Monolog dan Curhatan Si Anak Bungsu

16 Maret 2014 pukul 0:03 Liana Daisha

Anak bungsu mutlak sudah akan melakonkan keriuhan yang “Tunggal “

 

Si bungsu , pernah berharap bahwa estafet penugasan ke warung tidak akan berhenti di dirinya, pasalnya sang kakak kerap kali menyuruh si bungsu ke warung untuk membeli banyak hal. Padahal kartun kesukaannya sedang asyik dia nikmati.

Si bungsu yang selalu membuat sang kakak akan mengalah tentang banyak hal, anak kecil yang tak tahu apa-apa itu sering kali membuat sang kakak merasa seharusnya tidak ada lagi bayi di perut ibunya setelah ia lahir di dunia. Si bungsu malah berharap bahwa seharusnya ia menjadi kakak, agar bisa menyuruh ke warung juga.

 

Hari-hari si bungsu akan diisi oleh pertengkaran lucu yang membuat Mama memegang kepalanya, teriakan parau si bungsu yang mengadu atau mengarang cerita bahwa sang kakak telah menindasnya, melempar bantal , merebut mainan si bungsu adalah bentuk penindasan dari sang kakak.

 

Apa kau tahu hal apa yang paling mengesankan menjadi si bungsu ? ialah bahwa dia begitu menjadi prioritas dari perhatian Papa Mamanya, membuat sang kakak merasa bahwa ia sudah tak disayang lagi. Dan yang paling membuat si bungsu merasakan kenyamanan luar biasa adalah, ketika sang kakak melawan teman-teman jahatnya, mencoba melindungi si bungsu dari marabahaya. Malam-malam si bungsu jarang diisi oleh kesepian, jam-jam bisa saja berdetak lelah karena mendengar si bungsu berbagi cerita dengan sang kakak. Diajak bermain sepanjang sore, diajari sang kakak matematika dan menulis.Dibawakan sang kakak beraneka makanan dan minuman, si bungsu mempunyai satu benda yang sama seperti sang kakak, menandakan bahwa mereka adalah saudarasatu rahim.

 

Dan apa kau tahu, hal apa yang paling sulit diterima si anak bungsu ? ialah ketika sang kakak telah melingkarkan cincin indah di jari seorang perempuan, mutlak sudah kasih sayang di porsi. Si bungsu mendadak akan diajarkan waktu mengenai cara mempertahankan diri , melawan malam-malam sepi tanpa canda tawa dari sang kakak. Menatap kesal sang wanita yang harus ia sebut “kakak ipar”

 

Anak bungsu, mutlak sudah menjadi anak “tunggal” tiada lagi yang akan saling curi mencuri makanan di dalam kulkas atau menghasut agar mama masak menu yang mereka sukai, anak bungsu mendadak bingung kemana tempat berbagi kue ? Tanpa pernah dipahami, si bungsu adalah satu manusia yang merasakan dua jiwa, jiwa riuh dan jiwa tunggal.

 

-Jakarta, ketika sebuah rasa sulit untuk di bawa memejamkan mata.