Tentang sebuah Kebaikan, -Atheis vs Beragama-

Sebuah pesan singkat mendarat dan membom ponsel saya dengan sebuah pertanyaan, yang saya sendiri jadi bingung menjelaskannya dari mana. Setelah sebelumya maksud penjelasan saya menjadi kurang terstruktur sehingga menyebabkan gagal paham.

Sebuah pertanyaan yang sebelumnya pernah beberapa kali saya dengar jawabannya langsung dari orang-orang terdekat, sebelumnya saya yakin orang-orang mungkin akan mengira saya ‘keterlauan’ tapi ya ini pendapat saya: Pertanyaan : Menurut kamu, lebih baik mana orang atheis tapi melakukan kebaikan atau berakhlak baik atau orangberagama tetapi akhlaknya buruk ? Saya akan mencoba mengupas sari sisi orang yang beragama tetapi akhlaknya buruk: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman. Orang-orang Yahudi, orang-orang shaabi-in , orang-orang nasrani, orang-orang majusi dan orang-orang musyrik. Allah akan memberi keputusan di antara mereka pada hari kiamat. Sesungguhnya Allah menyaksikan segala sesuatu “(QS: 22:17 ) “Sesungguhnya orang-orang mukmin , orang-orang Yahudi , Shabiin dan orang-orang nasrani siapa saja diantara mereka yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak pula mereka bersedih hati “ (QS: 5:69) Oke saya cukup mengutip dua dalil terkuat saja mengenai orang-orang yang beragama, saya akan mengambil contoh agama islam, kenapa harus islam ? lah, saya kan orang muslim. Pertanyaan pembuka untuk anda yang membaca ini, kenapa anda memilih beragama Islam ? masyarakat Indonesia apabila di survei mungkin jawabannya karena yah Islam keturunan, atau karena kita tumbuh dan berdiri di kawasan geografis kaum muslim. Kalau dari jawaban yang masih saya ingat kenapa memilih jawaban nomor satu , selain dua dalil kuat diatas bahwa Iman adalah sesuatu yang sangat penting. “Percaya kepada Allah “ berarti telah memutuskan kita untuk beragama dan taat pada semua perintahnya. Lalu, bagaimana jika kita yang mengaku beriman ini berakhlak sangat buruk ? suka sekali merusak dan menyakiti hati sesama manusia, atau yang kerjaanya membuat keburukan ? Bukankah, orang yang model beragamanya seperti ini perlu di pertanyakan keimanan-nya ? bukankah tidak ada Agama yang mengajarkan keburukan di dunia ini ? boleh jadi kalian memilih jawaban orang yang beragama tetapi berakhlak buruk, karena melihat sisi “percaya kepada Tuhan-nya “ tapi kalau kita telaah lagi, “Bagaimana mungkin orang yang mengaku Islam, melakukan hal-hal buruk seperti !@#@#%$^$^ ? “ Untuk memahaminya , saya kira perlu dijelaskan perbedaan antara orang MUSLIM- MUKMIN- IHSAN. Definis muslim atau berislam terdapat dalam surah Al-Hujarat ayat 14 : “Orang-orang Arab Badu’i itu berkata : “kami telah beriman’… katakanlah ‘Kami telah menjadi muslim (tunduk) karena iman itu belum masuk kedalam hatimu “ Jadi, Muslim adalah yang melaksanakan kewajiban syari’ah secara lahiriah, sedangkan Mukmin adalah sikap batiniyah. Sedangkan ihsan adalah menyembah Allah seakan-akan Allah mengawasi kita bukan karena kita melihat secara fisik. Mengenai pembahasan Ihsan terdapat dalam surah Al-Mulk ayat 23 “ …Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu , siapa di antara kamu yang sempurna amalnya. Dan dia Maha perkasa lagi maha pengampun “ Ada juga dalam hadis HR.Muslim yang menyebutkan “ Allah telah menetapkan al-ihsan dalam semua hal “ Nah , kita bisa mengambil kesimpulan bahwa IHSAN adalah yang terkait erat dengan kepemilikan dan penerapan Akhlak yang mulia yang di praktekan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari. Orang yang berihsan tidak hanya juga mudah memaafkan kesalahan namun bisa jadi jarang marah karena amarahnya ditahan dan membalas atau menyempernukannya dengan perbuatan baik.

