Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

January 2014

Dan saya seperti keracunan ; MENDAKI

 

Carier 350 Ribu dan Daftar Impian yang belum tersampaikan.

 

Jadi ceritanya, saya baru enggeh kalau tak jauh dari rumah saya terdapat sebuah toko peralatan outdoor pecinta alam. Dan jelas-jelas sekali tas carier di pajang kece di toko tersebut. Saya yang baru jatuh cinta sama dunia pendakian, hanya bisa menangis guling-guling di depan toko. Duh, kapan ya beli carier nya kesampaian ?

Selama beberapa bulan ini, saya aktif mengikuti grup fanpage Backpaker Indonesia, Komunitas pecinta alam dan lain-lain yang berhubungan dengan petuangan ke alam. Setiap hari selalu ada yang memposting foto-foto keren luar biasa oleh-oleh mereka yang sudah berkelana dan  mendaki.

Bayangkan sebuah foto luar biasa nan kece selalu pamer di dingding facebook orang yang lagi menyusun daftar impiannya akan kemana diriku ini berkelana mengenal alam.

Hampir mimisan setiap kali ngeliat awan yang bergelembung bak kapas di atas puncak berbagai gunung di Indonesia. Apalagi kalau ada yang foto mamerin sunrise di pantai. Saya ini kan agen neptunus, bisa menangis irilah saya melihat dokumen keren tersebut.

Tetapi, setidaknya saya belum terlambat, usia saya masih sangat belia dan cukup untuk lebih banyak menjelajahi sudut alam Indonesia. Because, saat saya gak mau kuliah S2 di luar negeri  temen-temen saya minta di jelasin Indonesia kayak apa ? saya Cuma bisa jawab “Macet dan banyak sampah “

Dan, untuk bisa menjadi pendaki ataupun tukang ngebolang tidaklah semudah film jejak petualang. Butuh dana dan kondisi finansial yang mesti di perhitungkan secara matang, jangan sampai kita lagi pergi tapi uang kita tiris dan habis. Membuat kita harus mengemis di pinggir jalan. He he he he

Turun dari perjalanan di gunung salak bulan desember lalu, membuat saya sadar satu hal. Bahwa pergi ke alam adalah cara menemukan penjelasan terbaik, membuat kita merenung banyak hal. Saya yang sempat tertusuk dinginnya malam dan menggigil luar biasa , membuat saya begitu rindu dengan Matahari yang dulu saat masa SMA dan SMP sering saya hindari karena panas.

Entah bagaimana caranya, mekanisme ini bekerja….. mekanisme harapan dan Impian luar biasa ini bekerja.

 

Akan ada saatnya nanti, di blog saya ada banyak daftar perjalanan saya mengeja rasa bersama Alam, cerita yang akan saya warisi untuk anak-anak saya

 

Surat terbuka untuk Windy Saputri : Kakak sayang, Kamu tahu ‘Sacred Anger’ Ngga’ ?

 

Surat terbuka untuk Windy Saputri : Kakak sayang, Kamu tahu ‘Sacred Anger’ Ngga’ ?

Dear kakakku sayang.

Bertahun-tahun saya gelisah karena tak ingin curhat apapun padamu, cerita kalau saya sebenernya ‘gak baik-baik saja’ dan gak bisa dengan mudah melakukan hal yang segampang kamu nasehatin, namun entah kenapa ada dorongan luar biasa untuk nulis ini dan mempostnya di blog saya. Biar suatu saat kalau saya udah ga sanggup berkata-kata lagi, tulisan ini bisa membantu saya buat menjelaskan bahwa adikmu ini sesungguhnya butuh sendiri. 

 

***

Kakak,

Pada hari selasa 14-Januari-2014 saya dengerin kamu menasehati bahwa sebenernya saya gak di “buang” sama orang yang telah melahirkan saya, well saya Cuma menjabawab singkat bahwa saya sudah tahu hal itu sebelum kamu menjelaskan. Sambil mata saya yang terus berkonsentrasi sama sebuah novel , kamu melanjutkan percakapan , yang intinya “aku ndak baik bersikap begitu, nanti kalau aku menikah otomatis kakak laki-laki (kandung) ku yang mesti jadi wali “ kaamu berkata sedemikian mudahnya, hanya karena aku ndak mau menerima dan mensave nomor kakak laki-laki (kandung)ku yang berada di Bandung sana,

 

Waktu saya tahu, saya bukan anak kandung, umur saya waktu itu sekitar tujuh tahunan. Saya teramat kecewa sekali, masih kecil sudah merasakan patah hati yang luar biasa, saya marah banget sama Tuhan karena dia nggak buat saya lahir d rahim orang yang saya panggil Mama, orang yang setiap hari saya lihat di rumah. Tanpa kamu tahu dan semua tahu, saya menyimpan kesedihan itu sendirian, saya masih kecil menyimpan kesedihan itu sendirian. Saya fikir saya adalah darih daging Mama dan Ayah.

Saya berusaha meredamnya. Dari dulu kamu gak tahu kan bahwa setiap malam saya bingung karena sedih menerima kenyataan pahit bahwa saya “anak angkat” status yang menyedihkan. Saya iri sama kamu, karena kamu mewarisi gen Mama dan Ayah.

