Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

December 2013

Pertama kali : “Ojos” atau “keenan” : “Kamu ” atau “Dia” -Tidak kembar_

 
Kepada Neptunus, sampaikan kepada Tuan itu yah..

Saat aku menuliskan perahu kertas yang kemudian isinya aku salin dalam bentuk elektronik , hatiku sebenarnya dalam keadaan frekuensi yang benar-benar gamang. Gamang karena aku selama ini telah menghabiskan waktu untuk mengingkari kata hatiku sendiri. Aku mencintai-nya ? aku menyukai-nya ? atau aku hanya kagum pada-nya ? Tiga pertanyaan itu, sudah aku diskusikan dengan teman-teman baikku.

 

Apakah yang akan kamu lakukan, ketika kamu baru pertama kali bertemu dengan seseorang, lantas fikiranmu tidak mau beranjak darinya, matamu tidak mau berhenti menatap tubuhnya yang berdiri tegap di depanmu. Apakah kau akan memutuskan untuk menyalahkan seseorang tersebut ?

Begitulah, yang sedang aku rasakan . Aku baru saja beberapa hari bertemu dengan seseorang, tapi batinku sudah berbisik bahwa nantinya orang tersebut akan menjadi topik kerisauan yang akan aku alami. Matanya mirip denggan seseorang yang namanya sedang singgah di hatiku, cara bicaranya juga bahkan gerakan tangannya saat berbicara menyerupai (dia). Aku gamang, di hadapkan pada dua kesempurnaan.

Bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku ? Seperti kugy yang gamang ketika di perkenalkan dengan keenan, yang hatinya selalu berbisik “Ojos” atau “keenan”

 

Jatuh hati, seharusnya terjadi karena proses  yang panjang , yang seharusnya di lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu justru tidak terjadi :Pertama kali aku melihatmu.

Aku menjadi sangat penasaran ketika di sodorkan namamu, bahkan taukah kau ? aku berkali-kali salah melafalkan namamu. Cerobohnya diriku.

Ada semacam detak yang berbeda setiapkali aku di hadapkan di dekatmu, sebenarnya aku tidak ingin mendramtisir semua yang bercongkol di hatiku. Tapi, sungguh ini bukan kehendakku.

Tuan, tak mungkin kau tahu ada perasaan aneh di dadaku. Aku yang gugup ketika ruangan rapat masih sepi dan menghadirkan sosokmu sendirian.

Setiap kali bertemu kita tak pernah banyak bicara, hanya mengeluarkan sepatah atau dua kata pertaanyaan yang sekiranya penting untuk rapat.

Dan setiap kali kau bicara memimpin rapat, aku hanya bisa menjadi pendengar paling takzim, mendengar lewat rasa. Mengeja setiap kosakata bahasa  yang kau lafalkan dengan sempurna.

 

Tuan, kamu sudah menjadi sebab percakapan yang di penuhi tawa di kamar Guru sekaligus kakak perempuanku. Pukul sepuluh malam, aku panik ketika Guru ku menyebutkan namamu di jalanan gang sempit itu, aku takut kau tiba-tiba ada di sekitar kita, dan mendengarnya.

 

Aku pasrah Neptunus, membiarkan rasa bekerja dengan cara yang ajaib

tugas menghilang = patah hati

tugas sata hilang setalh di kerjakan selama berminggu-minggu

rasanya nyesek banget pemirsa..

 

cukup sekian

*gaktahummaunulis apa lagi udah nyesek bgt *

Arenamu , kau tak pernah salah Re : FF-PART 1

 

 

Langit selalu membuat aku gemas, karena setiap aku tak sengaja menatapnya aku melihat ada sebentuk awan yang mencoba membuat sketsa wajahmu, ah tidak awan terlalu abstrak untuk mengambar semua detail wajahmu, barangkali ini hanya sesuatu yang malas kusebut yang jika disebut bisa mendadak membuat aku seperti mayat hidup.Tapi bagaimana ini, sebuah kertas kosong mendadak tak sengaja tertulis namamu dengan jelas, aku mendadak bingung sendiri. Mengapa, harus namamu lagi ? aku bahkan pernah bertindak ceroboh menuliskan kertas ujian dengan namamu, bukan namaku. Segila itukah ?

            Mungkin iya, Rehan Rajuna. Namamu yang singkat itu bukankah sudah menjadi absensi nomor satu di kepalaku ? absensi jenis yang jelas berbeda, sendiri dan menjadi nomor satu di hatiku yang rasanya kosong ini. Tunggu ini sudah keberapa kali dalam lima tahun belakangan ini aku selalu membicarakanmu.

