Kepada Neptunus, sampaikan kepada Tuan itu yah..

Saat aku menuliskan perahu kertas yang kemudian isinya aku salin dalam bentuk elektronik , hatiku sebenarnya dalam keadaan frekuensi yang benar-benar gamang. Gamang karena aku selama ini telah menghabiskan waktu untuk mengingkari kata hatiku sendiri. Aku mencintai-nya ? aku menyukai-nya ? atau aku hanya kagum pada-nya ? Tiga pertanyaan itu, sudah aku diskusikan dengan teman-teman baikku.

 

Apakah yang akan kamu lakukan, ketika kamu baru pertama kali bertemu dengan seseorang, lantas fikiranmu tidak mau beranjak darinya, matamu tidak mau berhenti menatap tubuhnya yang berdiri tegap di depanmu. Apakah kau akan memutuskan untuk menyalahkan seseorang tersebut ?

Begitulah, yang sedang aku rasakan . Aku baru saja beberapa hari bertemu dengan seseorang, tapi batinku sudah berbisik bahwa nantinya orang tersebut akan menjadi topik kerisauan yang akan aku alami. Matanya mirip denggan seseorang yang namanya sedang singgah di hatiku, cara bicaranya juga bahkan gerakan tangannya saat berbicara menyerupai (dia). Aku gamang, di hadapkan pada dua kesempurnaan.

Bisakah kau bayangkan rasanya jadi aku ? Seperti kugy yang gamang ketika di perkenalkan dengan keenan, yang hatinya selalu berbisik “Ojos” atau “keenan”

 

Jatuh hati, seharusnya terjadi karena proses  yang panjang , yang seharusnya di lewati secara alamiah dan manusiawi. Proses yang panjang itu justru tidak terjadi :Pertama kali aku melihatmu.

Aku menjadi sangat penasaran ketika di sodorkan namamu, bahkan taukah kau ? aku berkali-kali salah melafalkan namamu. Cerobohnya diriku.

Ada semacam detak yang berbeda setiapkali aku di hadapkan di dekatmu, sebenarnya aku tidak ingin mendramtisir semua yang bercongkol di hatiku. Tapi, sungguh ini bukan kehendakku.

Tuan, tak mungkin kau tahu ada perasaan aneh di dadaku. Aku yang gugup ketika ruangan rapat masih sepi dan menghadirkan sosokmu sendirian.

Setiap kali bertemu kita tak pernah banyak bicara, hanya mengeluarkan sepatah atau dua kata pertaanyaan yang sekiranya penting untuk rapat.

Dan setiap kali kau bicara memimpin rapat, aku hanya bisa menjadi pendengar paling takzim, mendengar lewat rasa. Mengeja setiap kosakata bahasa  yang kau lafalkan dengan sempurna.

 

Tuan, kamu sudah menjadi sebab percakapan yang di penuhi tawa di kamar Guru sekaligus kakak perempuanku. Pukul sepuluh malam, aku panik ketika Guru ku menyebutkan namamu di jalanan gang sempit itu, aku takut kau tiba-tiba ada di sekitar kita, dan mendengarnya.

 

Aku pasrah Neptunus, membiarkan rasa bekerja dengan cara yang ajaib