Gambar

Barangkali pengukuran seberapa jauh kamu sudah dewasa adalah seberapa banyak kehilangan yang telah kau makan dan kau kubur dalam sepi.

 

Tidak boleh ada air mata yang tumpah, malam ini bahkan sejak siang datang. Seharusnya tidak ada air mata yang tumpah, apalagi kau menumpahkannya di kamar pengantin yang saudara perempuanmu akan singgahi. Kaukah yang pulang dengan langkah yang berusaha tegar ? saat belum sempurna kau ucapkan salam di depan pintu rumahmu. Tubuhmu seakan-akan ingin ambruk seketika melihat sosok yang seharusnya tidak (asing) di matamu. Sosok yang seharusnya kau sapa denga riang, sosok yang seharusnya kedatangannya kau peluk.

 

Tapi,  kau tidak melakukan itu bukan ? kau memutar arah, tidak jadi masuk ke rumahmu sendiri, lantas kau menyembunyikan diri ke sebuah ruangan. Sayangnya, pamanmu melihatmu, dan langsung menyuruh dengan sedikit memaksa bahwa kau harus lekas menemui sosok itu, menundukan hormat padanya. Kau diam saja, lantas menatap lantai dengan pasrah, pertahananmu seakan mulai porak-poranda. Dengan langkah yang kau buat seolah tegar, Mama sudah menunggu di depan pintu, membisikan sesuatu agar lekas kau menemuinya, sosok itu.

 

Kau menutup pintu kamar, rumahmu sedang riuh, besok adalah pernikahan saudara perempuanmu. Di kamarmu yang telah disulap menjadi kamar pengantin saudaramu, kau merebahkan tubuh di lantai, memeluk bantal kau menumpahkan air mata. Terisak, seperti anak kecil.  kau mencari Tuhan pada air matamu, pada hampa yang menyingahimu hari ini.

 

Banyak orang yang silih berganti menyalahkan sikapmu hari ini, kau dianggap tidak tahu diri, sombong atau bahkan durhaka, kau pilih kasih, kau tidak menerima kenyataan. Segala macam nasehat telah mereka muntahkan ke tubuhmu, kau diam saja bukan ? bahkan Mama yang ingin kau ajak bicara sejenak, justru meninggalkanmu dengan perasaan yang menyakitkan, Mama membanting pintu, jantungmu hancur berkeping-keping.

 

kepedihan macam apa yang tidur di hatimu saat ini ?

Orang-orang mendadak berubah menjadi menyakitkan, kau mengurung diri di kamar, tidak makan seharian, dan menghabiskan air mata terlalu banyak. Matamu yang indah sekarang berubah buruk,

 

 kenapa kau menangis ?

 

“ Tuhan, aku tidak tahu kenapa aku sedih, aku ingin terus-terusan menangis, aku bahkan tidak bisa membedakan mana perasaan marah dan perasaan bahagia, inilah yang paling menyakitkan, kesedihan yang ditangiskan tetapi tidak tahu alasannya.  Orang-orang saling berebut menyalahkan sikapku, padahal bukan itu maksudku. Orang-orang hanya salah menafsirkan air mataku yang tumpah, orang-orang terlanjur salah paham, mereka tak mengerti apa isi hatiku “

 

Begitukah, suara hatimu ?

 

 saat-saat seperti ini aku ingin memelukmu lebih lama lagi, menyandarkan kepalamu di bahuku, menghapus air matamu berkali-kali. Aku akan diam , mendengarkan semua keluh kesahmu, rasa yang tidur di alam bawah sadarmu. Aku juga ingin mengumpulkan mereka dan mengatakan apa yang tunjukan sebenarnya bukan karena kejahatan,sikapmu yang ini tidak serta merta meledak begitu saja, tetapi refleks alam bawah sadar. Sesuatu yang rumit untuk dilukiskan.

 

 kau akan cantik besok , tapi matamu sudah berubah sembab sekali, kau sedih kau berusaha berbicara tetapi tidak ada yang berusaha mengerti bahwa sebenarnya kau kehilangan kemampuan verbalmu bahkan untuk sekedar mengucapakan banyak hal. Kau juga ingin bersikap baik, apalagi sosok itu sudah tak muda lagi, ia pernah mempertaruhkan hidup dan matinya hanya untuk mengelurakan tubuh lemahmu dari rahimnya. Rasa sakit yang akan kau mengerti ketika kau melahirkan nanti.

Kau ingin memeluknya, bertanya apa kabar ? atau bersikap manis, seperti seharusnya. Tetapi entah kenapa, setiap kali melihat sosoknya kau selalu menumpahkan air mata.

 

 

Sajadah adalah tempat peraduan paling indah

Mengadulah, semoga Tuhan memelukmu lebih hangat.