Langit selalu membuat aku gemas, karena setiap aku tak sengaja menatapnya aku melihat ada sebentuk awan yang mencoba membuat sketsa wajahmu, ah tidak awan terlalu abstrak untuk mengambar semua detail wajahmu, barangkali ini hanya sesuatu yang malas kusebut yang jika disebut bisa mendadak membuat aku seperti mayat hidup.Tapi bagaimana ini, sebuah kertas kosong mendadak tak sengaja tertulis namamu dengan jelas, aku mendadak bingung sendiri. Mengapa, harus namamu lagi ? aku bahkan pernah bertindak ceroboh menuliskan kertas ujian dengan namamu, bukan namaku. Segila itukah ?

            Mungkin iya, Rehan Rajuna. Namamu yang singkat itu bukankah sudah menjadi absensi nomor satu di kepalaku ? absensi jenis yang jelas berbeda, sendiri dan menjadi nomor satu di hatiku yang rasanya kosong ini. Tunggu ini sudah keberapa kali dalam lima tahun belakangan ini aku selalu membicarakanmu.

Entah pada fikiranku atau pada hatiku, yang menguasai topik kesendirianku adalah kamu. Jelas saja jika isi kepalaku dapat terbaca dan dapat dibedah, mungkin yang terbaca adalah semua kisah kita selama ini yang telah tertinggal jauh di belakang.

Kau benar Re, masa lalu adalah sesuatu yang tidak mugkin dapat terulang kembali dan kini aku menghabisi hari dengan sebentuk perasaan aneh. Kau tahu Re, bahkan saat melihat langit-langit kamar saja, sempurna semua terbentuk auramu, suaramu tiba-tiba terdengar.

            Lima tahun yang sempurna, aku menghabisi hari dengan melawan semua kekuatan auramu yang mengukung isi kepalaku, entah mengapa selama itu aku tetap hafal mati bagaimana melodi suaramu, aku hafal mati apa yang kau suka dan apa yang tidak kau suka tanpa kau ketahui. Dan selama itulah, saat tugas-tugas kuliahku selesai di kerjakan, saat sebuah jeda memposisikan aku sendirian, sempurna sudah bayanganmu mengajakku bicara.

            Aku berpikir aku gila Re, ini semua mungkin karena sebentuk perasaan yang katanya disebut cinta, tapi apakah ini cinta ? aku sungguh tidak bisa menerima jika cinta menyiksaku dengan perasaan lain yang jika aku sebutkan , aku bisa menangis dalam tidur. Kau tahu Re, apa yang disebut dengan menangis dalam tidur ? kau tertidur tetapi hatimu menangis, menyesakkan sekali mengalaminya.

Aku sampai detik ini bisa gila jika terus bertanya pada hatiku sendiri, mengapa hanya kamu yang sanggup bertahan dan membuat aku cinta selama ini. Tunggu, aku sebetulnya tidak berani menyebut ‘ini cinta’ terlalu menyedihkan kisah cinta seperti ini.

Aku bukan hendak menghitung-hitung berapa lama penantianku menunggu sesuatu dari hatimu, yang lahir dari hatimu. Aku hanya mencoba menormalkan seluruh fikiran dan isi hatiku agar aku tidak gila , entah gila dari segi jiwa atau gila dari segi rohani.

            Jutaan neuronku seperti cepat terhubung dan mendadak menjadi jenius jika mengingat namamu, apa saja tentangmu. Seandainya kau hatu Re, ada wanita bodoh yang hampir gila menyebut namamu sepanjang lima tahun hidupnya, dan wanita itu aku.

Lima tahun juga, semenjak kita berpisah dengan cara yang baik, berpisah ? apa kau menganggap kita berpisah ? Ya Tuhan , aku lupa aku hanya figuran yang kau kenal , kau hanya tahu namaku, tahu bahwa aku adalah adik kelasmu di  SMA dulu, berbeda satu tahun denganmu. Tapi selebihnya , apa yang kau ingat ? aku berani taruhan tidak ada.

            Pulpenku berhenti, ada yang menetes lagi sebentuk air yang bening mengalir di pipi kemudian jatuh di kertas yang sempat tertuliskan namamu, mengalir bulir bening untuk yang kesekian kalinya.

Dinginnya suasana malam, mendramatisir sesuatu yang berdesir halus di hatiku, sesuatu yang selalu aku tahan agar ia tak meledak membuat aku menangis seperti anak kecil yang kehilangan uang jajan.

            Apa Tuhan menyampaikan sesuatu padamu, saat hatiku benar-benar mengingkan keberadaanmu, lima tahun untuk wujudmu yang tidak pernah muncul lagi di hadapanku, sungguh ada sesuatu yang tertumpuk di dadaku, sesak sekali rasanya membuat aku menjadi wanita yang menjauhi film-film romantis dan lebih memilih membaca novel romantis di kamar, sebab aku tahu apapun itu aku akan selalu mengharapkan kehadiranmu, aku benar-benar sesak dengan perasaan ini.

Kau tidak pernah salah Re, dan aku tidak berani menjamin apapun apakah beberapa tahun kedepan aku masih waras atau tidak karena memendam sesuatu di hatiku, sesuatu keninginan yang menginginkan hadirmu secara nyata di hidupku, kembali.