Sebelum pergi, saya menulis sebuah surat untuk Neptunus, kurang lebih isinya begini

Nus, Saya pamit mau jalan-jalan ke kawah ratu gunung salak, Maaf saya gak bisa pulang ke markas tahun ini, saya lapor dari Jakata dan semua penjuru aliran air aja ya, doakan saya ya nus, kali ini sesuatu banget. Segala sesuatunya terasa menjadi ada dan mimpi-mimpi saya seperti mendekat.

Salam Agen Liana.

Mendaki, sungguh bukan kaki tapi Hati.

27 Desember 2013

Pukul lima sore, belum ada tanda-tanda kehidupan di sekolah yang sempat saya pijaki, dan saya sudah lulus dari kapan tahu. Membawa barang bawaan yang mirip dengan orang pulang kampung, eh salah deng.. tapi pecinta alam. Hari itu beberapa alumni Mts Negeri 34 Jakarta angkatan 2008-2013 merapat untuk temu kangen dengan bungkusan acara mendaki kecil-kecilan ke gunung Salak, Bogor.

Setelah menunggu sendirian di sekolah ini, akhirnya beberapa manusia mulai muncul membawa barang bawaan mirip sekali orang pulang kampung, tetapi ada juga yang membawa barang bawaan mirip orang mau main ke maal , ada yang mirip mau sekolah, ada yang mirip orang dagang. Pokoknya aneh dan kocak.

  formasi alumni

Kurang lebih dua puluh orang , terdiri dari enam wanita cantik dan luar biasa ( termasuk saya.. ) sisanya adalah para lelaki yang berusaha tetap tangguh. Di dalam hati masing-masing terbesit suatu kegembiraan yang tak terhingga setelah sekian lama nggak jalan-jalan spektakuler kayak gini. Kami semua memasuki Metromini sewaan berkapasitas dua puluh lima orang. Setelah membereskan barang bawaan di Metro, kami semua duduk dan aku duduk dengan ka Zakia, yang wajahnya tidak bosan di pandangi karena cantik. Mobil metro mulai bergerak perlahan menembus kemacetan malam , mulai meninggalkan kota Jakarta.

 

Saya duduk di deretan ke dua dari depan, sementara di belakang anak lelaki sudah berisik , entah apa yang mereka bicarakan, suara mereka semua seperti ikut bersaing dengan suara berisik mesin Metromini ini, setelah saya menoleh ke belakang ternyata mereka sedang bernyayi lagu bermodalkan gitar yang sengaja mereka bawa dan lagu yang mereka lantunkan menurutku kurang populer di telingaku,  saya memutuskan diam dan menikmati perjalanan.

Beberapa dari mereka ada yang menyalakan rokok. Setiap laki-laki pasti punya saat-saat seperti ini , sambil mengisap rokok yang terselip di antara kedua jari , mereka bersanda gurau dengan kekocakan yang mereka ciptakan.

 

Setelah beberapa potong perjalanan terlewatkan, di belakang terdapat sosok ka Prima yang sedang asyik dengan kamera di tangannya, karena saya bosan, akhirnya saya memberanikan diri ngobrol dengan ka prima seputar dunia perkuliahan dan jurusan yang sedang ka Prima tempuh, tidak lepas kami membahas mengenai beberapa kenangan di Mts 34. Tak terasa perjalanan malam sudah di tempuh, kami sampai di pintu gerbang Taman nasional gunung salak. Pukul 00.00 cuaca dingin sudah begitu terasa menyelusup ke jemari.

Karena sudah terlalu larut, sesuai rencana kami harus mendirikan tenda untuk bermalam dan paginya melanjutkan perjalanan untuk mendaki. Dan taukah kalian ? langkah pertama biasa, langkah kedua dan seterusnya mulaiterasa sesak.Suara dekup jantung terdengar persis di telinga saya.  Bu trini, persis di samping saya mengenggam erat tangan saya, berusaha berkaali-kali memastikan bahwa saya baik-baik saja. Langkah saya semakin melambat, dan saya semakin susah bernafas padahal ini belum apa-apa baru mau ke tempat nge-camp. Belum puncak atau apanya.