Entah pada fikiranku atau pada hatiku, yang menguasai topik kesendirianku adalah kamu. Jelas saja jika isi kepalaku dapat terbaca dan dapat dibedah, mungkin yang terbaca adalah semua kisah kita selama ini yang telah tertinggal jauh di belakang.

Kau benar Re, masa lalu adalah sesuatu yang tidak mugkin dapat terulang kembali dan kini aku menghabisi hari dengan sebentuk perasaan aneh. Kau tahu Re, bahkan saat melihat langit-langit kamar saja, sempurna semua terbentuk auramu, suaramu tiba-tiba terdengar.

            Lima tahun yang sempurna, aku menghabisi hari dengan melawan semua kekuatan auramu yang mengukung isi kepalaku, entah mengapa selama itu aku tetap hafal mati bagaimana melodi suaramu, aku hafal mati apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka tanpa kau ketahui. Dan selama itulah, saat tugas-tugas kuliahku selesai di kerjakan, saat sebuah jeda memposisikan aku sendirian, sempurna sudah bayanganmu mengajakku bicara.

            Aku berpikir aku gila Re, ini semua mungkin karena sebentuk perasaan yang katanya disebut cinta, tapi apakah ini cinta ? aku sungguh tidak bisa menerima jika cinta menyiksaku dengan perasaan lain yang jika aku sebutkan , aku bisa menangis dalam tidur. Kau tahu Re, apa yang disebut dengan menangis dalam tidur ? kau tertidur tetapi hatimu menangis, menyesakkan sekali mengalaminya.

Aku sampai detik ini bisa gila jika terus bertanya pada hatiku sendiri, mengapa hanya kamu yang sanggup bertahan dan membuat aku cinta selama ini. Tunggu, aku sebetulnya tidak berani menyebut ‘ini cinta’ terlalu menyedihkan kisah cinta seperti ini.

Aku bukan hendak menghitung-hitung berapa lama penantianku menunggu sesuatu dari hatimu, yang lahir dari hatimu. Aku hanya mencoba menormalkan seluruh fikiran dan isi hatiku agar aku tidak gila , entah gila dari segi jiwa atau gila dari segi rohani.

            Jutaan neuronku seperti cepat terhubung dan mendadak menjadi jenius jika mengingat namamu, apa saja tentangmu. Seandainya kau hatu Re, ada wanita bodoh yang hampir gila menyebut namamu sepanjang lima tahun hidupnya, dan wanita itu aku.

Lima tahun juga, semenjak kita berpisah dengan cara yang baik, berpisah ? apa kau menganggap kita berpisah ? Ya Tuhan , aku lupa aku hanya figuran yang kau kenal , kau hanya tahu namaku, tahu bahwa aku adalah adik kelasmu di  SMA dulu, berbeda satu tahun denganmu. Tapi selebihnya , apa yang kau ingat ? aku berani taruhan tidak ada.

            Pulpenku berhenti, ada yang menetes lagi sebentuk air yang bening mengalir di pipi kemudian jatuh di kertas yang sempat tertuliskan namamu, mengalir bulir bening untuk yang kesekian kalinya.

Dinginnya suasana malam, mendramatisir sesuatu yang berdesir halus di hatiku, sesuatu yang selalu aku tahan agar ia tak meledak membuat aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan uang jajan.

            Apa Tuhan menyampaikan sesuatu padamu, saat hatiku benar-benar mengingkan keberadaanmu, lima tahun untuk wujudmu yang tidak pernah muncul lagi di hadapanku, sungguh ada sesuatu yang tertumpuk di dadaku, sesak sekali rasanya membuat aku menjadi wanita yang menjauhi film-film romantis dan lebih memilih membaca novel romantis di kamar, sebab aku tahu apapun itu aku akan selalu mengharapkan kehadiranmu, aku benar-benar sesak dengan perasaan ini.

Kau tidak pernah salah Re, dan aku tidak berani menjamin apapun apakah beberapa tahun kedepan aku masih waras atau tidak karena memendam sesuatu di hatiku, sesuatu keninginan yang menginginkan hadirmu secara nyata di hidupku, kembali.

 

Ada yang bisa jawab pertanyaan saya ?

 

Dosen matematika itu berkata dengan amat tegas

“kamu baca dong, baik-baik soalnya .. “ katanya menistruksi kelas saya

“Kalian ini permasalahanya sepertinya bukan tidak bisa matematika, tapi sepertinya tidak bisa berbahasa dengan baik.. “

Saya melonggo, begitu dosen matematika sekaligus guru saya itu berucap demikian, kalau boleh di visualisasikan, gambarnya mungkin akan lebay. Seperti ada panah yang menusuk tepat di kepala bagian kiri saya yang selama ini mulai berkembang setelah negara kanan menyerang. *abaikan*

Dosen itu benar, akhirnya kami sekelas mengakui bahwa kami orang yang setiap hari berbahasa ternyata sama sekali belum bisa berbahasa.