 

Kakak,

Posisi saya waktu kecil masih polos sekali, saya justru menyalahkan Tuhan , kenapa sih Dia gak adil sama saya ? kenapa harus saya yang anak angkat ? kamu gak tahu kan, saya kecil begitu tertekan. Menatap resah seiap kali mau tidur, bertanya setiap hari sama Tuhan. Apakah Tuhan Adil ?

Pertayaan itu terus berlanjut, lalu pas saya kelas empat SD, saya tahu kalau Ayah kandung saya sudah meninggal, sebenernya saya udah tahu dari kelas dua SD , tapi baru berani cerita ke wali kelas saya Bu Eko, saya anak yatim.

Kamu tahu gak ? respon Bu Eko apa  ? dia malah mau ngankat saya jadi anak beliau, saya ingat banget dia bilang apa sama saya “ Kalau kamu jadi anak Ibu, nanti kamu ibu sekolahkan setinggi-tingginya, kamu juga bisa ngaji di dekat rumah ada TPA “ dia nyuguhin masa depan yang gemilang. Kamu tahu ? saya malah gak berminat sama sekali, saya kira saya gak perlu lah mengambarkan betapa sayang dan cinta nya saya sama keluarga kita. Buat apa saya cukup tapi kalau saya gak bahagia. Saya kelas empat SD bisa berfikir filosofi “bahagia” keren kan ?

 

Kakak,

Coba deh kamu kali-kali mikirin perasaan saya soal mengembalikan hubungan dengan keluarga kandung saya, coba rasakan jejak-jejak kekecewaan di mata saya setiap kali kamu atau siapapun membahas masalah ini. Kamu tahu gak ? saya baru sadar kalau Tuhan itu adil pas kelas dua SMP, dari sebuah novel karya bang tere. Dari situ saya memutuskan memaafkan Ibu kandung saya, saya gak dendam dan berambisi luar biasa untuk sukses dan menjadi kaya terus buat Ibu saya menyesal telah memutuskan meninggalkan dan berpisah dengan putri-nya. Saya Cuma kecewa.

 

Kakak,

Selama ini saya kecewa dengan cara yang elegan. Saya diam saja ketika kalian smeua menekan saya dan membahas masalah ini, saya tahu masa lalu itu bukan untuk di tutupi. Tapi please, coba berapa tahun saya baru bisa menerima kenyataan pahit ini ? enam tahun loh. Saya akhirnya sadar bahwa ini merupakan takdir yang harus saya jalani, takdir saya yang bersinggungan dengan keluarga kita yang sekarang. Takdir saya yang berikatan dengan orang-orang di sini. Takdir saya di sini, bukan di sana.

 

Kakak,

Kamu tahu sacred anger ngga ? kemarahan yang di ungkapkan karena melihat sebuah ketidak beresan? Saya marah tapi diem aja ketika kalian semua sibuk menceramahi saya sepulang dari Bandung. Saya menelan rasa pedih itu sendirian.

Saya sengaja membiarkan semua tahu bahwa saya terluka. Saya menunjukan bahwa tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, saya sudah tahu informasi-informasi itu. Dan saat ini Saya menunjukan bahwa luka saya pasti akan mngering, tapi bekasnya pasti masih ada, namun mungkin suatu saat bisa lenyap.

Berilah kesempatan untuk saya bisa entah kapan menerima semua kondisi yang gak normal, kenapa saya bilang gak normal ? karena saya seperti merasakan melakukan poligami,

Karena memilki dua keluarga yang sama-sama membesarkan saya,

 

Oh ya Kak,

Suatu hari saya pernah merasakan hati saya seperti di tusuk pedang es, ih ngeri kan ?

Waktu Mama bilang dengan tulusnya ke saya “ bahwa gaji pertama saya harus di kasih ke Ibu kandung saya “ merinding saya Ka, Mama kayak malaikat ynag turun di bumi. Mulia banget kan ?

Kakak yang baik……

Waktu saya tahu semua kenyataan ini, saya selalu berjanji untuk terus memperbaiki kualitas diri saya, saya gak mau jadi orang berantakan. Saya akhirnya punya harapan hidup, saya mulai punya mimpi-mimpi hebat yang sering kali kamu ketawaain. Lihat aja, saya bakalan bikin kamu nangis bangga karena impian saya bakalan terwujud.

 

Kakak,

Sudahlah.. biarkan adikmu ini berdamai dengan cara tidak melakukan apapun yang berkaitan dengan keluarga kandung saya. Dan masalah wali nikah, gampang lah . Datang tinggal datang, saya diam bukan berari saya jadi monster jahat macam malin kundang. Oh iya, jangan bawa-bawa agama masalah seperti ini, please ini bukan ajaran agama saya, ini salah saya sendiri.

 

Salam sayang buat kakak sayang….

*surat diatas terinspirasi gaya  kepenulisan dengan surat terbuka untuk laire siwi.

 

 

 

 

 

 

Curhatan seorang Stalking ( cari hape—> buka sosmed—> klik nama “dia” )

Kadang gak tahu itu justru lebih baik dalam beberapa hal.

