di bibirnya,

 

“Pada akhirnya, Allah akan mengantarkan kita menjadi diri kita sendiri, menjadi apa yang selalu kita impikan dari kecil, dari dulu ibu selalu ingin menjadi guru, dan akhirnya ibu menjadi guru,walaupun mesti dengan jalan yang berliku-liku, Allah pasti mendengar doa hambanya sekecil apapun itu ..”

 

Kalimat itulah yang membuat gemintang di luar sana jadi terlihat indah lagi, bu Trini juga mulai berkisah bahwa apa yang saya alami saya dengan beliau, ketika bu Trini di paksa masuk SMK oleh kedua orangtuanya dan harus masuk jurusan kuliah yang dia tidak minati yaitu : pendidikan bahasa Indonesia.

 

Belakangan ini saya tahu, ada insiden besar yang sedang menimpa bu Trini , entah itu apa sepertinya masalah lingkungan pekerjaan yang membuat usikan di hatinya, saya tahu status panjang yang sempat ia curahkan di dunia maya, sekiranya mewakili perasan yang sedang beliau rasakan. Tapi saya selalu berdoa agar Bu Trini di berikan hati yang lapang.

 

“Bu, saya mengucapkan terimakasih yang banyak, saya ini bukan apa-apa bu kalau ibu ndak motivasi dari awal, saya berdiri di manapun yang tetap akan terkenang adalah jasa ibu yang terlah menemukan emas di dalam diri saya. Saya mohon maaf bu , apalabila selama menjadi anak didik ibu atau teman diskusi ibu, atau apa ya ? saya menyebalkan.. hehehhe .. yang jelas kalau nanti saya di tanya saya bisa seperti ini karena siapa  ? saya pasti akan jawab Ibu Trini .. doakan saya ya bu, saya sedang meneguhkan tekad agar novel saya bisa rampung dan terbit, .. “

 

Bu , sungguh tulisan ini dibuat (karena) rasa sayang saya dan terimakasih kepadamu..