Surat terbuka untuk yang telah menemani saya hampir dua tahun.

 

Akhirnya, inilah titik klimaks dari segala macam rasa yang telah kita lewati bersama, dengan penuh kesadaran saya berhasil menemukan jawaban atas permasalahan klasik yang satu tahun belakangan ini muncul di kehidupan bersosialisasi kita, kehidupan bersama kita.

Akhirnya setelah sekian bulan kamu terus bertanya dan memohon dengan wajah yang memelas, berkata : “Jangan marah-marah terus dong .. “ atau sederet kalimat protes “Kamu mah jadi orang marah-marah terus .. “ atau “Ya Ampun, biasa aja dong nggak usah marah-marah gitu .. “

Saya yang sempat membalas dengan sederet pembelaan :”Udah tahu aku orang nya marahan, bisa gak sih gak di ulangin kesalahan yang sama ? .. “ atau “orang gak bakal marah kalau gak ada penyebabnya, kamu tuh mikir gak sih ? kamu tuh yang bikin api , gak mungkin ada asap kalau gak ada api .. “

 

Begitulah kira-kira dialog yang selama ini hampir terulang setiap hari beberapa waktu ini, dan akhirnya klimaks di saat saya marah di telepon dengan ketidak konsistenan waktu wanita yang telah bersama-sama dnegan saya hampir dua tahun itu. Ternyata ponsel itu di speeker , membuat orang kaget dan lantas amat tidak suka dan bertanya “Siapa sih yang nelpon, marah-marah ? “ dan kau menjawabnya “ Liana, ah udah biasa itu mah .. “

 

Dari situ seperti ada pedang yang terhunus tajam di dada saya, saya seperti tersadar dengan kata-kata “udah biasa” yang keluar dari mulut kamu, setelah itu saya memutuskan tidak menjawab sederet permohonan dan penjelasan kamu, apapun itu. Saya memilih diam, mungkin selama ini saya sering marah dengan gaya mendiami kamu beberapa menit atau jam , tetapi kali ini saya tidak ingin baikan dan lantas terulang lagi kembali marah dengan permasalahan yang muncul.

 

Dari dialaog sederaha dari permasalahan sederhana, akhirnya saya mengerti sumbu pertengkaran kita selama ini adalah “saya” ya, saya sendiri.

Teryata, saya itu ancur.

Ya  , saya ancur.

 

Sore itu saya menangis dengan sedu-sedan , mengkaji ulang apakah arti “persahabatan” yang sebenarnya, berkaca apakah saya sudah pantas di anggap sahabat oleh siapa-pun ? Saya percaya, pengukur terbaik adalah hati kita sendiri. Apa kalian pernah berada di posisi, mengalami persahabatan  yang tidak seimbang ?

Saya sedang mengalaminya, saya sedang merasa tidak pantas menjadi sahabat yang kurang lebih 2 tahun kami telah bersama, saya itu ancur , saya lebih mirip bos dari pada seorang teman baik dan saya merasa kamu tidak perlu berteman lebih jauh dan lebih lama dengan seseorang seperti saya. Sungguh, saya itu ancur.

 

Saya tahu, tidak ada persahabatan yang sempurna di dunia ini yang ada hanya orang-orang yang berusaha menyempurnakannya.

 

Saya percaya akan hal itu, manusia adalah sumber ketidaksempurnaan, dan kebersamaan kita yang sering kita proklamirkan sebagai bentuk “persahabatan” saya fikir perlu di kaji ulang, perlu di intropeksi kan ulang.

Bukankah, kamu sering mengeluhakn sifat saya yang teramat bawel pada setiap tindakan super cerobohmu, saya yang kata kamu lebih mirip dan pantas di jadikan mama, saya akui mungkin itu adalah sifat koleris saya yang begitu dominan di tambah lagi habits keluarga saya yang membentuk sedemikian rupa beberapa kebiasaan buruk saya.

 

Akhirnya, saya memutuskan untuk bersikap seakan-akan kamu tidak pernah spesial di hidup saya, memang sulit mungkin rasanya karena kamu adalah teman sebangku dan teman yang sempat susah dan senang bersama saya. Tapi kita butuh jeda, butuh jeda atas segala ke-ego an diri kita masing-masing.

Saya bukan sedang memutuskan yang katanya semacam “persahabatan ini “ . Tetapi, saya sedang memutuskan untuk merenung lebih dalam lagi, bertekad kuat untuk menjadi wanita yang lembut ketika dia marah terlebih sama kamu. Saya tidak ingin lebih jauh menyakiti perasaan kamu lagi, atau membuat semua orang melihat seakan-akan kamu seperti di zholimi oleh saya.

 

Saya itu ancur, saya rasa kamu bisa tampa saya, bukankah teramat menyenangkan melewati hari-hari tampa rasa marah dari saya akibat keceroban kamu ? pastilah amat menyenangkan. Semoga setelah jeda yang saya buat bisu ini, setelahnya kita menjadi sahabat yang sebenar-benarnya sahabat sampai maut menjemput.

  FIB-UI-Fakultas Teknik