Bicara Tentang aku Yang Ingin Menenggelamkan Diri Di Samudera.

 

Nelangsa sekali, jika selama ini saya begitu takut dengan kematian yang seperti mengetuk-ngetuk pintu rumah saya. Saya sangat takut dengan Malaikat Izrail yang bisa mengunjungi siapa saja. Tetapi terkadang, bahkan seringnya saya begitu merindukan kematian. Bila saya mati, apakah orang-orang akan menangisi kesedihan saya, mengoyang-goyangkan tubuh saya yang kehilangan nyawa. Lantas orang-orang berteriak parau memohon-mohon agar saya hidup kembali. Ataukah, justru orang-orang merasa tidak peduli jika saya mati nanti. Hanya terkejut kemudian kembali menjalani rutinitas tanpa ada bekas-bekas kesedihan.

Kematian, adalah kompilasi dari banyak hal. Kalau tidak ada kematian atau tidak ada sesuatu yang mati, barangkali dunia ini sudah rusuh dengan penduduk bumi yang kisruh. Tetapi di sisi lain, orang-orang tidak menginginka kematian orang terdekat, sebatas mereka belum siap memakan mentah-mentah apa itu kesedirian. Apa itu terjebak adalam nostalgia yang manis yang berubah jadi rindu yang berdarah-darah.

Dalam benak , saya selalu ingin mati dikelililngi orang-orang terkasih, sebelum mati barangkali saya bisa memanggil sang Maha Cinta sebanyak yang saya bisa, menyebut-nyebut namanya di sela-sela nafas yang sudah satu, dua, tiga.

Perihal hidup, ah apa sih hidup itu ?

Hidup saya selalu di isi oleh perang-perang besar, perang yang tak kunjung selesai, karena saya berperang melawan diri saya sendiri. Saya yang begitu ceroboh, begitu tidak menyenangkan karena banyak yang membenci saya, banyak yang tak menyukai sikap saya, banyak yang tak menyukai kehadiran saya. Jauh sebelum itu, jauh sebelum mereka melukai dan tidak menyukai saya, atau bahkan saya yang melukai mereka. Tepatnya, saya selalu ingin menghilang, saya selalu ingin berkali-kali menghilang karena malu, malu pada banyak hal.

Ada banyak hal yang membuat saya ingin menghilang, bukan karena saya ingin melarikan diri dari realitas,, buka karena saya kalah dengan kenyataan yang lebih banyak membingungkan. Tapi, karena saya ingin belajar mencintai sang Maha Cinta, saya kesal dengan kehidupan dunia yang semakin hari membuat saya ingin menabrkan diri ke truk yang sedang melintas, tetapi untungnya keinginan untuk mati tidak pernah mendorong saya benar-benar melakukan tindakan bodoh : Bunuh diri.

Orang-orang bilang bunuh diri adalah mematikan diri, sengaja betul menghentikan nafas, sengaja betul melarikan diri dari kehidupa dunia. Tetapi, nyatanya kita manusia di dunia ini terkhusukan saya telah melakukan bunuh diri setiap hari. Betapa saya selalu membuang-buang waktu untuk hal-hal remeh, betapa saya lebih banyak tidak bergunanya.  Dan yang paling menyebalkan adalah saya belum menemukan titik kesejatian saya, saya seperti orang mabuk yang terus berusaha sadar, misalnya betapa menyakitkan jika saya sedang melakukan monolog kepada diri saya sendiri, yang hampir setiap malam saya lakukan.

” Berdiri sebagai apa,berfungsi seperti apa, dan berperan seperti apa ”

Lalu saya menutup muka dengan bantal. ah kesal sekali betapa saya belum mencapai apa yang seharusnya saya capai. Belum bekerja apa yang seharusnya saya kerjakan. Kesal. Kesal.

Di tulisan saya yang ini, saya ingin memarahi diri saya sendiri. Sekaligus berterimakasih karena sudah berusaha sekuat.

