Kau tahu ? pesan  basa basimu yang kau kirim pukul sepuluh malam , membuat aku malas mengubris dengan cepat. Sebab aku telah lelap tertidur, dan dengan mata yang masih mengumpulkan pandangan, mungkin aku membaca pesanmu pukul dua pagi. Aku mendesis, untuk apa kamu sms aku ? Kemudian baru aku balas pukul tujuh, kau mengajakku ke toko buku, sesuatu yang pasti akan aku iyakan. Kita lantas berjanji, bertemu pukul tujuh malam.

Ku laporkan itu dengan cepat ke guru kebanggan kita, guru yang mengenalkan kita.

Aku juga tidak tahu  persis kenapa aku senyum-senyum sendiri, apakah aku sedang terjangkit penyakit depresi ringan atau bagaimana ? tapi yang jelas, aku membombardir puluhan pesan ke guru kita, kutanyakan hal-hal bodoh padanya , warna apa yang harus aku pakai ? baju seperti apa yang cocok untukku ? aku juga tertawa cekikikan di kamar, melihat aksi gilaku yang seperti sedang mengadakan konser tunggal yang di hadiri orang-orang yang disebut penting.

Belum setengah tujuh, kau mempercepat pertemuan kita, aku iyakan. Dan aku gemetar setengah mati, menggenggam sebuah tisu yang sudah rusak dengan genggaman kuatku. Kamu datang, aku sambut dengan sneyuman. Sepanjang jalan aku melafalkan nama-nama Tuhan, sebab kau lupa membawa helm, sampai saat ini jalan raya selalu menjadi momok menakutkan untukku, trauma yang bahkan tak pernah sembuh.

Kita masuk ke mall, mencari toko buku, aku ikuti saja kemana kamu melangkah. Aku sengaja memilih berada di belakangmu, setidaknya agar aku bisa menyeludupkan bahwa sebenarnya aku merasa aneh, di toko buku kita seperti orang tak mengenal. Aku ke tempat buku favoritku, kau entah kemana. Kita berpencar, toko buku ini bahkan membaut aku lupa bahwa aku datang bersama seseorang. Aih, buku memang membuat kita agak sedikit gila.

Aku sedikit kecewa dengan toko buku ini, stok puisi temanku habis, buku yang kau cari pun stoknya juga habis. Untungnya aku merasa baik-baik saja setelah menemukan buku ” Kitab Mahabarta” karya yang kupikir harus aku miliki, kau yang belum menemukan apa-apa , kau tenggelamkan dirimu pada buku-buku politik. Tapi mungkin bagimu tidak ada yang menarik, atau justru kau bingung ? akhirnya kau memilih buku ILUMINATI, aku tertawa.

Aku agak mengutuk lagu yang di putar di toko buku, mengapa toko buku itu memutar lagu Cinta sejati dan Malaikat Juga  Tahu. Kita keluar dari toko buku, kau mengajakku makan, sesuatu hal yang klise. Barangkali, agar semua ini tidak sia-sia, maksudnya agar aku tak merasa cuma sebagai teman membeli buku. Kita sandarkan diri kita di penjual bakso kaki lima. Setelah hujan menguyur kita, aku berlari kecil mengikuti langkahmu. Kau memesan mie ayam, aku memasan bakso.

Kita mulai bercerita tentang banyak hal.

Aku bercerita tentang betapa luluh lantahnya perasaanku, ketika seorang sahabatku menuduhku sebagai dalang penghancur hubungan mereka. Kemudian kita bernostalgia tentang sekolah kita dulu, segela bentuk hukaman yang justru sekarang membuat dirimu terpingkal-pingkal. Aku katakan padamu, bahwa semasa sekolah dulu, aku adalah anak baik. Disayang semua guru.

hujan masih menguyur

Kita masuk ke obrolan yang lebih berat, filsafat. Kita bicara tentang postmoderenisme dan wacana yang berkembang setelahnya. Kita juga menertawai pikiran para filsuf yang terdengar lucu padahal penuh makna. Kamu juga bercerita bahwa sebelumnya kau tidak tahu menau tentang filsafat, kau pilih jurusan filsafat karena di depan ada kata aqidah ” jurusan aqidah filsafat ” kau merasa bermasalah dengan akidahmu ( keyakinan) aku menahan tawa. Bisa dikatakan kau salah jurusan, tapi kau menikmati itu bukan ? sementara aku, mengutuki habis-habisan jurusan yang aku tempuh, melihat gerbangnya saja membuat aku seolah-olah telah di penjara oleh kekuatan raja yang tidak melindungi rakyatnya.

Kita bahkan pulang pukul setengah sepuluh, aku yakin jika obrolan ini di teruskan barangkali kita menjadi dua insan yang begadang, seharusnya kita lakukan ini di Taman Ismail Marzuki, kelompok-kelompok diskusi bertebaran di mana-mana. aku bersyukur sekali karena pada malam ini aku tak menjelma menjadi wanita yang tidak tahu apa-apa. Aku katakan pada guru kita, bahwa tidak sia-sia aku berguru dengan ka Budi.

Aku juga bercerita padamu, apa yang akan kau lakukan jika menjadi aku, maksudku dalam posisi tidak enak hati pada musrifah halaqahku, aku telah meninggalkan halaqah, menghilang entah kemana. Kamu katakan, bahwa sekali-kali kita harus berani menjadi pemberontak. Sampai saat ini aku belum mengambil keputusan.

Kita pulang, hujan bahkan sudah reda.

Di perjalanan kau bertanya tentang diriku, tepatnya sejak kapan aku mulai menyukai semua hal-hal yang seharusnya tidak di pelajari pada usiaku, begitu kurang lebih. Aku jelaskan bahwa aku adalah perempuan yang rasa ingin tahunya tinggi, aku tidak mau menelan sesuatu secara mentah-mentah, aku juga bilang padamu baha aku bisa menyimpan ratusan memory hanya untuk mencari tahu sesuatu, aku bisa mengobrak-abrik puluhan artikel.

Perjalanan pulang justru membuat kita tertawa terpingkal-pingkal. Aku katakan padamu, bahwa manusia abad ini jika terbangun dari tidur justru yang mereka cari adalah ponselnya, kau tertawa manis. Kau iyakan ucapakanku, kau bilang bahwa itu semacam kebiasaan dan kebutuhan. Aku hubungkan lagi dengan teori gagal move on, zaman dahulu seseorang bisa dengan mudah melupakan kekasihnya, mudah tinggal membakar surat-surat tapi pada zaman ini, semua terasa sulit. Kenangan mengelepar di mana-mana, kau tertawa lagi.

Aku ingin mengutip sebuah kata-kata dalam novel yang tak sengaja aku buka , begini …

 

” Seperti ini saja sudah cukup ”

 

Jakarta, 30 penghujung Juli tahun 2014