 

Curhatan seorang stalking

 

Bangun pagi-pagi langsung cari hape-–> buka sosmed—> klik nama “dia”

Kurang lebih begitulah para pelaku stalking yang sedang mempunyai rasa pada seseorang. Stalking ini biasanya di lakukan karena di “dia” termasuk aktif di sosmed, sehingga memaksa kita untuk tahu segala hal , dia sedang apa. Merasakan apa, dan apa pemikirannya. Tanpa kita sadarin, kita jadi kepo banget sama apa yang dia lakuin.

 

Kalau aja si “dia” pakai aplikasi canggih “siapa yang melihat akun profileku ? “ maka tamatlah riwayat si stalking ini. Sudah di pastikan posisi nama si stalking ini nomor satu. Tapi beruntungnya, jarang ada yang pakai aplikasi kepo kayak gini, sehingga profesi paling kepo ini bisa di jalankan dengan bertanggung jawab.

 

Pernah gak sih , jadi stalker ?

 

Semua orang gak semuanya mau jadi stalker, selain harus paket internetan capek juga menerka-nerka status si “dia” yang kadang gak jelas dan gak bisa kita ngerti apa maksudnya, alias statusnya abstrak. Tapi hampir di pastikan seseorang yang yang sedang merasakan yang namanya virus perasaan , kemungkinan besar melakukan hal ini, walaupun gak setiap hari minimal beberapa bulan atau minggu ngecek sosmed. Kepingin tahu perkembangan si “dia” gimana .

 

“Jangan dikira aku nggak membaca tulisan-tulisanmu , tanpa kamu tahu aku selalu memperhatikan setiap pemikiran yang kamu tulis “

Yeah, kurang lebih begitu . Kalau profesi stalking ini sering banget di lakuin, tanpa kita sadari ini bener-bener jadi semacam penyakit “kecanduan” apalagi kalau si “dia” bener-bener anak yang betah di dunia maya.

 

Kita emang gak bisa ngebohongin yang namanya perasaan, apalagi yang modelnya Cuma bisa memendam perasaan. Nah, itung sendiri berapa lama harus stalking selama rasa itu masih menetap di dasar hati. Emang gak realistis, tapi apa yang orang bilang realisitis kan belum tentu  sama seperti apa yang kita pikirin.

 

Secara logika, ngapain coba setiap hari stalking kepo banget, padahal koment aja enggak, ngasih jempol atau ngeRT aja belum tentu, Cuma bisa ngebaca tuh status. Menghabiskan beberapa menit menerka-nerka, atau nelepon temen yang genius dan sok paranormal untuk ngebantuin nebak-nebak apa maksud tuh tulisan “dia”

 

Disini saya gak mau bilang Cinta itu gila, karena cinta itu termasuk unsur yang Suci yang Gila itu pelaku-pelakunya.

 

Dari sisi negativ, ngestalk emang di butuhkan asupan gizi empat sehat lima sempurna

Energi ketabahan dan keiklasan yang luar biasa, karena status kita yang gak jelas siapa “dia” dan perasaan apa kedepannya, membuat kita Cuma bisa menghabiskan beberapa menit untuk menerka-nerka apa maksud statusnya, kadang malah sering gak menit lagi, tapi seharian dalam kasus tulisan yang bikin kita patah hati, tapi gak bisa nanya langsung sama orang yang bersangkutan. Miris banget kan.

 

Tetapi, dari sisi positiv nya melatih kita untuk siap apapun yang akan terjadi , contoh tiba-tiba dia menulis puisi dan ngetag nama seseorang yang ternyata spesial, atau membuat kalimat gombal dan diakhiri gabungan nama si “dia” dan orang yang spesialnya. Kita Cuma bisa lapang dada, menghela nafas resah. Bermimpi sekali aja ada status yang tentang kita, tapi sayang itu kayak mimpi di siang bolong. Tapi untuk para stalker yang bermental baja, mereka aka berusaha lapang dada melihat sebuah kenyataan bukti aksara bahwa si stalker memang gak pernah spesial dalam hal apapun. Kadang, gak semua seperti apa yang kita inginkan , kalau semua yang kita inginkan dapet terus, dari mana kita belajar sabar ?

 

Weel, untuk para stalker si  “dia” pilihan berada di tangan kalian, mau cukup sampai di sini aja , atau mau terus kepo.. . sampai dia peka. Kalau gak peka, ya udah datangi aja rumahnya dan katakan..

 

“Kamu kapan, PEKA ? “

 

Seperti ini saja sudah cukup

Kau tahu ? pesan  basa basimu yang kau kirim pukul sepuluh malam , membuat aku malas mengubris dengan cepat. Sebab aku telah lelap tertidur, dan dengan mata yang masih mengumpulkan pandangan, mungkin aku membaca pesanmu pukul dua pagi. Aku mendesis, untuk apa kamu sms aku ? Kemudian baru aku balas pukul tujuh, kau mengajakku ke toko buku, sesuatu yang pasti akan aku iyakan. Kita lantas berjanji, bertemu pukul tujuh malam.

