Sejak pagi datang membawaku mendekati speker kampus kita, aku temukan suara hafalan rindu yang menyaring merdu disana. Tetapi, aku terlalu setan untuk mendekati sebuah jiwa yang begitu di jaga oleh Sang Maha Cinta maka dari itu aku hanya bisa mendengar detail nada yang kau lantunkan dengan syahdu. Maka sebab  itu, aku selalu jatuh cinta pada pagi sebelum embun jatuh dan menabuhkan rindu. Suara yang selalu aku cari siapa pemilik resminya. 

 

Dan itu kamu,

 

Pria yang sangat ingin memakai jas kedokteran di sebuah rumah sakit , menyembuhakan dan menumbuhkan harapan pada setiap pasien yang mungkin sedang merasa kehilangan separuh semanggat hidupnya. Pria yang amat ingin dimiliki beberapa wanita luar biasa disekeliling kampus kita. Dan aku yang retak daa cacat ini malu walau sekedar memanggil namamu yang dipinta sang dosen kesayanganmu.

Taukah kamu, aku tidak benar-benar ingin bersanding padamu, membawa carrier kita singgah melihat sunrise di puncak gunung. Bagiku menghabiskan beberapa tahun dan pagi mendengar lantunan suaramu, itu sudah cukup. Ya, mungkin rasanya munafik, apabila aku tidak mengingnkanmu begitu kuat untuk menjadi iman ibadahku. Tetapi aku sendiri tidak ingin terjebak pada sebuah perasaan memiliki berlebihan sebab, kau bukan untuk dimiliki tetapi untuk dicintai. Cinta dengan pengertian yang berbeda . . .

 

 

Untuk seseorang, yang sedang aku peluk dalam doa sederhana