“Ya.. Allah, berikanlah kekuatan kepadaku, yakinkanlah diriku bahwa aku bisa “ Itu lah doa sepanjang jalan yag berusaha saya lafalkan, terdengar suara panggilan dari belakang. Pak Arif bilang , ka Faisal sakit dia sudah tidak kuat lagi berjalan. Ya Allah, ternyata saya tidak sendirian. Ruapnya, ka Faisal baru saja sembuh dari sakit typus nya, dia memaksakan diri untuk ikut acara ini, luar biasa !.

Saya lelah sekali, tetapi  berusaha menatap bintang yang berpijar terang di atas kepala, teringat novel bang Donny mengenai 5cm dan kekuatan mimpi. Ini pendakian pertama saya,pasti banyak cobaan tetapi saya percaya saya bisa saya bisa saya bisa. Teringat potongan

“Patriotisme tidak mungkin tumbuh dari hipokrasi dan slogan, seseorang hanya dapat mencintai sesuatu secara sehat kalau ia mengenal akan objek – objeknya, mencintai tanah air Indonesia dengan mengenal Indonesia bersama rakyatnya dengan dekat. Pertumbuhan jiwa yang sehat dari pemuda harus berarti pula pertumbuhan fisik yang sehat karena itulah kami naik gunung”
Soe Hok Gie

Dan…….

Sampalah saya d temapat nge-camp, ka Faisal yang sudah pucat-pun akhirnya sampai juga, sambil meluruskan kaki, saya membenak ini pasti belum ada apa-apanya di banding pagi nanti. Saya mungkin hanya kaget saja, belum bisa mengatur nafas dengan baik. Padahal dulu atlet pencak silat -_- yang latihanya cukup keras.

Para enam bidadari mulai menyalakan kompor untuk masak mie dan menyeduh kopi, sementara para lelaki mendirikan tenda sebaik mungkin. Usai makan dan tenda sudah berdiri, kami semua tertidur.

Dan…..

Saya kesiangan shalat subuh permisa -_- memalukan sekali, dan pas saya ambil wudhu jeng jeng jeng sumfah airnya dingin banget. Ini bisa jadi nikmat, karena berwudhu di cuaca ekstrem. Dan waktu sudah jam 6 pagi, saya baru shalat di belakang tenda beralaskan koran. Hiks .. hiks.. Berbeda sekali rasnya beribadah di alam terbuka, di belakang tenda saya hamparan bukit dan rimbunya pepohonan rasamala , Matahari mulai menampakan sinarnya.

Setalah beberes kami melanjutkan perjalanan

     

, untuk ke kawah ratu .. Dan inilah penampakan pintu gerbang-nya.. foto dulu kita

 

 

Kemudian, perjalanan hati di lanjutkan kembali, pemirsa sumfah jalanannya begitu terjal dan licin, ibarat kata seperti naik tangga rangkap dua, pegal sekali permirsa. Nafas saya mulai sedikit bisa saya atur, jadi gak kecapean banget walaupun saya lambat dan agak tertinggal jauh beberapa meter dari kloter depan ( emangnya naik haji ?)

Jangan di tanya capek nya kayak apa, tapi dari lelah itu saya belajar sesuatu hal, mengambil kesimpulan sesuatu hal. Yaitu “ Sesakit apapun kamu, ya rasakan saja, nikmati saja bukankah hidup adalah seni dari gabungan beraneka rasa, kamu capek ? iya semua orang yang mendaki juga capek, tapi ada yang gak bisa di bayar oleh orang-orang yaitu : Alam .. “

Yap permirsa, rimbunya hutan dan gemeicik air bisa mengobati segalanya, apalagi ketika istirahat di dekat aliran air, kaki kita bisa nyemplung dan melepasakn pegal yang bercongkol di lutut, di tambah candaan teman-teman bikin kita lupa , bahwa sebenenarnya kita lagi capek, tapi koq seneng-seneng aja ya ?

Dari mendaki gunung , saya di ingatkan kembali mengenai kekuatan fikiran , seperti seorang dokter yang sempat menyembunyikan penyakit pasiennya dengan alasan “Kita gak mau bilang kamu sakit, soalnya kalau orang yang dinyatakan sakit fikiran dia akan bilang dia sakit dan dia akan sakit. Kekuatan fikiran itu luar biasa .. “ Yap, saya setuju sekali, fikiran adalah segalanya. Sekali buruk maka buruk lah segala yang kita jalani.