Ku laporkan itu dengan cepat ke guru kebanggan kita, guru yang mengenalkan kita.

Aku juga tidak tahu  persis kenapa aku senyum-senyum sendiri, apakah aku sedang terjangkit penyakit depresi ringan atau bagaimana ? tapi yang jelas, aku membombardir puluhan pesan ke guru kita, kutanyakan hal-hal bodoh padanya , warna apa yang harus aku pakai ? baju seperti apa yang cocok untukku ? aku juga tertawa cekikikan di kamar, melihat aksi gilaku yang seperti sedang mengadakan konser tunggal yang di hadiri orang-orang yang disebut penting.

Belum setengah tujuh, kau mempercepat pertemuan kita, aku iyakan. Dan aku gemetar setengah mati, menggenggam sebuah tisu yang sudah rusak dengan genggaman kuatku. Kamu datang, aku sambut dengan sneyuman. Sepanjang jalan aku melafalkan nama-nama Tuhan, sebab kau lupa membawa helm, sampai saat ini jalan raya selalu menjadi momok menakutkan untukku, trauma yang bahkan tak pernah sembuh.

Kita masuk ke mall, mencari toko buku, aku ikuti saja kemana kamu melangkah. Aku sengaja memilih berada di belakangmu, setidaknya agar aku bisa menyeludupkan bahwa sebenarnya aku merasa aneh, di toko buku kita seperti orang tak mengenal. Aku ke tempat buku favoritku, kau entah kemana. Kita berpencar, toko buku ini bahkan membaut aku lupa bahwa aku datang bersama seseorang. Aih, buku memang membuat kita agak sedikit gila.

Aku sedikit kecewa dengan toko buku ini, stok puisi temanku habis, buku yang kau cari pun stoknya juga habis. Untungnya aku merasa baik-baik saja setelah menemukan buku ” Kitab Mahabarta” karya yang kupikir harus aku miliki, kau yang belum menemukan apa-apa , kau tenggelamkan dirimu pada buku-buku politik. Tapi mungkin bagimu tidak ada yang menarik, atau justru kau bingung ? akhirnya kau memilih buku ILUMINATI, aku tertawa.

Aku agak mengutuk lagu yang di putar di toko buku, mengapa toko buku itu memutar lagu Cinta sejati dan Malaikat Juga  Tahu. Kita keluar dari toko buku, kau mengajakku makan, sesuatu hal yang klise. Barangkali, agar semua ini tidak sia-sia, maksudnya agar aku tak merasa cuma sebagai teman membeli buku. Kita sandarkan diri kita di penjual bakso kaki lima. Setelah hujan menguyur kita, aku berlari kecil mengikuti langkahmu. Kau memesan mie ayam, aku memasan bakso.

Kita mulai bercerita tentang banyak hal.

Aku bercerita tentang betapa luluh lantahnya perasaanku, ketika seorang sahabatku menuduhku sebagai dalang penghancur hubungan mereka. Kemudian kita bernostalgia tentang sekolah kita dulu, segela bentuk hukaman yang justru sekarang membuat dirimu terpingkal-pingkal. Aku katakan padamu, bahwa semasa sekolah dulu, aku adalah anak baik. Disayang semua guru.

hujan masih menguyur

Kita masuk ke obrolan yang lebih berat, filsafat. Kita bicara tentang postmoderenisme dan wacana yang berkembang setelahnya. Kita juga menertawai pikiran para filsuf yang terdengar lucu padahal penuh makna. Kamu juga bercerita bahwa sebelumnya kau tidak tahu menau tentang filsafat, kau pilih jurusan filsafat karena di depan ada kata aqidah ” jurusan aqidah filsafat ” kau merasa bermasalah dengan akidahmu ( keyakinan) aku menahan tawa. Bisa dikatakan kau salah jurusan, tapi kau menikmati itu bukan ? sementara aku, mengutuki habis-habisan jurusan yang aku tempuh, melihat gerbangnya saja membuat aku seolah-olah telah di penjara oleh kekuatan raja yang tidak melindungi rakyatnya.

Kita bahkan pulang pukul setengah sepuluh, aku yakin jika obrolan ini di teruskan barangkali kita menjadi dua insan yang begadang, seharusnya kita lakukan ini di Taman Ismail Marzuki, kelompok-kelompok diskusi bertebaran di mana-mana. aku bersyukur sekali karena pada malam ini aku tak menjelma menjadi wanita yang tidak tahu apa-apa. Aku katakan pada guru kita, bahwa tidak sia-sia aku berguru dengan ka Budi.

Aku juga bercerita padamu, apa yang akan kau lakukan jika menjadi aku, maksudku dalam posisi tidak enak hati pada musrifah halaqahku, aku telah meninggalkan halaqah, menghilang entah kemana. Kamu katakan, bahwa sekali-kali kita harus berani menjadi pemberontak. Sampai saat ini aku belum mengambil keputusan.

Kita pulang, hujan bahkan sudah reda.