“Matematika itu sebenarnya bahasa .. “ kata dosen saya itu

Ya, saya kaji ulang ternyata benar. Matematika adalah bahasa yang perlu di terjemahkan dengan baik. Kalau boleh saya akui *mulai serius* saya dominan otak kanan, pada bagian pelajaran eksak seperti (MIPA) saya lamban sekali memahami , mungkin kalau saya ini modem internet saya tidak laku di pasaran. *nangis guling-guling*

Tetapi sebenarnya saya belum paham, mengapa teman saya yang pandai matematika pusing ketika berhadapan dengan beberapa bahasa yang indah. Bahkan ada yang sempat bingung dengan kata-kata “Perempuan yang melukis hujan.. “ teman saya malah bertanya

“Koq aneh ya, emang bisa perempuan nulis hujan ? “ membuat saya hening berkepanjangan bersiap meledakan tawa. Ya, seharusnya orang yang bisa bahasa seharusnya pandai matematika, bahasa adalah pokok segalanya. Makanya saya ngotot sekali ingin mejeng di fakultas sastra Indonesia.

Tetapi, sepertinya ini masalah dominan otak kanan dan otak kiri, saya sulit berfikir logis saya sudah pernah tes dan hasil yang keluar adalah “acak abstrak “ sudah acak , abstrak pula ? Baiklah kawan WP apakah kalian bisa menjawab pertanyaan saya ?

Kenapa ada orang yang, bisa menulis dan mengerti puisi yang bersifat sastra tapi tidak bisa menerjemahkan matematika ?

Percayalah, saya selalu kagum kepada orang-orang yang jago dalam dunia sastra tetapi dia juga cerdas dalam matematika. Saya iri membaca novel supernova yang basic nya adalah sincefiction.

Adakah yang bisa menjawab pertanyaan saya ? Terimakasih.

Kalau bisa silakan post di WP masing-masing dan tag ke saya, atau koment ” aku udah jawab loh ini alamtnya ****** ” oke makasih

 

Puisi: Penggalauan

 

Yang kuingat darimu adalah

Senyum yang sederhana

Tidak pernah berlebihan tapi mampu melunturkan segala aura buruk di ruang dada

 

Yang kuingat darimu adalah

Hujan saat senja memeluk

Tapi kau malah tersenyum gila

 

Yang kuingat darimu adalah

Isakan tangis di siang hari

Tapi kau  malah tertawa bahagia di sore hari

 

Yang aku ingat darimu adalah

Mata warna warni

Tapi terkadang mengalir bulir bening di pipi

 

Yang aku ingat darimu adalah

Apa yang tidak aku baca

Dari mataku sendiri.

 

 

 

 

 

 

 

 ****

 

 

 

 

 

 

Betapa hujan pernah membawa dirimu kepadaku

Menjadikan kita akrab dalam satu cangkir kopi yang mengepul

Dan kamu yang berkisah tentang puluhan bintang di angkasa’

Sementara aku berkisah tentang mimpi-mimpi kita yang di anggap gila.

 

Betapa hujan pernah menceritakan kisahmu padaku

Tentang air mata yang tertahan di sudut ruang dadamu

Dan kamu tidak menggubris hal itu

Sementara hatimu ingin meledak tak kuasa menahan rahasia

 

Betapa hujan sudah bosan berkisah tentangku

Aku yang nyaris mati menahan rindu

Pada hujan yang menceritakan kisahmu

Atau pada bulir bening yang selalu kau anggap tidak jatuh

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

***

 

 

Apakah yang akan dilakukan seseorang

Kita tidak bisa mengapuskan satu nama dalam hidupnya

 

Seperti aku

Yang tidak bisa kau hapus

Apakah kau akan bersimpuh, memohon kepergianku ?

 

Atau kau justru diam berkepanjangan

Seperti orang hampa yang tidak tahu harus apa

 

Udara tak beku

Malam tak senyap

Kau panik menghubungiku

Dan percakapan bisu pada malam yang mendadak mati

 

Aku tida bisa menghapuskanmu

Ucapmu, sambil membakar fotoku.

 yang kemudian kau tangisi dalam diam

dan kelammu..

Jakarta, hujan rintih-rintih di bulan November 2013

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Surat terbuka untuk yang telah menemani saya hampir dua tahun.

 

Akhirnya, inilah titik klimaks dari segala macam rasa yang telah kita lewati bersama, dengan penuh kesadaran saya berhasil menemukan jawaban atas permasalahan klasik yang satu tahun belakangan ini muncul di kehidupan bersosialisasi kita, kehidupan bersama kita.