Catatan untuk para pendaki : jangan lupa membawa gula merah, karena saya sudah merasakan khasiatnya sendiri lumayan nambah energi biar kita gak loyo banget, hihiww

Lanjut, di hitung-hitung kayaknya sudah delapan kali kita istirahat gak kerasa bahwa jarak sudah semakin dekat. Kira-kira satu kilo meter lagi ke tempat nge-camp. Jalanan mulai di kelililngi jurang , sehingga hanya muat satu orang , alias jalan setapak nan sempit. Di situlah saya merasakan keanehan .. hi.. hi.. hi

Oke, pemirsa saya gak tahu ini namanya apa atau di sebut apa. Karena jalan setapak otomatis jalanya satu-satu gak bisa gandengan kaya truk, dan pinggir saya jurang pemirsa kudu hati-hati, kalau tidak .. ya tau sendiri lah. Di sinilah saya merasakan keanehan, jurang tepat berada di samping kanan saya, pas saya lihat koq berubah jadi Danau ya ? saya diem aja , ngelanjutin perjalanan dan saya penasaran apa bener ya danau ? saya lihat lagi masih danau pemirsa, saya bingung tuh padahal di sini gak ada danau. Saya jalan lagi tuh, masih diem dan pas saya lihat lagi jurang pemirsa, danau nya gak ada !!! Nah looooo…

Saya berusaha stay cool, masih jam sebelas pagi, masa iya ada yang begitu-an ? saya jalan lagi, pas saya lihat danau pemirsaaaaa…. jurang nya kemana ???? saya jalan lagi , saya lihat lagi… jurang pemirsaaaa… danau nya kemana ? mata saya kaya berhasulinasi. Saya langsung istigfar dan berdoa akhirnya fenomena itu tidak terlihat lagi.

Dan . . .

Kami sampai di tempat nge-camp

Yeaaaahhhh , rasanya mau nguling-ngulingan di lapangan , tapi sayang banyak orang yang kayaknya abis neg-camp dan lagi bersiap-siap pulang, banyak banget pemirsa, sekitar lima puluh orang. Entah ada acara apa..

Dan..

Mereka bingung ngeliatin saya pemirsa, sebab saya pakai rok .. iya beneran saya mendaki dari awal jalan pakai rok, walaupun di dalamnya tetap rangkapan celana training , mereka ngira saya salah kostum kali ya, lah saya tidak peduli. Ini masalah prinsip.

Pas saya lewat, gak sengaja saya dengar ada yang ngomong “Ih, aneh banget pake rok.. “

Dalam hati saya, ah biarkan saja ini masalah prinsip. Mereka sih gak tahu aja, temen-temen saya malah naik gunung pakai gamis. Belum lihat aja mereka,

Dan, meski masih rada –rada lelah, anak lelaki buru-buru mendirikan tenda karena gerimis mulai jatuh membasahi pipi. Enam bidadari sudah mengambil pasokan air untuk masak mie, di mata air yang cukup jauh dan sufah dingin banget pemirsaaaaaaa.

Senja di gunung begitu terasa memilki kekuatan perenungan yang dahsyat, pantas saja di gunung banyak orang bengong, saya begitu pemirsa, gak sempurna fikiran kosong banget sih.. tapi alam nya itu loh -_- saya kayaknya bakalan mimisan kangen kalau udah di Jakarta.

Dan dari situlah, akar permasalahan mulai muncul. Udara dingin mulai mengusap pipi saya, saya keluarkan pakaian tebal dan jaket serta sarung tangan dan kaos kaki, tetap saja pemirsa dinginnnnnnn. Shalat maghrib dan shalat isya, saya menangis.

Ya Allah

Hari ini , hambanmu yang lemah ini datang ke alam yang telah

Kau ciptakan sedemikan luar biasa dan sempurna

Hamba ini ternyata kecil

Sangat kecil di banding pohon besar yang tumbuh di pegunungan ini

Pantaskah, hamba masih memilki rasa sombong ?

Padahal menginjakan kaki di batu saja , nafas bisa dengan mudah

Kau cabut..

 

Ya Ilahi,

Malam ini,

Ratusan bintang yang tak terhitung nyata di atas kepala hamba-Mu

Maka, seperti dalam firman-Mu

Nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan ?