Di perjalanan kau bertanya tentang diriku, tepatnya sejak kapan aku mulai menyukai semua hal-hal yang seharusnya tidak di pelajari pada usiaku, begitu kurang lebih. Aku jelaskan bahwa aku adalah perempuan yang rasa ingin tahunya tinggi, aku tidak mau menelan sesuatu secara mentah-mentah, aku juga bilang padamu baha aku bisa menyimpan ratusan memory hanya untuk mencari tahu sesuatu, aku bisa mengobrak-abrik puluhan artikel.

Perjalanan pulang justru membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Aku katakan padamu, bahwa manusia abad ini jika terbangun dari tidur justru yang mereka cari adalah ponselnya, kau tertawa manis. Kau iyakan ucapakanku, kau bilang bahwa itu semacam kebiasaan dan kebutuhan. Aku hubungkan lagi dengan teori gagal move on, zaman dahulu seseorang bisa dengan mudah melupakan kekasihnya, mudah tinggal membakar surat-surat tapi pada zaman ini, semua terasa sulit. Kenangan mengelepar di mana-mana, kau tertawa lagi.

Aku ingin mengutip sebuah kata-kata dalam novel yang tak sengaja aku buka , begini …

 

” Seperti ini saja sudah cukup ”

 

Jakarta, 30 penghujung Juli tahun 2014

Pendakian kecil Pertama : Nus, saya main ke gunung boleh ?

 

Sebelum pergi, saya menulis sebuah surat untuk Neptunus, kurang lebih isinya begini

Nus, Saya pamit mau jalan-jalan ke kawah ratu gunung salak, Maaf saya gak bisa pulang ke markas tahun ini, saya lapor dari Jakata dan semua penjuru aliran air aja ya, doakan saya ya nus, kali ini sesuatu banget. Segala sesuatunya terasa menjadi ada dan mimpi-mimpi saya seperti mendekat.

Salam Agen Liana.

Mendaki, sungguh bukan kaki tapi Hati.

27 Desember 2013

Pukul lima sore, belum ada tanda-tanda kehidupan di sekolah yang sempat saya pijaki, dan saya sudah lulus dari kapan tahu. Membawa barang bawaan yang mirip dengan orang pulang kampung, eh salah deng.. tapi pecinta alam. Hari itu beberapa alumni Mts Negeri 34 Jakarta angkatan 2008-2013 merapat untuk temu kangen dengan bungkusan acara mendaki kecil-kecilan ke gunung Salak, Bogor.

Setelah menunggu sendirian di sekolah ini, akhirnya beberapa manusia mulai muncul membawa barang bawaan mirip sekali orang pulang kampung, tetapi ada juga yang membawa barang bawaan mirip orang mau main ke maal , ada yang mirip mau sekolah, ada yang mirip orang dagang. Pokoknya aneh dan kocak.

  formasi alumni

Kurang lebih dua puluh orang , terdiri dari enam wanita cantik dan luar biasa ( termasuk saya.. ) sisanya adalah para lelaki yang berusaha tetap tangguh. Di dalam hati masing-masing terbesit suatu kegembiraan yang tak terhingga setelah sekian lama nggak jalan-jalan spektakuler kayak gini. Kami semua memasuki Metromini sewaan berkapasitas dua puluh lima orang. Setelah membereskan barang bawaan di Metro, kami semua duduk dan aku duduk dengan ka Zakia, yang wajahnya tidak bosan di pandangi karena cantik. Mobil metro mulai bergerak perlahan menembus kemacetan malam , mulai meninggalkan kota Jakarta.

 

Saya duduk di deretan ke dua dari depan, sementara di belakang anak lelaki sudah berisik , entah apa yang mereka bicarakan, suara mereka semua seperti ikut bersaing dengan suara berisik mesin Metromini ini, setelah saya menoleh ke belakang ternyata mereka sedang bernyayi lagu bermodalkan gitar yang sengaja mereka bawa dan lagu yang mereka lantunkan menurutku kurang populer di telingaku,  saya memutuskan diam dan menikmati perjalanan.

Beberapa dari mereka ada yang menyalakan rokok. Setiap laki-laki pasti punya saat-saat seperti ini , sambil mengisap rokok yang terselip di antara kedua jari , mereka bersanda gurau dengan kekocakan yang mereka ciptakan.

 

Setelah beberapa potong perjalanan terlewatkan, di belakang terdapat sosok ka Prima yang sedang asyik dengan kamera di tangannya, karena saya bosan, akhirnya saya memberanikan diri ngobrol dengan ka prima seputar dunia perkuliahan dan jurusan yang sedang ka Prima tempuh, tidak lepas kami membahas mengenai beberapa kenangan di Mts 34. Tak terasa perjalanan malam sudah di tempuh, kami sampai di pintu gerbang Taman nasional gunung salak. Pukul 00.00 cuaca dingin sudah begitu terasa menyelusup ke jemari.

Karena sudah terlalu larut, sesuai rencana kami harus mendirikan tenda untuk bermalam dan paginya melanjutkan perjalanan untuk mendaki. Dan taukah kalian ? langkah pertama biasa, langkah kedua dan seterusnya mulaiterasa sesak.Suara dekup jantung terdengar persis di telinga saya.  Bu trini, persis di samping saya mengenggam erat tangan saya, berusaha berkaali-kali memastikan bahwa saya baik-baik saja. Langkah saya semakin melambat, dan saya semakin susah bernafas padahal ini belum apa-apa baru mau ke tempat nge-camp. Belum puncak atau apanya.