Dan inilah alasan terkuat saya TIDAK tertarik memilih orangberagama (dalam hal ini : islam ) tapi berakhlak buruk :

“Dan orang-orang yang menahan amarahnya dan yang memaafkan kesalahan-kesalahan orang-orang . dan Allah mecintai orang yang menyempurnakan kebaikan (berbuat baik ) “ (QS: Ali imran: 134 ) Coba kita perhatikan ayat diatas, Allah tidak berkata diriNya mencintai orang-orang yang beriman atau orang-orang muslim tetapi “MENCINTAI ORANG-ORANG YANG BERIHSAN (berbuat baik ) “ Tak akan banyak berarti apabila kita mengaku islam, dan tak akan ada bukti kita telah beriman kecuali jika kita benar-benar memiliki dan menerapkan akhlak yang baik. Seperti hadis Rasulullah SAW “ Aku tak diutus kecuali untuk menyempurnakan kemulian akhlak .. ‘’ Maka kenapa saya tidak memilih pilihan ini, karena : Orang-orang yang mengaku muslim tetapi tak berakhlak mulia bisa jadi hanya mencapai tahap Islam, bukan ihsan, mungkin dia beriman tetapi belum IHSAN. Lalu….. Kenapa saya memilih lebih baik Atheis tetapi berakhlak baik ? Jujur, saya tidak percaya orang yang katanya tidak percaya pada Tuhan atau atheis. Mereka sebenarnya percaya, hanya saja mereka menggunakan akal yang terbatas untuk mencari sesuatu yang Maha Ada. Seseuatu yang tidak bisa kita dekati secara mudah, saya benar-benar tidak percaya di muka bumi ini ada orang yang tidak percaya Tuhan, kenapa ? Sekali lagi , sebenarnya mereka percaya tetapi ingin merengkuhnya menggunakan sesuatu yang realistis, yang bisa mereka lihat dengan kemampuan manusia yang serba terbatas. Jauh di kedalaman hati manusia, saat sebuah beban atau masalah mendesak kita, saat rasanya tidak tahan lagi.

Maka sebenarnya hati kita tidak dapat berbohong bahwa sebenarnya kita mencari-cari tuhan bukan mencari penyelsaian. Apa yang menyebabkan orang-orang yang mengaku Atheis ini tidak dapat melihat Tuhan ? Jawabannya , karena : Gharizah Baqa (naluri untuk mempertahankan diri ) nya benar-benar tinggi melebihi Gharizah Taddayyun (naluri beragama ). Ada kisah orang yang atheis yang mensucikan lenin dan stelin, sebenarnya itu merupakan naluri yang diberikan Allah kepada setiap manusia. Namun apabila Gharizah Baqa nya terlalu tinggi maka ini yang mendorong manusia untuk menguasai, cinta pada sesuatu , mempertahankan sesuatu secara berlebihan, lihat saja : Fir’aun yang sampai-sampai mengaku bahwa dia Tuhan. Mencongkel apa yang ditulis Ali Syari’ati untuk membantai pemikiran Camus, Ali menulis “Suatu ketika Camus ditanya .

“ Pertanyaan : Anda memprotes siapa ?

Camus : Tuhan

Pertanyaan :Anda percaya Tuhan ?

