Suatu hari di Palestina.

 

“ Saya mohon jangan membawa anak ini ! “ mataku memerah, berusaha mengendalikan intonasi suara, agar tak terkesan teriak-teriak. Kalau aku kasar sedikit saja, maka bisa jadi semua ini berantakan. Bocah laki-laki yang sedang kubela terus memojokan diri di tembok, menumpahkan air mata. Aku berdiri tepat di depannya, berusaha berbicara sebaik mungkin pada tentara Israel yang keras kepala. Tentara israel tetap saja menarik-narik lengan bocah di belakangku, aku pegangi anak ini kuat-kuat. Biarlah, jika aku harus mati di tangan tentara bodoh ini. Beberapa laki-laki ikut membantuku, mereka berusaha  mendiskusikan agar ketiga tentara ini berbaik hati memaafkan bocah di belakangku. Beberapa menit kemudian Gie datang dengan wajah panik, ia tahu apa yang terjadi.

“ Saya tidak akan membiarkan anak ini pergi, jangankan anak ini satu sekolah ini akan saya lindungi dengan darah saya ! “ kata Gie lantang. Tentara Israel terdesak, warga sipil banyak membantu kami agar tentara Israel tidak meyeret paksa bocah yang sedang tersedu-sedu ketakutan. Beberapa menit kemudian, tiga tentara itu mundur. Berjarak tiga puluh langkah dari tempat kejadian, saat diriku baru saja bernafas lega dengan Gie, gas air mata meluncur. Kami semua refleks menutup mata dan berlari kecil, mataku pedih.

***

Malam hari, saat langit hampa tanpa Bintang dan Rembulan. Aku dan Gie duduk diam di depan pengungsian,

“ Matamu masih perih  ? “ tanya Gie

Aku mengelengkan kepala, sambil tersenyum.

“ Kau mungkin kaget, biarpun kita sudah akrab dengan gas air mata tapi sepanjang kita berdemo bersama di jalan, kau tidak pernah aku biarkan terkena gas air mata. M-a-a-f  tadi aku terlambat melindungimu “ lirih Gie,

“ Justru aku berterimkasih, aku jadi tahu rasanya gas air mata. Seorang Demonstran belum lengkap jika belum tahu rasa pedihnya gas air mata “ aku menjawabnya sambil terus tersenyum.

“ Anak-anak kita yang malang “

“ Gie, tentara itu bodoh sekali ya ? “

“ Ya dan mereka adalah kumpulan pecundang “

“ Hahaha !! mereka melemparan gas air mata, mereka tidak berfikir ? air mata anak-anak kita adalah gas air mata itu sendiri. Kenapa mereka memancing air mata keluar dari mata anak-anak kita, bukankah tidak di lempar gaspun, anak-anak kita sudah fasih betul mengeja rasa yang berkecamuk membuat mereka menitihkan air mata saban hari .. “

“ Kau benar, seharusnya gas air mata itu mereka ledakan dekat mereka sendiri. Agar mereka tahu rasanya kehilangan, rasanya tidur tidak nyaman, rasanya di sakiti, rasanya tertindas “

“ Mereka bodoh “ ucap aku dan Gie serempak.