Ampuni, aku yang lemah dan buta ini

Buta akan segala nikmat yang telah kau berikan setiap helai nafasku

 

Ya Ilahi,

Jika kau berkenan

Ampunilah dosa hamba-Mu yang pelupa ini

Ampunilah ya Rabb..

Izinkanlah aku merasakan bintang ini lagi

Di hari berikutnya..

Aamiin..

 

Saya menangis………………..

 

Sudah selesai beribadah dan sedikit muhasabah, acara di lanjutkan dengan api unggun. Saya sangat berharap api yang d buat sangat besar, soalnya dingin bangetttttt. Saya berfikir untuk melakukan push up, atau lari-larian gak jelas suapaya keluar keringet. Pokoknya melakukan apapun supaya bergerak, soalnya kalau diam kaki saya kayak kram gitu.. mungkin karena dingin banget kali ya ?

 

Saya dan enam bidadari hanya berjarak sekitar lima puluh cm, dari api unggun yang super unyu itu. Saya pelukan sajaa dengan ka  Zakia, soalnya dingin banget. Ampun pemirsa, minyak kayu putih udah gak ada rasanya lagi,  Saya sebenarnya gak betah banget duduk, soalnya lutut saya kaya kram.

 

Acara pun di mulai, ka Yogi selaku ketua Forum Ikatan Alumni dan MC membuka acara, dan saya mau membacakan puisi “Filosofi Perahu kertas”

 

Pertama-tama lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian sama besar secara horizontal. Kau akan menemukan makna bahwa segala sesuatu pada mulanya selalu merupakan persinggungan dari dua hal, dua peristiwa, dua kekuatan, dua orang yang bertemu atau dipertemukan.

Kita tak akan pernah menemukan arti kebahagiaan tanpa terlebih dahulu bersinggungan dengan rasa sakit-rasa perih.lipatlah sebuah kertas menjadi dua bagian yang sama. Pertemukanlah antara satu sisi dengan sisi lainnya. Lihatlah, kau mulai mencipta gerak, dan kau segera tahu bahwa peristiwa-peristiwa hidup berikutnya segera dimulai-sebuah lakon mulai dimainkan.

Kemudian, lipatlah kertas yang terlipat dua tadi dengan sebuah lipatan lain secara vertikal. Maka kau akan menjumpai kenyataan bahwa peristiwa selalu merupakan resultan dari persinggungan titik-titik takdir yang dimiliki sejumlah orang-dua atau lebih.Seseorang memiliki takdirnya sendiri sebagaimana seseorang lainnya,  Takdir mereka berjalan berdasarkan natur tertentu, pada track tertentu, sampai pada sebuah kemungkinan tertentu bahwa mereka berpapasan, beririsan, bersinggungan dengan yang lain.dan  setiap orang punya kuasa atas hidupnya sendiri-sendiri, atas perahu kertasnya sendiri… Setiap kita memiliki perahu kertasnya masing-masing,
_YangGalauyangMeracau_
 

 

Dan bu Trini seklaku guru bahasa Indonesia saya yang amat saya sayangi, membacakan puisi Soe Hoe Gie , Mandalawangi-Panggranggo

 

MANDALAWANGI PANGRANGO
soe-hok-gie-mandalawangi-pangrangoSenja ini, ketika matahari turun kedalam jurang-jurangmu
Aku datang kembali
Kedalam ribaanmu, dalam sepimu dan dalam dinginmu
Walaupun setiap orang berbicara tentang manfaat dan guna
Aku bicara padamu tentang cinta dan keindahan
Dan aku terima kau dalam keberadaanmu
Seperti kau terima daku
Aku cinta padamu, Pangrango yang dingin dan sepi
Sungaimu adalah nyanyian keabadian tentang tiada
Hutanmu adalah misteri segala
Cintamu dan cintaku adalah kebisuan semesta
Malam itu ketika dingin dan kebisuan menyelimuti Mandalawangi Kau datang kembali
Dan bicara padaku tentang kehampaan semua
“Hidup adalah soal keberanian, menghadapi yang tanda tanya, tanpa kita mengerti, tanpa kita bisa menawar
terimalah dan hadapilah”
Dan antara ransel-ransel kosong dan api unggun yang membara
Aku terima ini semua
Melampaui batas-batas hutanmu, melampaui batas-batas jurangmu
Aku cinta padamu Pangrango
Karena aku cinta pada keberanian hidup
Soe Hok Gie
Jakarta, 19 Juli 1966

