Surat terbuka untuk Windy Saputri : Kakak sayang, Kamu tahu ‘Sacred Anger’ Ngga’ ?

Dear kakakku sayang.

Bertahun-tahun saya gelisah karena tak ingin curhat apapun padamu, cerita kalau saya sebenernya ‘gak baik-baik saja’ dan gak bisa dengan mudah melakukan hal yang segampang kamu nasehatin, namun entah kenapa ada dorongan luar biasa untuk nulis ini dan mempostnya di blog saya. Biar suatu saat kalau saya udah ga sanggup berkata-kata lagi, tulisan ini bisa membantu saya buat menjelaskan bahwa adikmu ini sesungguhnya butuh sendiri. 

 

***

Kakak,

Pada hari selasa 14-Januari-2014 saya dengerin kamu menasehati bahwa sebenernya saya gak di “buang” sama orang yang telah melahirkan saya, well saya Cuma menjabawab singkat bahwa saya sudah tahu hal itu sebelum kamu menjelaskan. Sambil mata saya yang terus berkonsentrasi sama sebuah novel , kamu melanjutkan percakapan , yang intinya “aku ndak baik bersikap begitu, nanti kalau aku menikah otomatis kakak laki-laki (kandung) ku yang mesti jadi wali “ kaamu berkata sedemikian mudahnya, hanya karena aku ndak mau menerima dan mensave nomor kakak laki-laki (kandung)ku yang berada di Bandung sana,

 

Waktu saya tahu, saya bukan anak kandung, umur saya waktu itu sekitar tujuh tahunan. Saya teramat kecewa sekali, masih kecil sudah merasakan patah hati yang luar biasa, saya marah banget sama Tuhan karena dia nggak buat saya lahir d rahim orang yang saya panggil Mama, orang yang setiap hari saya lihat di rumah. Tanpa kamu tahu dan semua tahu, saya menyimpan kesedihan itu sendirian, saya masih kecil menyimpan kesedihan itu sendirian. Saya fikir saya adalah darih daging Mama dan Ayah.

Saya berusaha meredamnya. Dari dulu kamu gak tahu kan bahwa setiap malam saya bingung karena sedih menerima kenyataan pahit bahwa saya “anak angkat” status yang menyedihkan. Saya iri sama kamu, karena kamu mewarisi gen Mama dan Ayah.

 

Kakak,

Posisi saya waktu kecil masih polos sekali, saya justru menyalahkan Tuhan , kenapa sih Dia gak adil sama saya ? kenapa harus saya yang anak angkat ? kamu gak tahu kan, saya kecil begitu tertekan. Menatap resah seiap kali mau tidur, bertanya setiap hari sama Tuhan. Apakah Tuhan Adil ?

Pertayaan itu terus berlanjut, lalu pas saya kelas empat SD, saya tahu kalau Ayah kandung saya sudah meninggal, sebenernya saya udah tahu dari kelas dua SD , tapi baru berani cerita ke wali kelas saya Bu Eko, saya anak yatim.

Kamu tahu gak ? respon Bu Eko apa  ? dia malah mau ngankat saya jadi anak beliau, saya ingat banget dia bilang apa sama saya “ Kalau kamu jadi anak Ibu, nanti kamu ibu sekolahkan setinggi-tingginya, kamu juga bisa ngaji di dekat rumah ada TPA “ dia nyuguhin masa depan yang gemilang. Kamu tahu ? saya malah gak berminat sama sekali, saya kira saya gak perlu lah mengambarkan betapa sayang dan cinta nya saya sama keluarga kita. Buat apa saya cukup tapi kalau saya gak bahagia. Saya kelas empat SD bisa berfikir filosofi “bahagia” keren kan ?

 

Kakak,

Coba deh kamu kali-kali mikirin perasaan saya soal mengembalikan hubungan dengan keluarga kandung saya, coba rasakan jejak-jejak kekecewaan di mata saya setiap kali kamu atau siapapun membahas masalah ini. Kamu tahu gak ? saya baru sadar kalau Tuhan itu adil pas kelas dua SMP, dari sebuah novel karya bang tere. Dari situ saya memutuskan memaafkan Ibu kandung saya, saya gak dendam dan berambisi luar biasa untuk sukses dan menjadi kaya terus buat Ibu saya menyesal telah memutuskan meninggalkan dan berpisah dengan putri-nya. Saya Cuma kecewa.

 

Kakak,

Selama ini saya kecewa dengan cara yang elegan. Saya diam saja ketika kalian smeua menekan saya dan membahas masalah ini, saya tahu masa lalu itu bukan untuk di tutupi. Tapi please, coba berapa tahun saya baru bisa menerima kenyataan pahit ini ? enam tahun loh. Saya akhirnya sadar bahwa ini merupakan takdir yang harus saya jalani, takdir saya yang bersinggungan dengan keluarga kita yang sekarang. Takdir saya yang berikatan dengan orang-orang di sini. Takdir saya di sini, bukan di sana.

 

Kakak,

Kamu tahu sacred anger ngga ? kemarahan yang di ungkapkan karena melihat sebuah ketidak beresan? Saya marah tapi diem aja ketika kalian semua sibuk menceramahi saya sepulang dari Bandung. Saya menelan rasa pedih itu sendirian.

Saya sengaja membiarkan semua tahu bahwa saya terluka. Saya menunjukan bahwa tidak ada lagi yang perlu di jelaskan, saya sudah tahu informasi-informasi itu. Dan saat ini Saya menunjukan bahwa luka saya pasti akan mngering, tapi bekasnya pasti masih ada, namun mungkin suatu saat bisa lenyap.

Berilah kesempatan untuk saya bisa entah kapan menerima semua kondisi yang gak normal, kenapa saya bilang gak normal ? karena saya seperti merasakan melakukan poligami,

Karena memilki dua keluarga yang sama-sama membesarkan saya,

 

Oh ya Kak,

Suatu hari saya pernah merasakan hati saya seperti di tusuk pedang es, ih ngeri kan ?

Waktu Mama bilang dengan tulusnya ke saya “ bahwa gaji pertama saya harus di kasih ke Ibu kandung saya “ merinding saya Ka, Mama kayak malaikat ynag turun di bumi. Mulia banget kan ?

Kakak yang baik……

Waktu saya tahu semua kenyataan ini, saya selalu berjanji untuk terus memperbaiki kualitas diri saya, saya gak mau jadi orang berantakan. Saya akhirnya punya harapan hidup, saya mulai punya mimpi-mimpi hebat yang sering kali kamu ketawaain. Lihat aja, saya bakalan bikin kamu nangis bangga karena impian saya bakalan terwujud.

 

Kakak,

Sudahlah.. biarkan adikmu ini berdamai dengan cara tidak melakukan apapun yang berkaitan dengan keluarga kandung saya. Dan masalah wali nikah, gampang lah . Datang tinggal datang, saya diam bukan berari saya jadi monster jahat macam malin kundang. Oh iya, jangan bawa-bawa agama masalah seperti ini, please ini bukan ajaran agama saya, ini salah saya sendiri.

 

Salam sayang buat kakak sayang….

*surat diatas terinspirasi gaya  kepenulisan dengan surat terbuka untuk laire siwi.