Waktu tidak mau berhenti untuk membuat otakku berhenti diracuni segala tentangmu, cinta  jenis apakah yang sedang mengerak di otakku, mengendap sekian ratusan waktu, sebentar lagi lima bulan. Setiap hari, aku menyiapkan dan sibuk menerka-nerka hari perpisahan kita, atau sibuk mempersiapkan diri bagaimanakah peran yang akan aku ekspresikan jika kelak Tuhan akan mempertemukan aku kembali denganmu.

 

Kemudian, lima bulan itu ternyata tepat hari ini

 

“Dia, pergi.” Kata salah satu sahabatku

“Iya.” Aku tersenyum tipis, “Dia memang saatnya harus pergi.”

 

Mataku memandang siluet tubuhnya yang sedang berpelukan dengan beberapa kawan, wisuda angkatannya. Hatiku lemas.

Sekarang aku berdiri dari kejauhan, pandanganku tidak mau terlepas dari tubuhnya.

Satu langkah, dua langkah, tiga..

Dia menoleh berbalik kearahku, tersenyum tipis menemukan aku yang seperti patung membisu

 

Aku mundur dan berbalik arah. Air mataku jatuh tak tertahankan.

 

Waktu tak mau berhenti, dia tetap harus pergi meninggalkan Univeritas yang mempertemukan aku dengannya. Aku menyalakan mobil, aku tidak sanggup lagi menikmati detik kepergiannya di pesta perpisahan ini.

Sambil menangis tertahan, untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menangisi lelaki sambil menyetir mobil. Aku masih bertahan sendiri, mencintaimu sendirian.

 

Untuk pertama kali, bisakah waktu berhenti  ?

 

Berpisah denganmu

T’lah membuatku semakin mengerti

Betapa indah saat bersama

Yang masih selalu ku kenang
Selamat jalan kekasih

Kaulah cinta dalam hidupkuAku kehilanganmuUntuk selama-lamanya

Sialpula, saatku coba mendengarkan radio di lampu merah, justru lagu super mellow era 90-an yang berkumandang sama nelangsanya. Di lampu merah itu, aku juga menangis. Bodoh!

 

Aku membanting mobilku menepi di pantai, sendirian. Aku hadapkan wajahku yang di tampar angin laut, pagi itu hatiku nelangsa sekali, menangis dalam kesendirian.

Memori mencinatimu , setiap detik gerakan tubuhmu yang melintas tamapa rasa di hadapanku tentu saja sudah terfile rapi di hidupku, dan sekarang kamu justru sedang menikmati kepergian dari Universitas kita, aku harus berapa tahun lagi , menunggumu dalam diam seperti ini ? Maafkan aku, jika ini terlalu di dramatasir, tetapi aku memiliki memori

 

Aku memiliki memori.