Camus : Tidak

Tidakkah tindakan yang dilakukan Camus seperti orang yang memukul angin ? Percaya atau tidak, orang-orang atheis itu berawal dari protes terhadap Tuhan, yang akhirnya menjadi tidak percaya Tuhan. Duh, ini kenapa jadi bahas Atheis ? jadi begini ini sangat berkaitan dengan paragraf yang selanjutnya saya akan tulis, sekali lagi saya tekankan saya tidak percaya ada orang yang atheis, tetap saja ada sisi dimana dia “percaya “ walau bentuknya boleh jadi abstrak sekali. Oleh sebab itu, izinkan saya mengganti kata atheis di sini dengan kata nonmuslim, agar pembahasannya lebih universal. Orang-orang yang tidak memilih pendapat ini memegang dalil :

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya , dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugii. “ (QS: 3:85 ) “Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, amalan-amalan mereka adalah seperti abu yang ditiup angin dengan keras pada suatu hari yang berangin kencang. Mereka tidak dapat mengambil manfaat sedikitpun dari apa yang telah mereka usahakan (di dunia) yang demikian itu adalah kenyataan yang jauh. “ (QS: 14:18) Yang pada intinya, kalau dia bukan Islam maka semua kebaikan yang ia lakukan adalah sia-sia, seperti menguras air laut. Dalam hal ini banyak yang berpendapat bahwa perbuatan baik seorang nonmuslim tidak akan diterima olehNya dan akan disebar seperti debu. Saya akan berpendapat demikian :

Tuhan Yang Maha Cinta mustahil tidak membalas kebaikan sekecil apapun, se atom apapun. Seperti yang terdapat pada ayat berikut : “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula) “ (QS:Ar-Rahman :60) “Dan barangsiapa yang mengerjakan kebaikan sebesar dzahrrahpun, niscaya dia akan melihat(balasan) nya pula. Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzahrrahpun niscaya dia akan melihat balasannya “ (QS:Al-Zalzalah :7-8) Tidak ada persyaratan khusus yang membatasi bahwa ayat ini hanyalah bagi seorang dengan agama tertentu, misalnya Islam. Siapapun yang melakukan kebaikan pasti akan memperoleh balasannya dan siapa yang jahat juga pasti akan melihat akibat buruknya. Bahwa pengingkaran pada kebenaran menurut hemat saya, justru adalah suatu sumber kecil yang akan menjadi titik sumbu kejahatan besar lainnya. Dalam Riwayat yang lain kita membaca bahwa Rasullulah SAW bersabda kepada Adi bin Hatim putra Hatim ath-Thai “Tuhan mengangkat azab yang menimba ayahmu lantaran kebaikan dan sikap pemurah yang dimilikinya “

Dan terakhir, penguat argumen saya … Rasullulah ditanya “Apakah yang lebih tinggi dari Iman ? “ Jawaban beliau adalah, “Kebaikan “ Ingatakah, seorang pengemis yang setiap hari memaki Rasullulah SAW namun Rasullulah SAW selalu setiap menyuapi pengemis itu, pada awalnya pengemis ini tidak beriman namun hanya karena sebuah kebaikan, justru membawa pengemis ini ke sebuah titik yang luar biasa “ Ber-iman- dan berusaha Ihsan “

** Telah selesai dengan kepala yang sedikit sakit, pada tanggal 10 November 2014. Dengan berbagai referensi.

Dan sesungguhnya saya hanyalah seorang manusia biasa, yang tidak terlepas dari kesalahan pemikiran -kesalahan penulisan dan rentetan kesalahan-kesalahan yang lain. Mohon maaf , catatan ini tidak memaksa anda yang membaca untuk mengikuti pemikiran saya, sebab kalau semua sependapat dengan saya ‘gak asyik’ dong.

Buat apa saya nulis sepanjang ini, well, pahamilah perbedaan itu perlu, agar kita dapat belajar bagaimana bersikap bijak dan mengoreksi hal-hal yang kurang. Sebenarnya inti dari tulisan ini , saya benar-benar mau menampar orang-orang muslim (termasuk saya ) yang pada zaman ini seperti seperti kacang tanpa isi, pada akhirnya betapa sebuah kebaikan dapat menyentuh titik terburuk hati manusia, seperti akhlak Nabi SAW yang saya yakin “ Apapun agamamu, pasti tidak akan menolak kebaikannya ,, “

Advertisements