Search

Pengeja rasa

Perempuan gila yang melakukan perjalanan menemukan bentuk

Month

June 2014

Monolog dan Curhatan sI Anak Asuh

Gambar

Barangkali pengukuran seberapa jauh kamu sudah dewasa adalah seberapa banyak kehilangan yang telah kau makan dan kau kubur dalam sepi.

 

Tidak boleh ada air mata yang tumpah, malam ini bahkan sejak siang datang. Seharusnya tidak ada air mata yang tumpah, apalagi kau menumpahkannya di kamar pengantin yang saudara perempuanmu akan singgahi. Kaukah yang pulang dengan langkah yang berusaha tegar ? saat belum sempurna kau ucapkan salam di depan pintu rumahmu. Tubuhmu seakan-akan ingin ambruk seketika melihat sosok yang seharusnya tidak (asing) di matamu. Sosok yang seharusnya kau sapa denga riang, sosok yang seharusnya kedatangannya kau peluk.

 

Tapi,  kau tidak melakukan itu bukan ? kau memutar arah, tidak jadi masuk ke rumahmu sendiri, lantas kau menyembunyikan diri ke sebuah ruangan. Sayangnya, pamanmu melihatmu, dan langsung menyuruh dengan sedikit memaksa bahwa kau harus lekas menemui sosok itu, menundukan hormat padanya. Kau diam saja, lantas menatap lantai dengan pasrah, pertahananmu seakan mulai porak-poranda. Dengan langkah yang kau buat seolah tegar, Mama sudah menunggu di depan pintu, membisikan sesuatu agar lekas kau menemuinya, sosok itu.

 

Kau menutup pintu kamar, rumahmu sedang riuh, besok adalah pernikahan saudara perempuanmu. Di kamarmu yang telah disulap menjadi kamar pengantin saudaramu, kau merebahkan tubuh di lantai, memeluk bantal kau menumpahkan air mata. Terisak, seperti anak kecil.  kau mencari Tuhan pada air matamu, pada hampa yang menyingahimu hari ini.

 

Banyak orang yang silih berganti menyalahkan sikapmu hari ini, kau dianggap tidak tahu diri, sombong atau bahkan durhaka, kau pilih kasih, kau tidak menerima kenyataan. Segala macam nasehat telah mereka muntahkan ke tubuhmu, kau diam saja bukan ? bahkan Mama yang ingin kau ajak bicara sejenak, justru meninggalkanmu dengan perasaan yang menyakitkan, Mama membanting pintu, jantungmu hancur berkeping-keping.

 

kepedihan macam apa yang tidur di hatimu saat ini ?

Orang-orang mendadak berubah menjadi menyakitkan, kau mengurung diri di kamar, tidak makan seharian, dan menghabiskan air mata terlalu banyak. Matamu yang indah sekarang berubah buruk,

 

 kenapa kau menangis ?

 

“ Tuhan, aku tidak tahu kenapa aku sedih, aku ingin terus-terusan menangis, aku bahkan tidak bisa membedakan mana perasaan marah dan perasaan bahagia, inilah yang paling menyakitkan, kesedihan yang ditangiskan tetapi tidak tahu alasannya.  Orang-orang saling berebut menyalahkan sikapku, padahal bukan itu maksudku. Orang-orang hanya salah menafsirkan air mataku yang tumpah, orang-orang terlanjur salah paham, mereka tak mengerti apa isi hatiku “

 

Begitukah, suara hatimu ?

 

 saat-saat seperti ini aku ingin memelukmu lebih lama lagi, menyandarkan kepalamu di bahuku, menghapus air matamu berkali-kali. Aku akan diam , mendengarkan semua keluh kesahmu, rasa yang tidur di alam bawah sadarmu. Aku juga ingin mengumpulkan mereka dan mengatakan apa yang tunjukan sebenarnya bukan karena kejahatan,sikapmu yang ini tidak serta merta meledak begitu saja, tetapi refleks alam bawah sadar. Sesuatu yang rumit untuk dilukiskan.