“Ya.. Allah, berikanlah kekuatan kepadaku, yakinkanlah diriku bahwa aku bisa “ Itu lah doa sepanjang jalan yag berusaha saya lafalkan, terdengar suara panggilan dari belakang. Pak Arif bilang , ka Faisal sakit dia sudah tidak kuat lagi berjalan. Ya Allah, ternyata saya tidak sendirian. Ruapnya, ka Faisal baru saja sembuh dari sakit typus nya, dia memaksakan diri untuk ikut acara ini, luar biasa !.

Saya lelah sekali, tetapi  berusaha menatap bintang yang berpijar terang di atas kepala, teringat novel bang Donny mengenai 5cm dan kekuatan mimpi. Ini pendakian pertama saya,pasti banyak cobaan tetapi saya percaya saya bisa saya bisa saya bisa. Teringat potongan

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek – objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat karena itulah kami naik gunung”
Soe Hok Gie

Dan…….

Sampalah saya d temapat nge-camp, ka Faisal yang sudah pucat-pun akhirnya sampai juga, sambil meluruskan kaki, saya membenak ini pasti belum ada apa-apanya di banding pagi nanti. Saya mungkin hanya kaget saja, belum bisa mengatur nafas dengan baik. Padahal dulu atlet pencak silat -_- yang latihanya cukup keras.

Para enam bidadari mulai menyalakan kompor untuk masak mie dan menyeduh kopi, sementara para lelaki mendirikan tenda sebaik mungkin. Usai makan dan tenda sudah berdiri, kami semua tertidur.

Dan…..

Saya kesiangan shalat subuh permisa -_- memalukan sekali, dan pas saya ambil wudhu jeng jeng jeng sumfah airnya dingin banget. Ini bisa jadi nikmat, karena berwudhu di cuaca ekstrem. Dan waktu sudah jam 6 pagi, saya baru shalat di belakang tenda beralaskan koran. Hiks .. hiks.. Berbeda sekali rasnya beribadah di alam terbuka, di belakang tenda saya hamparan bukit dan rimbunya pepohonan rasamala , Matahari mulai menampakan sinarnya.

Setalah beberes kami melanjutkan perjalanan

     

, untuk ke kawah ratu .. Dan inilah penampakan pintu gerbang-nya.. foto dulu kita

 

 

Kemudian, perjalanan hati di lanjutkan kembali, pemirsa sumfah jalanannya begitu terjal dan licin, ibarat kata seperti naik tangga rangkap dua, pegal sekali permirsa. Nafas saya mulai sedikit bisa saya atur, jadi gak kecapean banget walaupun saya lambat dan agak tertinggal jauh beberapa meter dari kloter depan ( emangnya naik haji ?)

Jangan di tanya capek nya kayak apa, tapi dari lelah itu saya belajar sesuatu hal, mengambil kesimpulan sesuatu hal. Yaitu “ Sesakit apapun kamu, ya rasakan saja, nikmati saja bukankah hidup adalah seni dari gabungan beraneka rasa, kamu capek ? iya semua orang yang mendaki juga capek, tapi ada yang gak bisa di bayar oleh orang-orang yaitu : Alam .. “

Yap permirsa, rimbunya hutan dan gemeicik air bisa mengobati segalanya, apalagi ketika istirahat di dekat aliran air, kaki kita bisa nyemplung dan melepasakn pegal yang bercongkol di lutut, di tambah candaan teman-teman bikin kita lupa , bahwa sebenenarnya kita lagi capek, tapi koq seneng-seneng aja ya ?

Dari mendaki gunung , saya di ingatkan kembali mengenai kekuatan fikiran , seperti seorang dokter yang sempat menyembunyikan penyakit pasiennya dengan alasan “Kita gak mau bilang kamu sakit, soalnya kalau orang yang dinyatakan sakit fikiran dia akan bilang dia sakit dan dia akan sakit. Kekuatan fikiran itu luar biasa .. “ Yap, saya setuju sekali, fikiran adalah segalanya. Sekali buruk maka buruk lah segala yang kita jalani.

Catatan untuk para pendaki : jangan lupa membawa gula merah, karena saya sudah merasakan khasiatnya sendiri lumayan nambah energi biar kita gak loyo banget, hihiww

Lanjut, di hitung-hitung kayaknya sudah delapan kali kita istirahat gak kerasa bahwa jarak sudah semakin dekat. Kira-kira satu kilo meter lagi ke tempat nge-camp. Jalanan mulai di kelililngi jurang , sehingga hanya muat satu orang , alias jalan setapak nan sempit. Di situlah saya merasakan keanehan .. hi.. hi.. hi