 

Monolog Marah :

Di sebuah cermin, ada bayangan seorang perempuan, tiba-tiba saja setelah sekian menit ia memandangi dirinya, ia menangis sedih. Air matanya tumpah melambat, matanya sudah memerah. Demi Purnama di bulan Juli, apakah yang sedang ia tangiskan ? wahai perempuan yang alis matanya konon dapat menyembunyikan kegetiran yang berusaha ia lumatkan. Dia menghapus air matanya, kemudian menumpahkanya lagi, menghapus lagi, tumpah lagi. O, Majnun yang terasing bisakah kau jelaskan mengapa perempuan ini begitu terlihat sendu ? Rupanya, perempuan ini sedang menangisi kenyataan yang terkadang membuat ia terjatuh berkali-kali, kakinya terluka, hampir sobek dan bernanah. Perempuan itu makin tersedu-sedu, ia  teringat akan mimpi anehnya dimana ia pernah bertemu dengan dirinya. Sekarang perempuan itu. terdiam lama sekali, dikamarnya dengan penerangan yang redup, ia malah sengaja mematikan lampu. Kemudian menyalakan lilin, filosofi yang ia pegang kuat-kuat, maknanya agar ia dapat melihatkebaikan di dalam kegelapan.

Tadi perempuan itu menangis, sekarang ia marah sambil memukul-mukul lantai, tanganya tak sakit. Pernah menjadi atlet bela diri membuat tulang-tulangya sudah terbiasa dengan pukulan. Tapi tangisannya tak kunjung berhenti, bahkan tak anggup memadamkan api lilin yang tak tega dan ingin segera mati. O, Demi Neptunus di laut sana, apakah yang membuat perempuan ini marah ? Iya, ternyata perempuan ini marah pada dirinya sendiri ia marah karena selama ini ia telah membuang-buang kesempatan untuk menjadi perempuan baik. Ia, teringat wajah-wajah orang-orang yang berkorban sedemikan dahsyat. terutama Mamanya, mama yang sekarang telah menua. Dia mematikan lilin, perempuan itu berhenti menangis. Dan

D.i.a.m.e.l.i.h.a.t.M.a.h.a.c.i.n.ta.d.i.m.a.na.ma.na

Monolog terimakasih:

Selembar kertas, ia melipat sedemikan cepat. Perempuan itu melakukan tradisi melaporkan kabar pada neptunus dewa laut. Perahu kertasnya berlayar, anggun. Perempuan itu menatap langit subuh, sepagi ini ia sangat ingin memeluk apa saja, ia bahagia sekali karena rentetan peristiwa telah membuat ia belajar akan banyak hal. Ia merasa bahagia, atas apa saja. Segala sakit perih, segala rasa bahagia yang sangat tipis dengan tangis malamnya.Ia mendadak amat bahagia, bahagia sekali. Orang-orang tidak mengerti. . . ia bahagia sekali.

Dia menggengam, entah apa. Mendadak potongan lagu sebelum cahaya berputar..

“Gengamlah tanganku Cinta”

Terpelanting.

Bug

Bug

Bug

Barangkali aku sering mengutuk diriku sendiri atas banyak hal yang aku pilih secara serampangan, memberantakan beberapa hal dalam hidupku. Memikirkan hal-hal remeh yang seharusnya tidak aku pikirkan. Akhirnya aku gila sendiri,

Lilin di kamarku bergoyang, saya memeluk lutut. Orang-orang di sekitar kita banyak yang merasa hidupnya terasa begitu menyakitkan, merasa tidak beruntung dan penuh masalah. Iya, ini termasuk saya , yang barangkali blogku ini berisi keluhan-keluhan sampah, tulisan-tulisan dunia mayaku berisi sampah juga, aihh kapan aku dewasa ? dewasa dalam cara berfikir.Baik dalam cara berfikir.

Pause.

Jadi, aih Hidup, taukah kamu ? sebegitu menyakitnya toh saya bisa melalui, walaupun yang pasti saya pernah melakukan kesalahan. Barangkali, dari masalah yang menerpa, ada sebuah hakikat yang harus terus saya pahami, yaitu : “memaafkan diri”

Pause.

Jadi, maksud saya apa menulis semua ini ?

” S.a.y.a s.e.d.a.n.g.m.e.n.a.t.a.d.i.r.i :”

semacam muhasabbah,agar saya terus bergerak sebelum semuanya terlambat ! soal apa yang akan terjadi kedepannya, resiko-resiko yang berupa bonus, saya akan mengumpulkan kekuatan untuk mengatasinya.

 

Selamat ulang tahun Liana, sekarang tersenyumlah, damailah, tegakklah ke langit luas, pejamkan matamu. Semua orang-orang baik berkumpul di sekitarmu…. Lepaskanlah… yang lebih baik semoga akan datang.

Semua rasa sakit, bertahun-tahun yang saya  tangisi sekarang hanyalah kenangan, semacam ingatan yang bisa di tertawai.