 

 kau akan cantik besok , tapi matamu sudah berubah sembab sekali, kau sedih kau berusaha berbicara tetapi tidak ada yang berusaha mengerti bahwa sebenarnya kau kehilangan kemampuan verbalmu bahkan untuk sekedar mengucapakan banyak hal. Kau juga ingin bersikap baik, apalagi sosok itu sudah tak muda lagi, ia pernah mempertaruhkan hidup dan matinya hanya untuk mengelurakan tubuh lemahmu dari rahimnya. Rasa sakit yang akan kau mengerti ketika kau melahirkan nanti.

Kau ingin memeluknya, bertanya apa kabar ? atau bersikap manis, seperti seharusnya. Tetapi entah kenapa, setiap kali melihat sosoknya kau selalu menumpahkan air mata.

 

 

Sajadah adalah tempat peraduan paling indah

Mengadulah, semoga Tuhan memelukmu lebih hangat.

Advertisements

Sedikit celoteh untuk Sekar

Tabik

Untuk Sekar Indah, adikku yang selalu ingin menjelma menjadi Bidadari Surga

Sekar sayang, saat kau membaca surat ini barangkali jantungmu berdegup tak beraturan. Menerka-nerka apakah yang akan aku tulis, Sekar mungkin dalam hidup kita akan menemukan banyak jalan, maka barangkali sajadah adalah wujud bahwa kita makhluk yang lemah. Sekar saat pertama kali melihat sosok polosmu duduk di barisan belakang mendengarkan aku yang sedang asyik menyampaikan materi keputrian. Aku melihat ada kilauan yang berbeda, entah apa. Sejak saat itu aku jatuh hati padamu, bagiku kau adalah seorang wanita yang sungguh-sungguh dalam memperbaiki diri, kau bahkan pernah menangis di sudut sana saat teman-temanmu dari sekolah yang dulu menyangka kau Hamil hanya karena kau memakai gamis dan kerudung yang kau julurkan menutupi lekuk tubuh. Sekar, saat itulah sebenarnya aku ingin memelukmu, merebahkan dukamu. 

Sekar sayang, kita pernah berbincang hangat di taman kau bercerita dengan mata yang binarnya persis sepertti apa yang aku alami dulu, kau jatuh hati pada seorang laki-laki yang dia adalah sahabat baikku, aku hanya tersenyum mendengar celotehmu. Aku selalu bilang pada dirimu, Jatuh cintalah ! tidak ada mazhab manapun yang melarang, tapi kita harus mengendalikan dengan baik perasaan tersebut, aha ! iya Sekar, seringkali rasa membuat kita tidak berfikir dengan baik. Aku hanya ingin berpesan padamu, tentang rasa ya sudah di pendam saja 😀 tunggu waktu terbaik sambil terus memperbaiki diri. Kau pasti sudah tahu tulisan aku tentang ida, barangkali seperti itulah. 

Sekar, kita adalah perempuan manusia yang didalamnya terdapat banyak muara kasih sayang 😀 semoga kita bisa terus istiqomah dalam memperbaiki diri, salam manis

nanti akan menyusul, surat berikutnya 😀

Surat untuk Jingga

Surat untuk Jingga

24 Maret 2014 pukul 20:40

 

Malam ini terasa amat dingin. Di kamar dengan perut yang amat perih karena asam lambungku naik beberapa kadar, aku memang agak stress belakangan ini, aku justru menuliskan surat-surat ini sebab seorang teman berkata bahwa apa yang aku rasakan kurang lebih sama sepertinya. Barangkali tulisan ini dapat membuat ia merasa bahwa ia tak sendiri, setidaknya ada aku.

 

Di dunia ini tidak ada cermin, padahal aku hanya mempertanyakan rupa wajahku.Orang-orang mungkin berpikir aku sedang mencari jati diri atau aku sedang mencari Tuhan dimana-mana, seolah-olah aku benar-benar merasa perlu merenung panjang bahwa keyakinan ya memang ada untuk diyakini.