Oke, pemirsa saya gak tahu ini namanya apa atau di sebut apa. Karena jalan setapak otomatis jalanya satu-satu gak bisa gandengan kaya truk, dan pinggir saya jurang pemirsa kudu hati-hati, kalau tidak .. ya tau sendiri lah. Di sinilah saya merasakan keanehan, jurang tepat berada di samping kanan saya, pas saya lihat koq berubah jadi Danau ya ? saya diem aja , ngelanjutin perjalanan dan saya penasaran apa bener ya danau ? saya lihat lagi masih danau pemirsa, saya bingung tuh padahal di sini gak ada danau. Saya jalan lagi tuh, masih diem dan pas saya lihat lagi jurang pemirsa, danau nya gak ada !!! Nah looooo…

Saya berusaha stay cool, masih jam sebelas pagi, masa iya ada yang begitu-an ? saya jalan lagi, pas saya lihat danau pemirsaaaaa…. jurang nya kemana ???? saya jalan lagi , saya lihat lagi… jurang pemirsaaaa… danau nya kemana ? mata saya kaya berhasulinasi. Saya langsung istigfar dan berdoa akhirnya fenomena itu tidak terlihat lagi.

Dan . . .

Kami sampai di tempat nge-camp

Yeaaaahhhh , rasanya mau nguling-ngulingan di lapangan , tapi sayang banyak orang yang kayaknya abis neg-camp dan lagi bersiap-siap pulang, banyak banget pemirsa, sekitar lima puluh orang. Entah ada acara apa..

Dan..

Mereka bingung ngeliatin saya pemirsa, sebab saya pakai rok .. iya beneran saya mendaki dari awal jalan pakai rok, walaupun di dalamnya tetap rangkapan celana training , mereka ngira saya salah kostum kali ya, lah saya tidak peduli. Ini masalah prinsip.

Pas saya lewat, gak sengaja saya dengar ada yang ngomong “Ih, aneh banget pake rok.. “

Dalam hati saya, ah biarkan saja ini masalah prinsip. Mereka sih gak tahu aja, temen-temen saya malah naik gunung pakai gamis. Belum lihat aja mereka,

Dan, meski masih rada –rada lelah, anak lelaki buru-buru mendirikan tenda karena gerimis mulai jatuh membasahi pipi. Enam bidadari sudah mengambil pasokan air untuk masak mie, di mata air yang cukup jauh dan sufah dingin banget pemirsaaaaaaa.

Senja di gunung begitu terasa memilki kekuatan perenungan yang dahsyat, pantas saja di gunung banyak orang bengong, saya begitu pemirsa, gak sempurna fikiran kosong banget sih.. tapi alam nya itu loh -_- saya kayaknya bakalan mimisan kangen kalau udah di Jakarta.

Dan dari situlah, akar permasalahan mulai muncul. Udara dingin mulai mengusap pipi saya, saya keluarkan pakaian tebal dan jaket serta sarung tangan dan kaos kaki, tetap saja pemirsa dinginnnnnnn. Shalat maghrib dan shalat isya, saya menangis.

Ya Allah

Hari ini , hambanmu yang lemah ini datang ke alam yang telah

Kau ciptakan sedemikan luar biasa dan sempurna

Hamba ini ternyata kecil

Sangat kecil di banding pohon besar yang tumbuh di pegunungan ini

Pantaskah, hamba masih memilki rasa sombong ?

Padahal menginjakan kaki di batu saja , nafas bisa dengan mudah

Kau cabut..

 

Ya Ilahi,

Malam ini,

Ratusan bintang yang tak terhitung nyata di atas kepala hamba-Mu

Maka, seperti dalam firman-Mu

Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan ?

Ampuni, aku yang lemah dan buta ini

Buta akan segala nikmat yang telah kau berikan setiap helai nafasku

 

Ya Ilahi,

Jika kau berkenan

Ampunilah dosa hamba-Mu yang pelupa ini

Ampunilah ya Rabb..

Izinkanlah aku merasakan bintang ini lagi

Di hari berikutnya..

Aamiin..

 

Saya menangis………………..

 

Sudah selesai beribadah dan sedikit muhasabah, acara di lanjutkan dengan api unggun. Saya sangat berharap api yang d buat sangat besar, soalnya dingin bangetttttt. Saya berfikir untuk melakukan push up, atau lari-larian gak jelas suapaya keluar keringet. Pokoknya melakukan apapun supaya bergerak, soalnya kalau diam kaki saya kayak kram gitu.. mungkin karena dingin banget kali ya ?

 

Saya dan enam bidadari hanya berjarak sekitar lima puluh cm, dari api unggun yang super unyu itu. Saya pelukan sajaa dengan ka  Zakia, soalnya dingin banget. Ampun pemirsa, minyak kayu putih udah gak ada rasanya lagi,  Saya sebenarnya gak betah banget duduk, soalnya lutut saya kaya kram.

 

Acara pun di mulai, ka Yogi selaku ketua Forum Ikatan Alumni dan MC membuka acara, dan saya mau membacakan puisi “Filosofi Perahu kertas”

 

Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan.

Kita tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan tanpa terlebih dahulu bersinggungan dengan rasa sakit-rasa perih.lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian yang sama. Pertemukanlah antara satu sisi dengan sisi lainnya. Lihatlah, kau mulai mencipta gerak, dan kau segera tahu bahwa peristiwa-peristiwa hidup berikutnya segera dimulai-sebuah lakon mulai dimainkan.

