Surat untuk Jingga

24 Maret 2014 pukul 20:40

 

Malam ini terasa amat dingin. Di kamar dengan perut yang amat perih karena asam lambungku naik beberapa kadar, aku memang agak stress belakangan ini, aku justru menuliskan surat-surat ini sebab seorang teman berkata bahwa apa yang aku rasakan kurang lebih sama sepertinya. Barangkali tulisan ini dapat membuat ia merasa bahwa ia tak sendiri, setidaknya ada aku.

 

Di dunia ini tidak ada cermin, padahal aku hanya mempertanyakan rupa wajahku.Orang-orang mungkin berpikir aku sedang mencari jati diri atau aku sedang mencari Tuhan dimana-mana, seolah-olah aku benar-benar merasa perlu merenung panjang bahwa keyakinan ya memang ada untuk diyakini.

Aku lelah tidak mampu menemukan jalan untuk bermonolog dengan diriku yang mewarisi isyarat dari Alam. Aku mungkin partikel yang negatif, yang cepat menangis, cinta pada sebuah sepi, sinisme dalam puisi, yang ingin terus merdeka.

 

Aku memang sedang menikmati apa yang aku sukai, terjun kedalam dunia olah rasa dan olah jiwa. Hal-hal yang aku sukai mendekat padaku. Aku juga punya banyak bacaan yang bisa menambah wawasan atau setidaknya menghiburku di antara potongan waktu yang terkedang menjenuhkan. Aku juga bisa pergi kemanapun yang aku inginkan.Belakangan ini aku juga di pertemukan dengan orang-orang hebat mereka menjadi teman berbagi dan bertukar pikiran dengan baik.

 

Tapi, pada saat Jeda yang aku buat bisu,

 

Aku mendadak kehilangan apa saja yang aku sukai apalagi yang tidak aku sukai, semua orang pada masa ini menyarankan untuk meditasi atau apalah yang menyenangkan. Namun itu semua bukan sesuatu yang membuat aku tenang, aku tidak mengerti kemana semua ketertarikanku, kemana lenyapnya ?

Atau mungkin aku memang tidak boleh merengkuh sepi, sebab sepi seolah-olah memaksaku bermonolog dengan diriku sendiri. Atau mungkin aku harus membaca kebahagian jenis apa yang diriku minta ?

 

Dunia seakan-akan mendadak menjadi tempat retakan-retakan patah hati, sebagian diriku seolah-olah mengajakku menyakinkanku bahwa kembali adalah temapt paling baik.

 

Aku jadi sering menangis saat terjaga dalam perasaan seperti ini

Namun, bukankah ketika terlahir , aku telah menangis bukan berorasi..

 

Aku tidak tahu sejak kapan aku terbelah menjadi dua atau mungkin tiga, Sayang aku tidak tahu. . .

 

 

#Jakarta saat sebuah komentar membuat aku ingin menulis ini