Kadang gak tahu itu justru lebih baik dalam beberapa hal.

 

Curhatan seorang stalking

 

Bangun pagi-pagi langsung cari hape-–> buka sosmed—> klik nama “dia”

Kurang lebih begitulah para pelaku stalking yang sedang mempunyai rasa pada seseorang. Stalking ini biasanya di lakukan karena di “dia” termasuk aktif di sosmed, sehingga memaksa kita untuk tahu segala hal , dia sedang apa. Merasakan apa, dan apa pemikirannya. Tanpa kita sadarin, kita jadi kepo banget sama apa yang dia lakuin.

 

Kalau aja si “dia” pakai aplikasi canggih “siapa yang melihat akun profileku ? “ maka tamatlah riwayat si stalking ini. Sudah di pastikan posisi nama si stalking ini nomor satu. Tapi beruntungnya, jarang ada yang pakai aplikasi kepo kayak gini, sehingga profesi paling kepo ini bisa di jalankan dengan bertanggung jawab.

 

Pernah gak sih , jadi stalker ?

 

Semua orang gak semuanya mau jadi stalker, selain harus paket internetan capek juga menerka-nerka status si “dia” yang kadang gak jelas dan gak bisa kita ngerti apa maksudnya, alias statusnya abstrak. Tapi hampir di pastikan seseorang yang yang sedang merasakan yang namanya virus perasaan , kemungkinan besar melakukan hal ini, walaupun gak setiap hari minimal beberapa bulan atau minggu ngecek sosmed. Kepingin tahu perkembangan si “dia” gimana .

 

“Jangan dikira aku nggak membaca tulisan-tulisanmu , tanpa kamu tahu aku selalu memperhatikan setiap pemikiran yang kamu tulis “

Yeah, kurang lebih begitu . Kalau profesi stalking ini sering banget di lakuin, tanpa kita sadari ini bener-bener jadi semacam penyakit “kecanduan” apalagi kalau si “dia” bener-bener anak yang betah di dunia maya.

 

Kita emang gak bisa ngebohongin yang namanya perasaan, apalagi yang modelnya Cuma bisa memendam perasaan. Nah, itung sendiri berapa lama harus stalking selama rasa itu masih menetap di dasar hati. Emang gak realistis, tapi apa yang orang bilang realisitis kan belum tentu  sama seperti apa yang kita pikirin.

 

Secara logika, ngapain coba setiap hari stalking kepo banget, padahal koment aja enggak, ngasih jempol atau ngeRT aja belum tentu, Cuma bisa ngebaca tuh status. Menghabiskan beberapa menit menerka-nerka, atau nelepon temen yang genius dan sok paranormal untuk ngebantuin nebak-nebak apa maksud tuh tulisan “dia”

 

Disini saya gak mau bilang Cinta itu gila, karena cinta itu termasuk unsur yang Suci yang Gila itu pelaku-pelakunya.

 

Dari sisi negativ, ngestalk emang di butuhkan asupan gizi empat sehat lima sempurna

Energi ketabahan dan keiklasan yang luar biasa, karena status kita yang gak jelas siapa “dia” dan perasaan apa kedepannya, membuat kita Cuma bisa menghabiskan beberapa menit untuk menerka-nerka apa maksud statusnya, kadang malah sering gak menit lagi, tapi seharian dalam kasus tulisan yang bikin kita patah hati, tapi gak bisa nanya langsung sama orang yang bersangkutan. Miris banget kan.

 

Tetapi, dari sisi positiv nya melatih kita untuk siap apapun yang akan terjadi , contoh tiba-tiba dia menulis puisi dan ngetag nama seseorang yang ternyata spesial, atau membuat kalimat gombal dan diakhiri gabungan nama si “dia” dan orang yang spesialnya. Kita Cuma bisa lapang dada, menghela nafas resah. Bermimpi sekali aja ada status yang tentang kita, tapi sayang itu kayak mimpi di siang bolong. Tapi untuk para stalker yang bermental baja, mereka aka berusaha lapang dada melihat sebuah kenyataan bukti aksara bahwa si stalker memang gak pernah spesial dalam hal apapun. Kadang, gak semua seperti apa yang kita inginkan , kalau semua yang kita inginkan dapet terus, dari mana kita belajar sabar ?

 

Weel, untuk para stalker si  “dia” pilihan berada di tangan kalian, mau cukup sampai di sini aja , atau mau terus kepo.. . sampai dia peka. Kalau gak peka, ya udah datangi aja rumahnya dan katakan..

 

“Kamu kapan, PEKA ? “