Akhirnya setelah sekian bulan kamu terus bertanya dan memohon dengan wajah yang memelas, berkata : “Jangan marah-marah terus dong .. “ atau sederet kalimat protes “Kamu mah jadi orang marah-marah terus .. “ atau “Ya Ampun, biasa aja dong nggak usah marah-marah gitu .. “

Saya yang sempat membalas dengan sederet pembelaan :”Udah tahu aku orang nya marahan, bisa gak sih gak di ulangin kesalahan yang sama ? .. “ atau “orang gak bakal marah kalau gak ada penyebabnya, kamu tuh mikir gak sih ? kamu tuh yang bikin api , gak mungkin ada asap kalau gak ada api .. “

 

Begitulah kira-kira dialog yang selama ini hampir terulang setiap hari beberapa waktu ini, dan akhirnya klimaks di saat saya marah di telepon dengan ketidak konsistenan waktu wanita yang telah bersama-sama dnegan saya hampir dua tahun itu. Ternyata ponsel itu di speeker , membuat orang kaget dan lantas amat tidak suka dan bertanya “Siapa sih yang nelpon, marah-marah ? “ dan kau menjawabnya “ Liana, ah udah biasa itu mah .. “

 

Dari situ seperti ada pedang yang terhunus tajam di dada saya, saya seperti tersadar dengan kata-kata “udah biasa” yang keluar dari mulut kamu, setelah itu saya memutuskan tidak menjawab sederet permohonan dan penjelasan kamu, apapun itu. Saya memilih diam, mungkin selama ini saya sering marah dengan gaya mendiami kamu beberapa menit atau jam , tetapi kali ini saya tidak ingin baikan dan lantas terulang lagi kembali marah dengan permasalahan yang muncul.

 

Dari dialaog sederaha dari permasalahan sederhana, akhirnya saya mengerti sumbu pertengkaran kita selama ini adalah “saya” ya, saya sendiri.

Teryata, saya itu ancur.

Ya  , saya ancur.

 

Sore itu saya menangis dengan sedu-sedan , mengkaji ulang apakah arti “persahabatan” yang sebenarnya, berkaca apakah saya sudah pantas di anggap sahabat oleh siapa-pun ? Saya percaya, pengukur terbaik adalah hati kita sendiri. Apa kalian pernah berada di posisi, mengalami persahabatan  yang tidak seimbang ?

Saya sedang mengalaminya, saya sedang merasa tidak pantas menjadi sahabat yang kurang lebih 2 tahun kami telah bersama, saya itu ancur , saya lebih mirip bos dari pada seorang teman baik dan saya merasa kamu tidak perlu berteman lebih jauh dan lebih lama dengan seseorang seperti saya. Sungguh, saya itu ancur.

 

Saya tahu, tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini yang ada hanya orang-orang yang berusaha menyempurnakannya.

 

Saya percaya akan hal itu, manusia adalah sumber ketidaksempurnaan, dan kebersamaan kita yang sering kita proklamirkan sebagai bentuk “persahabatan” saya fikir perlu di kaji ulang, perlu di intropeksi kan ulang.

Bukankah, kamu sering mengeluhakn sifat saya yang teramat bawel pada setiap tindakan super cerobohmu, saya yang kata kamu lebih mirip dan pantas di jadikan mama, saya akui mungkin itu adalah sifat koleris saya yang begitu dominan di tambah lagi habits keluarga saya yang membentuk sedemikian rupa beberapa kebiasaan buruk saya.

 

Akhirnya, saya memutuskan untuk bersikap seakan-akan kamu tidak pernah spesial di hidup saya, memang sulit mungkin rasanya karena kamu adalah teman sebangku dan teman yang sempat susah dan senang bersama saya. Tapi kita butuh jeda, butuh jeda atas segala ke-ego an diri kita masing-masing.

Saya bukan sedang memutuskan yang katanya semacam “persahabatan ini “ . Tetapi, saya sedang memutuskan untuk merenung lebih dalam lagi, bertekad kuat untuk menjadi wanita yang lembut ketika dia marah terlebih sama kamu. Saya tidak ingin lebih jauh menyakiti perasaan kamu lagi, atau membuat semua orang melihat seakan-akan kamu seperti di zholimi oleh saya.

 

Saya itu ancur, saya rasa kamu bisa tampa saya, bukankah teramat menyenangkan melewati hari-hari tampa rasa marah dari saya akibat keceroban kamu ? pastilah amat menyenangkan. Semoga setelah jeda yang saya buat bisu ini, setelahnya kita menjadi sahabat yang sebenar-benarnya sahabat sampai maut menjemput.

  FIB-UI-Fakultas Teknik

 

 

 

Blog at WordPress.com.

Up ↑