Aku lelah tidak mampu menemukan jalan untuk bermonolog dengan diriku yang mewarisi isyarat dari Alam. Aku mungkin partikel yang negatif, yang cepat menangis, cinta pada sebuah sepi, sinisme dalam puisi, yang ingin terus merdeka.

 

Aku memang sedang menikmati apa yang aku sukai, terjun kedalam dunia olah rasa dan olah jiwa. Hal-hal yang aku sukai mendekat padaku. Aku juga punya banyak bacaan yang bisa menambah wawasan atau setidaknya menghiburku di antara potongan waktu yang terkedang menjenuhkan. Aku juga bisa pergi kemanapun yang aku inginkan.Belakangan ini aku juga di pertemukan dengan orang-orang hebat mereka menjadi teman berbagi dan bertukar pikiran dengan baik.

 

Tapi, pada saat Jeda yang aku buat bisu,

 

Aku mendadak kehilangan apa saja yang aku sukai apalagi yang tidak aku sukai, semua orang pada masa ini menyarankan untuk meditasi atau apalah yang menyenangkan. Namun itu semua bukan sesuatu yang membuat aku tenang, aku tidak mengerti kemana semua ketertarikanku, kemana lenyapnya ?

Atau mungkin aku memang tidak boleh merengkuh sepi, sebab sepi seolah-olah memaksaku bermonolog dengan diriku sendiri. Atau mungkin aku harus membaca kebahagian jenis apa yang diriku minta ?

 

Dunia seakan-akan mendadak menjadi tempat retakan-retakan patah hati, sebagian diriku seolah-olah mengajakku menyakinkanku bahwa kembali adalah temapt paling baik.

 

Aku jadi sering menangis saat terjaga dalam perasaan seperti ini

Namun, bukankah ketika terlahir , aku telah menangis bukan berorasi..

 

Aku tidak tahu sejak kapan aku terbelah menjadi dua atau mungkin tiga, Sayang aku tidak tahu. . .

 

 

#Jakarta saat sebuah komentar membuat aku ingin menulis ini

Surat Terbuka untuk Ida : ” Ida sayang, kamu tahu Everlasting ? “

Surat Terbuka untuk Ida : ” Ida sayang, kamu tahu Everlasting ? “

3 Mei 2014 pukul 7:59

 

Surat ini aku alamatkan kepada seseorang yang senang akan beberapa tulisan sampahku di dunia maya . . .

 

Ida, bagaimanakah rasanya hatimu ? bertemu dengan seseorang perempuan sepertiku, aku yang terlihat baik-baik saja tetapi nyatanya di penuhi kegilaan. Ida, taukah kamu ? senyummu itu manis sekali.

Ida sayang, lewat obrolan maya kau mengungkapkan bahwa kau sudah menutup catatan tentang satu nama itu, lalu kau menyindirku tentang surat-surat yang telah lalu. Surat yang aku rasa benar-benar sampah. Ida, padamu akan aku ceritakan mengapa aku berhenti menulis surat-surat itu , mengapa aku seperti mati rasa, mengapa aku menjadi benci terhadap apa yang aku lakukan selama ini.

Ida, di suatu malam bulan April ada seseorang di seberang benua sana yang sedang tertular sifatku yang aneh, dia bertanya adakah sosok Gie dalam hidupku ? eh, kau tahu Gie ? lengkapnya Soe Hok Gie , kalau tidak tahu cari saja di google. Lalu aku menjawab pertayaanya dengan sebuah peryataan yang justru menamparku sendiri “ Hidup tak melulu membicarakan soal perasaan dan perasaan “.