 

 

Lalu, di lanjut dengan sharing-sharing dan

Semua berubah ketika negara api , menyerang   Ka Yogi, berfilosofi mengenai “Hidup” jadi pemirsa, ka Yogi ini anak jurusan filsafat . Sebenarnya saya suka  diskusi seperti ini, pembicaraan mengenai Hidup yang ka Yogi paparkan , cukup menarik dan bagus . Yang pada intinya Hidup itu adalah Paksaan, menurut pandangan ka Yogi.

Setelah di pikir, saya setuju dengan filosofi hidup yang di paparkan oleh ka Yogi, tapi sayang saya nggak berani menuliskan nya di sini, soalnya ada beberapa hal yang saya lupa dan takut tidak sesuai dengan ucapan ka Yogi aja, jatuhnya reporter gagal dong. -_-

Negara api menyerang belum selesai Ternyata filosofi “Hidup” yang di paparkan ka Yogi, di balas dengan ka Yusuf (sahabat kuliah nya ka yogi, dia ikut ) yang jurusan tafsir hadist.

Tshaaaaa negeluarin dalil al-Qur’an pemirsa, bahwa hidup adalah ibadah (Al-Dzariyat:56)

Kedua orang itu saling beradu argumen, saya malah seneng kayak gini , malah mau saya tambahin satpi sayang….

Yang lainya udah mulai banyak yang pusing, ada yang tidur, ada yang mau ngerubuhin tenda, ada yang nyari panci, ada yang nyeduh kopi. Kondisi mulai tidak kondusif, bahkan ada yang mau joget (yang ini abikan, hanya mitos)

Banyak yang teriak “Aduhhhhhhhhhhhhh tidur daaaah , udah maleeemmmmm.. “

 

Saya ketawa cekikian ngeliat, tingkah laku teman-teman yang mulai aneh.  Ya, terkadang kiat harus banyak belajar bagaimana cara mengambil alih suasana. Dan terapaksa, pembicaraan mengenai “Hidup” itu bersambung.

Setelah saya membuatkan teh untuk bu Trini, ternyata ka Yusuf sedang berbincang-bincang dengan bu Trini, saya ikut nimbrung memperhatikan. Sambil pada bakar diri, eh salah bakar sosis, ka Yusuf dan Bu trini berdiskusi mengenai kondisi Indonesia, tsahh pembicaraan yang cukup idealis. Ka Yusuf juga cerita, bahwa sebenarnya pembahasan “hidup” dari kemarin belum selesai di diskusikan dengan ka Yogi, sahabat sekaligus teman satu kontrakan. Saya dan bu Trini lirik-lirikan, tidak bisa membayangkan persahabatan yang super ajaib ini.

 

Malam berlalu, kami semua melepas lelah dan tertidur di tenda. Pemirsaaaaaa saya gak bisa tidur , ka Zakia ka Herfina, Ka nurbaeti Kedinginan. Saya jadi ingat ketika saya di ruang operasi , dan ruangan operasi nya persis banget rasanya kaya gini. Dari situ saya sadar pemirsa,

“Allah, hanya kepadaMu lah kami kembali dan berserah diri, tanamkanlah kesabaran pada hati hamba-hambamu ini, aku memohon  kekuatan dariMu untuk melawan dingin yang menusuk jemari kami , ya Rabb .. “

Dan . . . Detik berlalu, waktu terus berjalan

Ingatkan engkau kepada,
embun pagi bersahaja,
yang menemani mu,
sebelum cahaya
Ingatkan engkau kepada,
angin yang berhembus mesra,
yang ‘kan membelai mu, cinta _

letto-sebelum cahaya

kenapa harus lagu itu pemirsa ? Yup, lagu diatas sebenarnya bermakna sebelum cahaya alias sebelum subuh, saya kangen azan pemirsa -_-

 

Bersambung……. (tulisan di atas masih dalam keadaan kacau, karena tetiba tugas memanggil , minta di temenin )