Kemudian, lipatlah kertas yang terlipat dua tadi dengan sebuah lipatan lain secara vertikal. Maka kau akan menjumpai kenyataan bahwa peristiwa selalu merupakan resultan dari persinggungan titik-titik takdir yang dimiliki sejumlah orang-dua atau lebih.Seseorang memiliki takdirnya sendiri sebagaimana seseorang lainnya,  Takdir mereka berjalan berdasarkan natur tertentu, pada track tertentu, sampai pada sebuah kemungkinan tertentu bahwa mereka berpapasan, beririsan, bersinggungan dengan yang lain.dan  setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri… Setiap kita memiliki perahu kertasnya masing-masing,
_YangGalauyangMeracau_
 

 

Dan bu Trini seklaku guru bahasa Indonesia saya yang amat saya sayangi, membacakan puisi Soe Hoe Gie , Mandalawangi-Panggranggo

 

MANDALAWANGI PANGRANGO
soe-hok-gie-mandalawangi-pangrangoSenja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah”
Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
Soe Hok Gie
Jakarta, 19 Juli 1966

 

 

Lalu, di lanjut dengan sharing-sharing dan

Semua berubah ketika negara api , menyerang   Ka Yogi, berfilosofi mengenai “Hidup” jadi pemirsa, ka Yogi ini anak jurusan filsafat . Sebenarnya saya suka  diskusi seperti ini, pembicaraan mengenai Hidup yang ka Yogi paparkan , cukup menarik dan bagus . Yang pada intinya Hidup itu adalah Paksaan, menurut pandangan ka Yogi.

Setelah di pikir, saya setuju dengan filosofi hidup yang di paparkan oleh ka Yogi, tapi sayang saya nggak berani menuliskan nya di sini, soalnya ada beberapa hal yang saya lupa dan takut tidak sesuai dengan ucapan ka Yogi aja, jatuhnya reporter gagal dong. -_-

Negara api menyerang belum selesai Ternyata filosofi “Hidup” yang di paparkan ka Yogi, di balas dengan ka Yusuf (sahabat kuliah nya ka yogi, dia ikut ) yang jurusan tafsir hadist.

Tshaaaaa negeluarin dalil al-Qur’an pemirsa, bahwa hidup adalah ibadah (Al-Dzariyat:56)

Kedua orang itu saling beradu argumen, saya malah seneng kayak gini , malah mau saya tambahin satpi sayang….

Yang lainya udah mulai banyak yang pusing, ada yang tidur, ada yang mau ngerubuhin tenda, ada yang nyari panci, ada yang nyeduh kopi. Kondisi mulai tidak kondusif, bahkan ada yang mau joget (yang ini abikan, hanya mitos)

Banyak yang teriak “Aduhhhhhhhhhhhhh tidur daaaah , udah maleeemmmmm.. “

 

Saya ketawa cekikian ngeliat, tingkah laku teman-teman yang mulai aneh.  Ya, terkadang kiat harus banyak belajar bagaimana cara mengambil alih suasana. Dan terapaksa, pembicaraan mengenai “Hidup” itu bersambung.

Setelah saya membuatkan teh untuk bu Trini, ternyata ka Yusuf sedang berbincang-bincang dengan bu Trini, saya ikut nimbrung memperhatikan. Sambil pada bakar diri, eh salah bakar sosis, ka Yusuf dan Bu trini berdiskusi mengenai kondisi Indonesia, tsahh pembicaraan yang cukup idealis. Ka Yusuf juga cerita, bahwa sebenarnya pembahasan “hidup” dari kemarin belum selesai di diskusikan dengan ka Yogi, sahabat sekaligus teman satu kontrakan. Saya dan bu Trini lirik-lirikan, tidak bisa membayangkan persahabatan yang super ajaib ini.

 

Malam berlalu, kami semua melepas lelah dan tertidur di tenda. Pemirsaaaaaa saya gak bisa tidur , ka Zakia ka Herfina, Ka nurbaeti Kedinginan. Saya jadi ingat ketika saya di ruang operasi , dan ruangan operasi nya persis banget rasanya kaya gini. Dari situ saya sadar pemirsa,

“Allah, hanya kepadaMu lah kami kembali dan berserah diri, tanamkanlah kesabaran pada hati hamba-hambamu ini, aku memohon  kekuatan dariMu untuk melawan dingin yang menusuk jemari kami , ya Rabb .. “

Dan . . . Detik berlalu, waktu terus berjalan

Ingatkan engkau kepada,
embun pagi bersahaja,
yang menemani mu,
sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada,
angin yang berhembus mesra,
yang ‘kan membelai mu, cinta _

letto-sebelum cahaya

kenapa harus lagu itu pemirsa ? Yup, lagu diatas sebenarnya bermakna sebelum cahaya alias sebelum subuh, saya kangen azan pemirsa -_-

 

Bersambung……. (tulisan di atas masih dalam keadaan kacau, karena tetiba tugas memanggil , minta di temenin )

Blog at WordPress.com.

Up ↑