Kau tahu Ida ? kenapa aku bisa seyakin mungkin mengatakan hal itu, sebab pada saat itu aku sedang mengalami fase krisis, aku tidak percaya pada rasaku. Tapi aku masih mencoba menulis surat-surat terakhir yang sebenarnya enggan aku tulis, sebab bagaimanapun aku harus berterimakasih pada sosok itu, dia telah menjadi beberapa inspirasi dalam tulisanku. Ida, jika kau bawa aku ke sebuah ruang gelap dan menanyakan siapakah yang aku dekap dalam doa-doa , siapakah lelaki yang aku tulis tapi aku adalah apa yang tidak akan dia pernah baca. Kemudian kau membomku dengan pertanyaan yang aku malas mengubrisnya : “ Apakah kamu menyukai dia ? “

Ida, di ambang usiaku yang sekarang ini aku merasa harus berubah, cara berfikirku apalagi. Lewat peryataanku itu, aku di bawa pada sebuah kondisi perenungan panjang, itulah mengapa hidup kita dalam beberapa hal harus dibuat tempat khusus untuk sebuah rasa kesepian, karena rasa sepi akan menuntut kita memikirkan apa yang selama ini kita abaikan. Ida, aku berada di sebuah titik, aku menyebutnya titik realistis.

Everlasting.

Apakah ada perasaan yang abadi Ida ? dan itu ditunjukan untuk seseorang. Ida, pernahkah kamu merasakan bahwa rasa semacam obat, saat kau sedang sendirian membutuhkan teman , membutuhkan seseorang beharap sekali dia datang membantu mengusir gundah gulana, apakah itu di sebut rasa ? aku tidak ingin menyebutnya cinta, semenjak itu cinta menjadi pemahaman yang berat bagiku, kita sebut saja rasa ya.

Iya Ida, itu rasa tapi bukankah itu tak lebih sperti obat ? sesuatu yang menyembuhkan selesai masalahnya seseorang itu akan segera di singkirkan.  Lalu, Ida pernahkah kamu merasa rindu dengan seseorang, ingin mendengar suaranya, wajahnya , tertawanya. Apakah itu bisa disebut sebuah rasa ? iya Ida, itu rasa… tetapi jika demikian rasa kenapa kita tidak membawa saja imitasi seseorang itu, rekaman suaranya yang kita bisa putar berualang-ulang. Maka persis kita seperti kolektor yang akan cepat bosan.

Lalu  Ida, saat kita kagum dengan seseorang, dia hebat sekali, terlihat berbeda.. apakah ini bisa disebut rasa ? kalau begitu rasa tak ubahnya seperti pengidolaan, ada idola baru yang lebih keren, maka dia akan basi. Saat kita tergila-gila pada seseorang, resah saat ingin tertidur, selalu terbayang-bayang wajahnya maka Ida, apakah ini rasa ? iya ida, tai bukankah itu seperti sindrom psikis.

Kabar baiknya Ida, semua yang aku tuliskan tidak abadi, iya sementara Temporer.

Lalu apakah yang abadi ?

Ada Ida, ada yang abadi .. .. ..

Meski rasa boleh jadi bersifat sementara, kita selalu memiliki kesempatan untuk membuatnya menjadi abadi, everlasting. Tentu dengan cara pemahaman-pemahaman yang baik, nilai-nilai yang harus di patuhi. Saat kita selalu termotivasi untuk terus berbuat baik hari demi hari, belajar segiat mungkin karena kita tahu persis dia cerdas, memberikan semangat yang positif, terus memperbaiki diri jika ingat dia, perasaan kita rasa kita berubah menjadi energi yang positif. Maka rasa akan menjelma menjadi kebaikan. Apakah itu sementara ? iya sementara juga ida, tetapi semangat untuk memperbaiki dirinya yang justru abadi.

Ida, ketidakpantasan kita menyukai seseiatu yang lebih dari diri kita,akan mengubah kita menjadi seseorang yang bersikeras memperbaiki diri. Jikapun ia teryata tak membalas perasaan kita, tak apa ya Ida. Waktu akan mengobati semuanya.

Ida, inilah …

Aku menutup episode-episode roman, justru untuk menyelamatkan hatiku sendiri. Kitalah yang tahu persis kita harus apa, jarak waktu masih bersiap kita lewati aku berharap sekali kita mengisi dengan hal-hal positif bukan justru berasumsi tidak jelas. Ida, di sekitar kita nyatanya banyak yang merintih karena lapar . . .

 

Semoga kau mengerti Ida, semoga kita bisa terus memperbaiki diri . . .

 

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