Surat Terbuka untuk Ida : ” Ida sayang, kamu tahu Everlasting ? “

3 Mei 2014 pukul 7:59

 

Surat ini aku alamatkan kepada seseorang yang senang akan beberapa tulisan sampahku di dunia maya . . .

 

Ida, bagaimanakah rasanya hatimu ? bertemu dengan seseorang perempuan sepertiku, aku yang terlihat baik-baik saja tetapi nyatanya di penuhi kegilaan. Ida, taukah kamu ? senyummu itu manis sekali.

Ida sayang, lewat obrolan maya kau mengungkapkan bahwa kau sudah menutup catatan tentang satu nama itu, lalu kau menyindirku tentang surat-surat yang telah lalu. Surat yang aku rasa benar-benar sampah. Ida, padamu akan aku ceritakan mengapa aku berhenti menulis surat-surat itu , mengapa aku seperti mati rasa, mengapa aku menjadi benci terhadap apa yang aku lakukan selama ini.

Ida, di suatu malam bulan April ada seseorang di seberang benua sana yang sedang tertular sifatku yang aneh, dia bertanya adakah sosok Gie dalam hidupku ? eh, kau tahu Gie ? lengkapnya Soe Hok Gie , kalau tidak tahu cari saja di google. Lalu aku menjawab pertayaanya dengan sebuah peryataan yang justru menamparku sendiri “ Hidup tak melulu membicarakan soal perasaan dan perasaan “.

Kau tahu Ida ? kenapa aku bisa seyakin mungkin mengatakan hal itu, sebab pada saat itu aku sedang mengalami fase krisis, aku tidak percaya pada rasaku. Tapi aku masih mencoba menulis surat-surat terakhir yang sebenarnya enggan aku tulis, sebab bagaimanapun aku harus berterimakasih pada sosok itu, dia telah menjadi beberapa inspirasi dalam tulisanku. Ida, jika kau bawa aku ke sebuah ruang gelap dan menanyakan siapakah yang aku dekap dalam doa-doa , siapakah lelaki yang aku tulis tapi aku adalah apa yang tidak akan dia pernah baca. Kemudian kau membomku dengan pertanyaan yang aku malas mengubrisnya : “ Apakah kamu menyukai dia ? “

Ida, di ambang usiaku yang sekarang ini aku merasa harus berubah, cara berfikirku apalagi. Lewat peryataanku itu, aku di bawa pada sebuah kondisi perenungan panjang, itulah mengapa hidup kita dalam beberapa hal harus dibuat tempat khusus untuk sebuah rasa kesepian, karena rasa sepi akan menuntut kita memikirkan apa yang selama ini kita abaikan. Ida, aku berada di sebuah titik, aku menyebutnya titik realistis.

Everlasting.

Apakah ada perasaan yang abadi Ida ? dan itu ditunjukan untuk seseorang. Ida, pernahkah kamu merasakan bahwa rasa semacam obat, saat kau sedang sendirian membutuhkan teman , membutuhkan seseorang beharap sekali dia datang membantu mengusir gundah gulana, apakah itu di sebut rasa ? aku tidak ingin menyebutnya cinta, semenjak itu cinta menjadi pemahaman yang berat bagiku, kita sebut saja rasa ya.

Iya Ida, itu rasa tapi bukankah itu tak lebih sperti obat ? sesuatu yang menyembuhkan selesai masalahnya seseorang itu akan segera di singkirkan.  Lalu, Ida pernahkah kamu merasa rindu dengan seseorang, ingin mendengar suaranya, wajahnya , tertawanya. Apakah itu bisa disebut sebuah rasa ? iya Ida, itu rasa… tetapi jika demikian rasa kenapa kita tidak membawa saja imitasi seseorang itu, rekaman suaranya yang kita bisa putar berualang-ulang. Maka persis kita seperti kolektor yang akan cepat bosan.

Lalu  Ida, saat kita kagum dengan seseorang, dia hebat sekali, terlihat berbeda.. apakah ini bisa disebut rasa ? kalau begitu rasa tak ubahnya seperti pengidolaan, ada idola baru yang lebih keren, maka dia akan basi. Saat kita tergila-gila pada seseorang, resah saat ingin tertidur, selalu terbayang-bayang wajahnya maka Ida, apakah ini rasa ? iya ida, tai bukankah itu seperti sindrom psikis.

Kabar baiknya Ida, semua yang aku tuliskan tidak abadi, iya sementara Temporer.

Lalu apakah yang abadi ?

Ada Ida, ada yang abadi .. .. ..

Meski rasa boleh jadi bersifat sementara, kita selalu memiliki kesempatan untuk membuatnya menjadi abadi, everlasting. Tentu dengan cara pemahaman-pemahaman yang baik, nilai-nilai yang harus di patuhi. Saat kita selalu termotivasi untuk terus berbuat baik hari demi hari, belajar segiat mungkin karena kita tahu persis dia cerdas, memberikan semangat yang positif, terus memperbaiki diri jika ingat dia, perasaan kita rasa kita berubah menjadi energi yang positif. Maka rasa akan menjelma menjadi kebaikan. Apakah itu sementara ? iya sementara juga ida, tetapi semangat untuk memperbaiki dirinya yang justru abadi.

Ida, ketidakpantasan kita menyukai seseiatu yang lebih dari diri kita,akan mengubah kita menjadi seseorang yang bersikeras memperbaiki diri. Jikapun ia teryata tak membalas perasaan kita, tak apa ya Ida. Waktu akan mengobati semuanya.

Ida, inilah …

Aku menutup episode-episode roman, justru untuk menyelamatkan hatiku sendiri. Kitalah yang tahu persis kita harus apa, jarak waktu masih bersiap kita lewati aku berharap sekali kita mengisi dengan hal-hal positif bukan justru berasumsi tidak jelas. Ida, di sekitar kita nyatanya banyak yang merintih karena lapar . . .

 

Semoga kau mengerti Ida, semoga kita bisa terus memperbaiki diri . . .